Sunday, February 11, 2007

Wonogiri Dalam Kolom Surat Pembaca

Photobucket - Video and Image Hosting

Pengantar : Sebagai seorang epistoholik, atau pencandu penulisan surat pembaca, beberapa kali kota Wonogiri menjadi subjek tulisan saya. Di bawah ini tersaji 10 judul surat pembaca saya dan isi detilnya terdapat di bagian bawah halaman ini. Selamat membaca.

Anda pun kami undang pula untuk ikut membangun kota kita, antara lain juga dengan menulis surat-surat pembaca di media massa. Terima kasih. (BH).


Perpustakaan di Wonogiri
(Kompas Jawa Tengah, Rabu, 8 November 2006)

Parodi Parade Penjor
(Kompas Jawa Tengah, Sabtu, 2 September 2006)

Kirab 1000 Komputer
(Kompas Jawa Tengah,Kamis, 13 April 2006)

Hutan Plastik Jadi Wajah Kota Kita
(Kompas Jawa Tengah, Senin 11 April 2006)

Promosi Perguruan Tinggi Yang "Unik"
(Kompas Jawa Tengah, Jumat, 10 September 2004)

Polusi Sampah Di Wonogiri
(Kompas Jawa Tengah, Selasa, 7 September 2004)

Bonus Rokok di Tiket Olahraga
(Harian Kompas Jawa Tengah, Jumat, 20 Agustus 2004)

Nasib Perpustakaan Umum di Wonogiri
(Kompas Jawa Tengah, Senin, 16 Agustus 2004)

Kontes AFI di Perpustakaan Wonogiri
(Harian Kompas Jawa Tengah, Selasa, 13 Juli 2004)

Menggojlok Caleg Model Wonogiri
(Harian Solopos, Jumat, 4 Juni 2004)

============

Perpustakaan di Wonogiri
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah
Rabu, 8 November 2006


Sekolah masa kini bukan lagi ibarat Matahari dan para murid sebagai planet-planet yang mengelilinginya. Para guru dan orang tua juga bukan satu-satunya sumber bagi mereka untuk memperoleh pengetahuan dan kearifan. Wawasan ini menyelinap ketika menyaksikan pelajar Wonogiri pada hari pertama masuk sekolah sesudah Liburan Lebaran. Hari itu, sesudah ritus halal bihalal, jam belajar ditiadakan, dan murid-murid pun diijinkan pulang.

Sebagian dari mereka berbondong-bondong menyerbu pasar swalayan. Ada juga yang nongkrong-nongkrong di pasar. Setahu saya untuk kota sebesar Jakarta pada setiap kompleks pertokoan telah dipasang pesan yang melarang pelajar berseragam untuk keluyuran di pusat-pusat perbelanjaan tersebut. Saya tidak tahu mengapa larangan yang sama tidak diterapkan di Wonogiri.

Yang kiranya boleh saya menduga, mereka menyerbu pasar swalayan karena sebagai satu-satunya tempat yang menarik. Mereka bisa melihat barang-barang bagus, sekaligus bisa melambungkan impian untuk bisa memilikinya. Di tempat berpendingin itu impian-impian mereka memperoleh rumah yang nyaman. Celakanya, hanya impian sebagai konsumen.
Sementara impian sebagai kreator, produsen, mungkin tidak memiliki tempat untuk subur berkembang. Baik di kelas, di rumah, di ruang-ruang perpustakaan sekolah atau umum, juga tidak bergejolak di lapangan-lapangan olah raga. Mereka tidak betah di sana.

Apalagi fasilitas umum untuk mengembangkan intelektualitas, bakat seni dan bakat olahraga di kota kecil Wonogiri, nampak belum mendapat perhatian yang berwenang secara memadai. Tidak hanya menyangkut bangunan fisiknya, tetapi terutama muatan kegiatannya yang mampu menarik generasi muda.

Perpustakaan umum Wonogiri hadir dengan ruangan seadanya, lebih banyak lengang karena lokasinya dipencilkan, berada di luar lalu lintas ramai para pelajar. Wonogiri konon tinggal satu-satunya kabupaten di Jateng yang tidak memiliki mobil/perpustakaan keliling. Warung Internet satu-satu berguguran. Sementara aktivitas anak muda justru cenderung dikooptasi birokrat hanya sebagai barisan pion guna meraih prestasi-prestasi semu yang tidak ada nilai-nilai edukasinya yang tinggi.

Mungkin itulah penyebab mengapa Wonogiri masih termasuk daerah tertinggal dalam hal pembangunan sumber daya manusia. Apalagi, otak-otak terbaik asal daerah ini lebih suka berkiprah di kota lain. Bahkan tidak jarang, mereka pun malu untuk mengaku sebagai wong Wonogiri. Dari mana harus mulai untuk bisa meretas lingkaran setan seperti ini ?


Bambang Haryanto
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri
Warga Epistoholik Indonesia

==========

Parodi Parade Penjor
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah,
Sabtu, 2 September 2006


Manajer MURI, Paulus Pangka, pernah setengah mengeluh karena rekor-rekor yang diajukan ke lembaganya kebanyakan hanya bertumpu pada pencapaian prestasi yang bersifat superlatif. Rekor-rekor superlatif itu seperti X terpanjang, Y terbanyak sampai Z terbesar dan sejenisnya.
Menurutnya, rekor semacam itu seringkali tidak unik, tidak berkelas dunia, karena mudah sekali untuk dipecahkan oleh fihak lain. Kasarnya, selama UUD (ujung-ujungnya duit) ditegakkan, maka membuat rekor atau menumbangkan rekor MURI semacam itu menjadi hal yang mudah sekali dilakukan !

