Saturday, September 26, 2009

Bila Penulis Surat Pembaca Dikejar Macan !


Surat pembaca dikirimkan ke Harian Suara Merdeka, 27 September 2009


Meminta penghargaan. Isu mengenai “tuntutan” adanya penghargaan bagi penulis surat pembaca, muncul lagi. Terakhir hal itu diungkap oleh Muh. Mahfudin asal Kebumen di kolom “Surat Pembaca” harian Suara Merdeka, 25/9/2009 yang lalu.

Ia mengaku sebagai seorang penulis surat pembaca pemula, yang juga berkata bahwa tanggapan pembaca melalui email untuknya ikut pula mendorong motivasi dirinya untuk terus menulis.

Isu di atas mengingatkan saya akan ujaran Putu Wijaya, sastrawan terkemuka Indonesia. Ketika di tahun 80-an, saat saya masih belajar di Universitas Indonesia di Rawamangun, saya mengikuti ceramah sastra di arena pekan buku Indonesia di Balai Sidang Jakarta. Sastrawan dan dramawan asal Tabanan Bali itu berkata bahwa ada dua jenis penulis di dunia ini.

Pertama, mereka yang dikejar macan dari dalam, dan yang kedua, penulis yang diuber macan dari luar. Macan dari dalam adalah keinginan utama untuk berekspresi, menyuarakan hati nurani, memperkaya khasanah ilmu pengetahuan kepada dunia. Sementara macan dari luar adalah tuntutan untuk memperoleh imbalan, berupa materi. Kedua jenis penulis itu juga termasuk penulis surat pembaca.

Sebagai penulis surat pembaca sejak 1973, saya berusaha menapaki jejak sebagai penulis jenis yang pertama. Karena saya berkeyakinan, menulis itu pahala terbesarnya tercurah pada diri saya ketika saya sedang menulis itu pula. Reward is in the doing.

Ada pengembaraan yang mengasyikan ketika mampu meloncat dari ide satu ke ide lain, menabrakkannya, atau mensintesakannya, sehingga menjadi sebuah tulisan. Ada ekstasi, rasa mabuk yang nikmat seperti memperoleh anugerah dari Sang Maha Kuasa ketika tulisan itu selesai.

Sedang bila kelak dapat dimuat, itu hanya bonus. Bila tak dimuat di koran, kini saya dapat memajangnya di blog. Bila tulisan itu dibaca atau ditanggapi oleh orang lain, itu juga hanya bonus semata.

Alat pemerasan. Kalau saya menulis surat pembaca dengan tujuan untuk memperoleh penghargaan, baik itu materi, uang sampai tanggapan, pastilah saya sudah berhenti menulis sejak puluhan tahun yang lalu. Walau akhir-akhir ini saya menengarai adanya surat-surat pembaca yang patut diduga sebagai alat untuk melakukan pemerasan terhadap sesuatu perusahaan yang kiprah bisnisnya di daerah abu-abu.

Terakhir, ketika menjadi finalis Lomba Karya Tulis Teknologi dan Telekomunikasi Indonesia(LKT3I) III/1999 di Jakarta yang diselenggarakan oleh PT Indosat, saya memperoleh asupan hikmah dari mantan Hakim Agung, Bismar Siregar.

Beliau bilang, bahwa “setetes tinta dari seorang penulis itu lebih mulia dibanding darah yang tertumpah dari seorang syuhada." Ucapan itu berasal dari seorang ulama klasik, Ibnul Qayim Aljauziyah.

Hemat saya, moga-moga ucapan ini dapat didengar para pengikut Noordin M Top yang berjihad dengan bom dan aksi kekerasan, juga oleh rekan-rekan penulis surat pembaca yang menulis dengan motivasi ingin memperoleh penghargaan.


Bambang Haryanto
Pendiri Komunitas Epistoholik Indonesia
Wonogiri 57612


beha

No comments:

Post a Comment