Rekor-rekor kelas superlatif dan menjunjung tinggi “UUD” itulah yang kini digandrungi unsur-unsur birokrat pemerintah daerah. Mereka getol memobilisasi massa, mungkin dengan unsur setengah paksaan, terkait acara seremonial seperti HUT Kemerdekan atau Hari Jadi Pemda/Pemkot, dengan mengadakan acara-acara artifisial untuk tujuan meraih rekor MURI.

Sebuah kabupaten di Jawa Tengah pernah mengadakan acara Kirab 1000 Keris, pesertanya membeludak hingga lebih dari 2000. Tetapi konon dari cek acak tim MURI ternyata banyak peserta yang terdiri para pelajar itu membawa keris-keris palsu (birokrat sengaja mengajarkan budaya dusta atau perilaku korup pada generasi muda ?), mengakibatkan piagam MURI batal diserahterimakan. Acara artifisial yang sungguh memboroskan moral dan material !

Dalam memperingati HUT Kemerdekaan RI, jajaran birokrat kabupaten yang sama baru saja mengadakan acara pawai/parade umbul-umbul (bahasa Balinya penjor), juga dengan semangat untuk meraih Piagam MURI. Mereka memobilisasi para pelajar lagi. Adakah makna penting dari fenomena bambu-bambu berujung bengkok, berhias kain warna-warni itu, sehingga harus diparadekan oleh generasi muda kita ?

Saya teringat lelucon pengamat ekonomi Hartoyo Wignyowiyoto yang berlidah tajam dan cerdas itu. Dalam acara televisi di masa Orde Baru ia berkata bahwa budaya Indonesia dapat diibaratkan sebagai sosok penjor atau umbul-umbul itu. Karena selama ini di Indonesia, katanya, mereka yang bengkok-bengkok selalu berada di atas, selalu dihormati, juga dielu-elukan, sementara mereka yang lurus dan di bawah, justru dikubur dan selalu dibenamkan !


Bambang Haryanto
Pemegang Dua Rekor MURI
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri 57612
Warga Epistoholik Indonesia
===========


Kirab 1000 Komputer
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah,
Kamis, 13 April 2006


Setelah wayang, tahun ini UNESCO menetapkan keris Indonesia sebagai maha karya dunia. Saya tidak tahu apa dengan alasan itu Pemkab Wonogiri (12/2) menyelenggakan ritus jamasan pusaka dan diikuti kirab 1.000 keris. Pelaku kirab adalah siswa SLTP/SLTA Wonogiri yang hanya berbaris pasif, tanpa seni happening, dengan masing-masing membawa sebilah keris.

Kirab itu berkesan hanya sebagai acara tempelan. Jauh dari praksis memberikan penyadaran atau edukasi. Karena sama sekali tidak ditunjang dengan kegiatan ceramah, diskusi, pemutaran film, lomba karya tulis sampai workshop pembuatan keris sebagai karya seni dan warisan budaya. Intinya, merupakan kegiatan edukatif menjauhkan generasi muda Wonogiri dari pemikiran gugon tuhon seputar keris yang kental berselimutkan aura mistis, misterius, yang disebarluaskan dari mulut ke mulut atau sinetron. Ingat kasus penipuan menyangkut jual-beli keris yang dianggap sakti dan bertuah yang menimpa seorang cerdik pandai asal Semarang.

Alangkah idealnya bila selain kirab 1.000 keris juga disertai kirab 1.000 buku favorit pelajar, sampai kirab 1000 komputer di Wonogiri. Generasi muda Wonogiri harus pula diajak untuk berorientasi ke masa depan. Kalau kirab keris hanya sebagai tempelan acara ritus jamasan pusaka yang disukai generasi-generasi tua, apalagi kental bernuansa aura mistis, generasi muda Wonogiri tidak memperoleh manfaat apa-apa.

Terutama dikaitkan dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia di mana menurut Menteri Negara Percepatan Pembangunan Daerah Tertinggal tanggal 7 Desember 2004 tersaji data pahit : dari 35 kabupaten/kota di Jawa Tengah ternyata Wonogiri termasuk sebagai daerah tertinggal. Ngelus-elus dan menjamas keris saja jelas tidak menyumbang perubahan apa-apa !


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri 57612
===========

Hutan Plastik Jadi Wajah Kota Kita
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah
Senin 11 April 2006


Film The Graduate (1970-an) yang dibintangi Dustin Hoffman dan Katherine Ross, menerkenalkan ucapan bahwa plastik adalah masa depan. Ramalan itu rupanya terbukti dewasa ini bila Anda agak jeli mengamati pemandangan kota-kota kita saat ini. Sobat saya E. Musyadad, seorang epistoholik dari Jombang melaporkan bahwa pohon-pohon plastik kini mewabah di Batu, Malang, Madiun dan Ponorogo. Di kota terakhir ini pohon beringinnya di alun-alun justru ditebang. Di jalan utama Sukoharjo dan Wonogiri (juga di depan rumah dinas bupati) pohon plastik itu mencolok kehadirannya.

Pohon plastik yang tidak ramah lingkungan itu telah menggantikan pohon beneran.
Bagi yang suka bertafsir-ria, warna pohon pinang plastik itu merepresentasikan warna parpol bupati dan wakil bupatinya. Di Wonogiri pohon pinang plastik itu batangnya berwarna kuning dan daunnya merah.

Rupanya para birokrat itu menilai pohon-pohon plastik ini sebagai aksesoris kota, dengan berbagai model lampu hias, akan enak dipandang jika malam hari. Namun jika siang hari sama sekali tidak ada manfaatnya bagi lingkungan kota yang mulai panas. Alangkah lebih bermanfaat bagi lingkungan hidup jika bukan pohon plastik yang tumbuh dan berdiri di tempat publik yang strategis tersebut.

Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia
Jl. Kajen Timur 72
Wonogiri 57612
===========

Promosi Perguruan Tinggi Yang “Unik”
Dimat di Harian Kompas Jawa Tengah,
Jumat, 10 September 2004


Setiap kali tahun akademi baru tiba maka pelbagai perguruan tinggi menempuh aneka cara dalam beriklan. Misalnya berpromosi lewat spanduk, baliho, iklan-iklan di media massa, selebaran, dan lain cara. Untuk beriklan lewat spanduk, kadang pada satu titik tiang pancang yang strategis, terpasang lebih dari empat spanduk perguruan tinggi. Pemandangan pun jadi riuh, ruwet, dan sangat disangsikan apakah promosi mereka sampai kepada sasaran.

Saya ingin memberi usulan untuk memperkaya jalur berpromosi yang tradisional di atas.. Yaitu, dengan mendirikan pos-pos layanan informasi yang permanen di pelbagai kabupaten. Strateginya, beberapa perguruan tinggi yang bersaing itu melakukan apa yang disebut coopetition, kerja sama sekaligus berkompetisi. Hal ini lajim dilakukan oleh pabrik-pabrik raksasa komputer.

Misalnya, ada 4 perguruan tinggi yang membidik calon mahasiswa asal Wonogiri, mereka dapat berpatungan membeli sebuah komputer. Masing-masing iuran Rp. 500 – 750 ribu, sudah dapat diperoleh komputer yang memadai. Komputer itu lalu disumbangkan ke Perpustakaan Wonogiri, fihak yang diajak kerja sama dan mendapat tugas untuk mengelola serta mengoperasikannya.

Perguruan tinggi sponsor yang bekerjasama tadi, kemudian tinggal bersaing dalam hal memasok CD-ROM ke perpustakaan tersebut dan menyelenggarakan acara penunjangnya. Dalam CD-ROM itu bisa dikemas informasi yang kaya dan mendalam tentang PT bersangkutan, termasuk kisah-kisah sukses para mahasiswa dan alumnusnya. Sokur-sokur yang berasal dari Wonogiri.

Kalau ada mahasiswanya yang berasal dari Wonogiri atau alumnusnya yang kini bertugas di Wonogiri, libatkan mereka dalam acara demo atau ceramah di perpustakaan yang dapat diagendakan sepanjang tahun. Puluhan topik dan kegiatan bisa dikreasi, baik mempromosikan minat baca, kiat menulis, ceramah kesehatan remaja, aneka lomba, dan promosi perguruan tinggi bersangkutan.

Kalau spanduk hanya berumur 1-2 minggu, pesannya pun terbatas, maka dengan adanya komputer akan dibukakan peluang-peluang baru bagi PT bersangkutan sepanjang tahun untuk mempraktekkan dharma ketiga PT, sekaligus menggalang interaksi yang edukatif dengan calon mahasiswa, mahasiswa, kalangan alumnusnya dan masyarakat luas. Selamat mencoba dan sukses untuk Anda !


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri 57612
=============


Polusi Sampah Di Wonogiri
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah,
Selasa, 7 September 2004


Kriminolog James Q. Wilson dan George Kelling menelorkan teori broken windows (jendela pecah) untuk menerangkan asal muasal epidemi tindak kejahatan. Mereka berpendapat, kriminalitas merupakan akibat tak terelakkan dari ketidakteraturan. Jika jendela sebuah rumah pecah namun dibiarkan saja, siapa pun yang lewat cenderung menyimpulkan pastilah di lingkungan tersebut tidak ada yang peduli atau bahwa rumah tersebut tidak berpenghuni.

Dalam waktu singkat, akan ada lagi jendelanya yang pecah, dan belakangan berkembang anarki yang menyebar ke sekitar tempat itu. Menurutnya, di sebuah kota, awal yang remeh seperti corat-coret grafiti, ketidakteraturan, dan pemalakan, semua setara dengan jendela pecah, ajakan untuk melakukan kejahatan yang lebih serius lagi.

Teori jendela pecah itu terjadi dalam hal pembuangan sampah di Wonogiri. Walau kota ini memiliki Perda No 5/1986 yang melarang pembuangan sampah ke aliran sungai, tetapi lihatlah timbunan sampah di tebing sungai di seberang SDN Wonogiri 8, Sukorejo, Wonogiri.

Sampah di area ini bakal terus menumpuk karena masyarakat juga nampak semakin hari semakin tidak merasakan bahwa perbuatannya itu sebagai suatu kesalahan. Timbunannya banyak berupa sampah plastik yang tidak bisa terurai dalam waktu puluhan tahun . Kalau sampah styrofoam, tak bakal terurai selama 500 tahun !

Siapa hirau akan ancaman polusi sampah ini ? Seperti biasanya, perilaku pemerintah dan masyarakat kita dalam menanggapi ancaman bahaya pencemaran lingkungan selalu cenderung tergerak bereaksi bila korban-korban keburu berjatuhan. Ingat nasib saudara kita di Buyat.

Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri 57612
=============

Bonus Rokok di Tiket Olahraga
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah,
Jumat, 20 Agustus 2004


Pengumuman aneh tertera di loket penjualan tiket kejuaraan bola voli yunior se-Jawa Tengah yang berlangsung di GOR Wonogiri, 7/8/2004 yang lalu. Tertulis harga tiket Rp. 3.000 dan pembeli dapat bonus sebungkus rokok. Saya batal nonton dan berpikir, bukankah pabrik rokok itu curang, melakukan dumping harga untuk mempromosikan produknya ?

Bukankah ini rekayasa bisnis tak etis, untuk produk yang berpotensi besar mengakibatkan kecanduan dan sekaligus membahayakan kesehatan ? Apalagi sasarannya anak-anak muda, di pentas yang tujuannya mempromosikan pentingnya kesehatan, yaitu ajang olahraga ?

Rokok, produk yang membahayakan kesehatan, tampil sebagai sponsor pertandingan olahraga sudah lumrah di tanah air kita. Modus serupa juga gencar dalam pertunjukan musik dan acara lain yang diperkirakan menyedot kehadiran anak-anak muda. Memang, anak-anak muda seumuran SMP-SMA kini jadi target utama produsen rokok. Sebab sekali mereka kecanduan rokok di usia rawan itu, kebiasaan buruk tersebut akan sulit hilang sampai dewasa atau meninggal di usia muda.

Peristiwa di GOR Wonogiri itu, dalam skala besar, mencerminkan pribadi bangsa kita yang terbelah. Kita adakan ajang untuk mempromosikan kesehatan, tapi sponsornya produk yang membahayakan kesehatan. Semakin banyak dibangun tempat-tempat ibadah, tetapi seperti kasus ramai di DPRD-DPRD, mereka pun tak malu berkorupsi secara berjamaah.

Kita mengaku mendukung reformasi, tapi sosok-sosok Orde Baru tetap berjaya di panggung. Gembar-gembor tak tergiur kembali terjun ke politik, tapi tetap glibat-glibet dan ngotot mengajukan RUU yang bertabiat sebaliknya. Mengaku harus netral dalam pemilu, tapi bukti VCD yang bocor ke masyarakat berkata sebaliknya pula. Itulah anomali kepribadian kita sebagai bangsa.

Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri 57612
Situs EI : http://episto.blogspot.com/
============

Nasib Perpustakaan Umum di Wonogiri
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah,
Senin, 16 Agustus 2004


Kebijakan Perpustakaan Daerah Jawa Tengah yang melayani pembaca sampai jam 8 malam, patut dipuji dan harus ditularkan ke pelbagai perpustakaan umum di pelbagai kabupaten di Jawa Tengah. Layanan semacam sudah saya nikmati di tahun 1970-an di Perpustakaan Wilayah Yogyakarta, ketika saya jadi pelajar STMN II di kota gudeg ini. Seharusnya juga buka di hari Minggu, seperti halnya perpustakaan umum di DKI Jakarta (Tanah Abang) yang sering saya kunjungi di tahun 1980-an ketika menjadi mahasiswa UI.

Dengan jam buka yang panjang, maka fungsinya sebagai wahana belajar ekstra bagi mereka selepas berkutat di sekolah/kuliah dan tempat kerja, menjadi terpenuhi. Perpustakaan manfaatnya minimal bila jam bukanya persis jam kerja pegawai negeri. Ini menyulitkan pemakai seperti pelajar/mahasiswa, guru, juga karyawan. Alangkah idealnya bila perpustakaan juga digagas jadi pusat aneka kegiatan sosial dan kreatif, baik olahraga atau pun kesenian bagi generasi muda kita dan masyarakat.

Berbicara bab perpustakaan, ada anomali di Wonogiri. Perpustakaan umumnya masih sederhana. Tempatnya tidak strategis, di pinggiran selatan kota. Padahal di pusat kota, sekitar gedung kabupaten terdapat beberapa gedung menganggur yang dapat dimanfaatkan. Pemda Wonogiri sepertinya tak punya selera serius untuk memikirkannya.

Tetapi di lain fihak, lihatlah, proyek pengadaan buku untuk perpustakaan Bapeda mampu mencapai Rp. 1.074 milyar dengan realisasi mencapai Rp. 1.063 milyar. Ketua Komisi B DPRD Wonogiri, Sugiarto, dalam sidang panitia anggaran bersama Bupati (Solopos, 24/4/2004) sempat mengajukan pertanyaan sengit : “Buku apa saja yang dibeli dengan alokasi anggaran sebesar itu ?”

Kita, sebagai rakyat, tak tahu apa pastinya. Ini sangka baik : mungkin PNS di Bapeda Wonogiri itu sudah canggih-canggih sehingga memang harus ditunjang koleksi perpustakaan yang muahal-muahal dan buanyak itu. Berbahagialah mereka, dan gigit jarilah rakyat yang mendamba perpustakaan umum di Wonogiri yang lebih memadai. Sebagai bandingan, sebuah kabupaten sesama eks-Karesidenan Surakarta dengan anggaran 600 juta berencana membangun perpustakaan umum yang baru dan megah. Kapan impian serupa mampu membumi segera di Wonogiri ?

Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia dan Suporter Perpustakaan Wonogiri
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri 57612
Situs EI : http.://episto.blogspot.com
==============

Kontes AFI di Perpustakaan Wonogiri
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah,
Selasa, 13 Juli 2004


Mirip mekanisme kontes AFI atau Indonesian Idol, Perpustakaan Umum Wonogiri menempuh kebijakan serupa yang patut dipuji, dengan memberi kebebasan kepada anggota dan pengunjung perpustakaan mengajukan pilihan buku yang diinginkannya untuk menjadi koleksi perpustakaan. Peluang untuk memilih buku itu terbuka di bulan Juni –Juli 2004 ini !

Oleh karena itu, kepada warga Wonogiri yang haus ilmu pengetahuan demi meningkatkan kualitas diri dengan gigih belajar terus tanpa henti, saya imbau untuk memanfaatkan peluang emas ini. Sebab seperti kata sejarawan dan filsuf politik Skotlandia, Thomas Carlyle (1795-1881), the true University of these days is a collection of books atau universitas sejati masa kini adalah perpustakaan, maka biasakanlah berkunjunglah ke perpustakaan yang berada di kompleks bagian depan GOR Wonogiri ini. Termasuk kali ini, silakan ajukan data buku yang Anda inginkan agar menjadi koleksinya dan suatu saat akan Anda reguk ilmunya.

Untuk pengadaan tahun anggaran 2005 mendatang yang memperoleh penekanan untuk dikoleksi adalah buku-buku bersubjek pendidikan dan kewiraswastaan. Anda dapat mengajukan buku bersubjek penting di atas bila kebetulan Anda sudah memiliki data bibliografinya (nama pengarang, penerbit, tahun terbit dan harga). Atau silakan memeriksa pelbagai katalog penerbit yang sudah tersedia di sana untuk membantu menentukan pilihan Anda.

Sementara itu, untuk warga Wonogiri yang sudah sukses dan kini merantau, tak ada salahnya Anda kini ikut berperanserta dalam pengembangan sumber daya generasi muda Wonogiri dengan menyumbangkan buku-buku untuk perpustakaan Wonogiri. Jangan lupa, tuliskan data nama Anda di buku tersebut, sehingga kami akan selalu mampu mengenang amal dan kebaikan Anda di dalam hati kami. Siapa tahu, suatu saat nanti kami akan meneladani perbuatan bijak dan mulia Anda tersebut. Terima kasih.


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia
Suporter Perpustakaan Wonogiri
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri 57612
===========

Menggojlok Caleg Model Wonogiri
Dimuat di Harian Solopos,
Jumat, 4 Juni 2004


Seorang jenderal yang pernah menguatirkan Pemilu 2004 akan berdarah-darah, sokurlah keliru. Di daerah saya, di TPS 18, Kajen, Giripurwo, Wonogiri Kota , Pemilu berlangsung aman, tertib, bahkan suasananya jadi lebih bergairah saat penghitungan suara caleg DPD terjadi.

Dimotori Mas Jito, yang KPPS dan seorang guru yang jenaka, ditimpali anggota PPS dan warga Kajen lainnya, membuat caleg-caleg DPD itu dibanjiri kado, yaitu beragam julukan. Sumber idenya dari foto-foto diri mereka yang mengundang rangsang untuk dikomentari secara cerdas dan jenaka.

Ada caleg gondrong, berpeci, dijuluki Wiro Sableng. Tapi ia tak sakti, muncul beberapa kali, lalu menghilang. Diganti tokoh Taksi Gelap, sebutan sinis untuk bekas pejabat yang sarat isu bahwa korupsinya waktu menjabat dipakai berbisnis taksi. Tokoh ini karismanya sudah jauh memudar.
Muncul kemudian tokoh yang fotonya memakai caping, memancing gojlokan sebagai Tukang Mancing. Sayang, pancingannya hanya teri saja di TPS kami. Yang mendapat suara banyak adalah tokoh kontraktor asal Semarang, yang konon royal menyumbangkan puluhan titik lampu penerangan jalan di Wonogiri dengan lampu merkuri. Ia yang pernah berkampanye di Wonogiri itu langsung dijuluki sebagai Kapten Merkuri. Ia cukup sakti, julukannya muncul berkali-kali.

Tetapi Kapten Merkuri tidak mampu mengalahkan tokoh tampan dan berkarisma, walau tak pernah berkampanye langsung di Wonogiri. Di fotonya, dia tampil beda : berbusana Jawa lengkap dan berblangkon-ria.

Dia adalah Sri Paduka Mangkunegoro IX. Tak pelak kado nama gojlokan untuk beliau muncul puluhan kali di TPS kami : blangkon, blangkon,blangkon,blangkon, blangkon.....

Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia
Jl. Kajen Timur 72 Wonogiri 57612
Situs EI : http://epsia.blogspot.com

Sunday, October 17, 2004

SAYA SUKA GADUHNYA DEMOKRASI
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, 16/10/2004


Kita kini memiliki pemerintahan baru. Tetapi bukan saatnya rakyat untuk tertidur dan baru terbangun lagi menjelang Pemilu 2009. Kita harus terus mengawasi jalannya pemerintahan. Rakyat harus terus melakukan kontrol, baik terhadap legislatif mau pun eksekutif. Beragam media, bahkan juga kolom ini, merupakan sarana ampuh kita dalam melakukan kontrol itu.

Melalui kolom ini Epistoholik Indonesia (EI) terus mengajak rakyat agar mau cerewet bila ada pemimpin yang melenceng, berperilaku tak sesuai hati nurani dan akal sehat kita. Mereka itu manusia biasa, walau satrio piningit sekali pun.

Apalagi seperti kata sosiolog dari Universitas Indonesia, Imam Prasodjo, manusia bila dikaruniai kekuasaan akan cenderung sangat mudah berubah, bahkan dalam hitungan tiap detiknya pun (!), dalam upayanya terus memanipulasi kekuasaan untuk keuntungan dirinya sendiri. Atau seperti kata cendekiawan Nurcholish Madjid, seorang pemimpin yang pada awalnya nampak suci, tetapi dengan berjalannya waktu dirinya selalu cenderung melakukan pembenaran atas apa yang ia lakukan untuk kepentingannya sendiri.

Seorang penyanyi rock Amerika, Bruce Springsteen, walau mungkin tak mengenal Soeharto, tetapi ia mampu memaparkan sepak terjang pemimpin Orde Baru yang seperti disinyalir Cak Nur di atas. Lirik lagunya Badlands antara lain :

Orang miskin ingin menjadi orang kaya
Orang kaya ingin menjadi raja
Dan raja tak akan berpuas diri
apabila tidak berhasil menguasai segalanya !

Oleh karena itu, di alam demokrasi rakyat harus terus cerewet. Terutama para mahasiswa. Sebab seperti kata James Buchanan, I like the noise of democracy , saya menyukai gaduhnya demokrasi. Kegaduhan satu ini jelas jauh lebih baik daripada tenang-tenang tetapi rakyat terus di bawah gencetan rejim yang represif, penuh ancaman, membuat demokrasi mati atau terkerdilkan !

Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia


--------------


GENDRUWO DI SEKOLAH KITA
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, 13/10/2004


Bill Cosby adalah komedian terkenal dan doktor pendidikan. Dalam salah satu lawakannya ia bilang, setiap gedung sekolah dasar selalu ada penunggunya, yaitu gendruwo yang misterius. Makhluk itulah dari tahun ke tahun mengajarkan kata-kata jorok, bernuansa kekerasan, dan mengipas-ipas kemarahan anak-anak sekolah dasar kita. Karena misteriusnya sampai-sampai kalangan guru tidak mengetahui wabah ini telah menyerang muridnya, sekaligus juga tidak mengetahui dari mana sumbernya.

Kiasan Cosby di atas sejalan dengan sinyalemen Ibu Frieda NRH, psikolog pendidikan dari Undip, yang mengatakan bahwa pendidikan kita penuh kekerasan (Kompas, 25/8). Apa solusinya ? Saya pernah membaca, sebuah sekolah dasar di Amerika Serikat mencoba menyuburkan kecerdasan emosional murid-muridnya lewat pelajaran melukis bebas. Setelah selesai, tiap-tiap anak diminta untuk memuji karya lukis teman lainnya. Tuntutan untuk memuji itu mendorong anak lebih mencermati obyek lukisan yang ia nilai, cerita yang dikandung, komposisi, warna sampai kesan yang mampu ia tangkap. Seluruh isi kelas tenggelam dalam suasana santai, banyak tertawa, saling berempati dan saling menghargai keunikan dan perbedaan tiap individu yang tercermin dalam karya lukis masing-masing.

Kegiatan ekstra lainnya, untuk tujuan yang sama, misalnya mengajak mereka mengunjungi panti jompo. Anak-anak itu membawa kucing atau anjingnya, yang kemudian dikenalkan kepada penghuni panti jompo. Mereka bercakap-cakap, dan membiarkan para lansia itu membelai-belai kucing atau anjing milik anak itu. Kunjungan ini dapat diulang pada minggu-minggu berikutnya. Atau mereka diajak ke panti-panti asuhan untuk membacakan cerita-cerita bagi anak sebayanya yang kurang beruntung.

Mungkin dengan cara seperti ini kita dapat mengurangi gangguan gendruwo-nya Bill Cosby atau cekaman atmosfir kekerasan yang diam-diam, tak teraba, begitu pekat berkabut di sekolah-sekolah kita.


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia


---------------


MENULISLAH DENGAN CINTA !
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, 11/10/2004


Surat kabar dan profesi kewartawanan pantas jadi etalase pentingnya keterampilan menulis. Oleh karena itu sangat dihargai diadakannya program pelatihan jurnalistik, seperti dilaporkan Aman Musthofan dari SMPN 2 Purbalingga di kolom ini (Kompas, 30/8) yang lalu. Tetapi pelatihan semacam juga menimbulkan bias. Kesan saya, keterampilan menulis lalu sepertinya hanya difokuskan untuk tujuan menulis artikel di surat kabar semata. Memang tidak keliru fatal. Tetapi mengingat persaingan untuk dimuat amat ketat, penolakan demi penolakan bagi penulis pemula dapat berakibat motivasi menulis mereka terancam patah arang.

Hemat saya, program pelatihan jurnalistik itu perlu diperkaya wawasan dan perspektif, terutama pemahaman bahwa keterampilan menulis dibutuhkan oleh beragam profesi. Dari antropolog sampai zoolog, membutuhkan keterampilan menulis. Dalam tahap awal tersebut yang penting ditanamkan, walau tidak mudah, adalah kecintaan untuk menulis dan terus menulis. Sepanjang hayat. Kalau kecintaan menulis sudah membara dan menggelora, maka mudah terjadi momen ajaib seperti disebut psikolog Joice Brothers sebagai bujukan untuk komitmen total. Dalam tahap ini hal hebat pun hadir : kita melihat solusi, menemukan cara dan sarana yang sebelumnya tidak tertangkap oleh perhatian kita. Keterampilan kita menulis tersebut mudah menemukan pelbagai kemungkinan untuk diaktualisasikan.

Sekadar contoh, ketika mahasiswa bisa menulis surat pembaca, dan dimuat, membuat saya mabuk jadi epistoholik (orang kecanduan menulis surat pembaca) yang makin kronis hingga kini. Walau sadar sejak awal bakal tidak dibayar, tetapi kecintaan itu berbuntut imbalan menyenangkan. Misalnya, agar tulisan tidak klise, hanya dijejali ide-ide kuno, secara otomatis kita jadi getol belajar dan membaca pengetahuan yang mutakhir. Bonus pun berlimpah. Dari banyak teman, diprofilkan di majalah dan termasuk, baru-baru ini, dilamar setengah paksa agar mau bergabung dalam perusahaan jaringan media.

Kisah nyata ini, hemat saya, klop dengan resep sukses yang dibeber Lee Silber dalam bukunya Self-Promotion for the Creative Person (2001) : focus on what you love and the money will follow. Jadi, mari menulis dengan cinta.


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia


--------------

SURAT PEMBACA, MEDIA EDUKASI
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, 7/10/2004


Kolom surat pembaca banyak digunakan untuk melontarkan kritik. Baik kritik terhadap layanan atau produk perusahaan, perilaku birokrat, dan pelbagai isu-isu lainnya. Biasanya kemudian fihak yang kena kritik melakukan klarifikasi, memberikan penjelasan. Di sinilah kolom ini menunjukkan manfaat yang besar bagi masyarakat, sekaligus sebagai cerminan dan perwujudan budaya demokrasi.

Agar kolom ini mampu memberi manfaat lebih besar lagi, saya usulkan agar pelbagai fihak, baik korporasi, partai politik, lembaga pendidikan, pemerintahan sampai lembaga swadaya masyarakat, tidak hanya memanfaatkan kolom ini secara reaktif atau hanya berupa reaksi ketika muncul kritikan kepada mereka. Melainkan manfaatkanlah secara proaktif, sebagai bentuk tanggung jawab dan keterlibatan sebagai warga negara.

Mereka dapat menganjurkan seluruh warganya menulis surat pembaca, guna membagikan ilmu dan opini. Tentu saja, motivasinya tidak bertujuan beriklan, menjual produk, berpromosi atau memuja-muji diri sendiri. Tetapi berbagi informasi, wawasan dan edukasi yang berguna bagi masyarakat.

Misalnya, sebelum pergantian musim, kalangan dokter/rumah sakit menulis surat pembaca tentang kiat antisipasi ancaman penyakit demam berdarah. Menjelang musim liburan tiba, para sopir menulis surat pembaca mengingatkan sejawatnya mengenai pentingnya perawatan kendaraan yang akan digunakan untuk wisata pelajar. Mahasiswa Jawa Tengah yang tinggal di Bandung misalnya, menulis surat pembaca untuk koran Jateng mengenai seluk-beluk mencari kost bagi pelajar yang akan berkuliah di Bandung. Pendek kata, surat pembaca yang memberikan solusi dan antisipasi.

Saya angankan, isi surat pembaca semakin berbobot, kaya perspektif, aktual, dan bertambah halamannya. Silakan tengok majalah luar negeri, misalnya Harvard Business Review atau Science yang prestisius, isi surat pembacanya mengimbangi bobot tulisan utamanya. Penulisnya bisa bos perusahaan besar, para profesor dan pemenang Nobel sekali pun. Sebagai epistoholik, realitas semacam itu merupakan impian yang indah. Mari kita jadikan impian itu menjadi kenyataan !

Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia

------------

KAYA BERKAT TUYUL
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, 4/10/2004

Ia tidak punya pabrik mobil, pabrik baja, atau pula pabrik komputer. Tetapi karena sinetron komedinya penuh canda dan tawa mampu menyedot jutaan penonton, maka ia pun terangkat menjadi milyarder. Penghasilannnya 180 juta dollar di tahun 1992. Itulah sosok Bill Cosby dalam The Cosby Show.

Apa rahasia suksesnya ? Dikukuhinya rumus universal komedi bahwa humor terbaik harus berlandaskan premis kebenaran dan harus relevan. Kita lihat Huxtable, istri, anak-anaknya, kakek, nenek dan lingkaran pergaulannya, semua sosok-sosok yang realistis. Obrolan mereka semua terkait dengan hidup orang banyak, sehari-hari. Semua keluarga melihat tayangan The Cosby Show ibarat berdiri di depan cermin dan melihat masing-masing anggota keluarga mendapatkan peran di sana.

Silakan bandingkan dengan tayangan komedi kita. Apakah konsepnya juga dilandasi premis kebenaran ? Untuk berambisi memancing tawa didatangkan gerombolan hantu, jin dan tuyul beragam ukuran, juga pemuda idiot, perempuan bergelimang lemak, sosok bogel disandingkan wanita jelita, bule mengasong rokok, menimba sumur atau kejeblos amben, atau dikotomi tindak-tanduk orang desa vs orang kota yang kentara banget dibuat-buat, artifisial.

Guru komedi terkenal Judy Carter bilang bahwa komedian sejati itu pribadi-pribadi aneh. Kalau sebagian besar orang berusaha menyembunyikan cacat dan kekurangan dirinya, tetapi komedian justru membeberkannya pada dunia. Maka, komedian-komedian dunia yang laris dan dicintai adalah mereka yang jujur, termasuk jujur memperolok dirinya sendiri. Sosok-sosok seperti itu di negeri kita boleh jadi diwakili oleh Ateng, Pak Bendot atau Darto Helem, yang semuanya kini telah almarhum.

Sisanya yang ada, ya yang seperti kita lihat di televisi-televisi itu. Tampil lawakan yang pelakunya saling melecehkan atau bermain komedi-komedi situasi dengan konsep yang tidak berlandaskan premis kebenaran dan kejujuran. Mungkin justru inilah potret paling nyata dari jati diri bangsa Indonesia, di mana untuk tertawa saja menunya semata kepalsuan dan kepalsuan.


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia

-------------

INTERNET DI SEKOLAH
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, 2/10/2004


Sekolah Menengah Atas Negeri I Solo baru saja meluncurkan situs webnya di Internet. Upaya maju ini pantas menjadi pemacu sekolah lain di Solo dan sekitarnya, walau pelbagai sekolah di Bandung sudah memulainya sejak 1998. saya berharap pendayagunaan Internet untuk pendidikan itu menghormati fitrah Internet itu sendiri.

Sebab bila pendekatannya masih tradisional, di mana guru atau penguasa pendidikan menjadi fihak yang superior, merasa paling tahu, maka hal itu hanya akan menyerimpung kedigdayaan Internet itu sendiri. Demikian pula pemanfaatan Internet hanya untuk menyerap informasi dari ratusan ribu situs web, nilai edukasinya pun tidak maksimal.

Hemat saya, pelajar kita, dari SD s.d PT, harus menjadi kreator, memproduksi informasi dan mengeksploitasi kelebihan Internet yang mendunia itu. Karena Internet ampuh sebagai sarana collaborative learning, misalnya bisa digagas ada sekelompok siswa membuat proyek pengajaran bahasa Jawa. Mereka mengajar secara interaktif untuk murid-muridnya, misalnya anak-cucu orang Jawa yang tinggal di Suriname, di Liuzhov Propinsi Guanxi China Selatan, Thailand Selatan, juga mereka yang tinggal di Jakarta atau Jayapura. Sementara kelompok lain mengajar bahasa Indonesia untuk murid-murid SMA di Australia, Meksiko atau Rusia.

Majalah TIME (5/1995) ketika memuat tulisan pemanfaatan Internet di sekolah sebagai revolusi pembelajaran, memberi contoh tentang guru Malcolm Thompson dari Sekolah Dalton di New York, ketika mengajarkan astronomi. Tujuh komputer di kelas itu secara real time menayangkan jagat raya hasil amatan teleskop Observatorium Palomar di California. Dengan bantuan piranti lunak, para murid diminta memilih tiga bintang dan menghitung kekuatan cahaya serta suhunya. Intinya : para pelajar itu tidak lagi belajar astronomi, melainkan mereka tampil sebagai astronom itu sendiri !

Menjadikan para pelajar sebagai pengajar, kreator dan menjadi pelaku aktif, merupakan metode terampuh guna memacu penyerapan mereka terhadap materi pelajaran. Metode ini jauh lebih menyenangkan, memorable, ketimbang metode suap dan hapalan yang merajalela di sekolah kita selama ini.

BAMBANG HARYANTO
Epistoholik Indonesia

---------------


PERGINYA LAYANGAN
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, 30/9/2004




Tanggal 8 September 2004 di warung soto Terminal Angkuta Wonogiri, kau menjadi bahan pembicaraan. Seorang berkata, Munir telah meninggal. Lainnya menyahut, ya, Munir yang banyak omong itu telah meninggal. Saya mencatat dialog jujur rakyat itu. Bagi awam, omongan atau isu tentang orang hilang, hak-hak asasi manusia (HAM), kebebasan pers, penegakan hukum, sampai superioritas sipil atas militer dan sejenisnya yang kau ungkapkan bertahun-tahun, memang mengesankan dirimu banyak bicara.

Banyak omong adalah kelebihanmu, senjata utamamu. Terutama di saat terlalu banyak orang bungkam, takut bicara hal-hal yang benar. Semua omonganmu itu tidaklah sia-sia. Selain omongan, di tengah angin perubahan dan banyak orang suka tiarap, kau juga menjadi teladan banyak anak muda. Seperti kata Hamilton Mabie, jangan takut terhadap deraan angin hambatan dan kesengsaraaan. Ingatlah layang-layang, yang membubung naik bila diterpa angin daripada bila terbang bersama angin. Itulah sosokmu. Selama ini, semakin angin keras menerpamu, terbang mu pun semakin meninggi.

Saya dan kita semua, sungguh tidak tahu rencana Tuhan. Tetapi kau telah dijemput kembali ke haribaan-Nya saat kau mengapung di atas mega-mega dalam penerbangan dari Jakarta menuju Belanda, mudah-mudahan itu pertanda baik. Bahwa Tuhan menyayangimu. Seperti halnya mereka-mereka yang selama ini telah tersentuh oleh mulianya niatmu, omonganmu, juga tindakanmu.

Saya secara pribadi tidak mengenalmu, tetapi ijinkan saya ikut berdoa semoga Tuhan memberimu tempat yang layak di sisiNya. Selamat jalan, Munir. Terbanglah sang layang-layang, dalam damai, menuju keabadian.


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia

--------------

MENULIS VS BERBURU PEKERJAAN
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, 21/9/2004


Kalau keterampilan menulis dianggap tidak menentukan hidup Anda, tanyakan pendapat bagian perekrutan pegawai di sesuatu perusahaan setelah mereka menyeleksi ratusan atau ribuan surat lamaran yang membanjiri kantornya. Jawaban yang umum mereka berikan pastilah keluhan : antara satu pelamar dan pelamar lainnya sulit dibedakan penampilannya secara tertulis. Calon yang potensial atau yang sebaliknya, semuanya menjual diri dengan format yang sama dan bahasa yang sama pula.

Mengapa demikian ? Karena mereka memang hanya menjiplak format-format surat lamaran yang telah ada. Mereka menjiplak, walau sudah lulus sarjana pun, karena keterampilan menulisnya memang menyedihkan. Akibatnya pun fatal. Oleh karena bagian perekrutan karyawan itu rata-rata hanya memerlukan waktu beberapa detik saja dalam memeriksa/menyeleksi sepucuk surat lamaran, maka dapat dibayangkan berapa banyak surat-surat yang bergaya seragam itu meluncur ke tempat sampah.

Realitas brutal dan tak kenal ampun yang terjadi akibat minusnya keterampilan menulis pada sumber daya manusia kita, adalah hukum besi yang tak mudah diiingkari. Pakar pemasaran legendaris, Al Ries dan Jack Trout, dalam bukunya Horse Sense : The Key to Success Is Finding a Horse to Ride (McGraw-Hill, 1991) pernah bilang bahwa pemasaran yang paling teramat sulit adalah pemasaran diri kita sendiri. Jadi. kalau pencari kerja menulis karangan biasa saja tidak mampu, dapat dibayangkan seperti apa kualitas sajian surat lamaran yang dalam ranah komunikasi bisnis senyatanya merupakan karya iklan, sekaligus surat promosi, yang bertujuan menjual diri penulisnya agar lolos ke tahap krusial berikutnya, tahapan wawancara !

Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia


-----------

NALAR YANG MASIH TIDAK GATHUK !
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, 18/9/ 2004

Sivitas akademika Universitas Sultan Agung (Unissula) Semarang pantas dipuji ketika menempuh kebijakan melarang segala bentuk iklan rokok di lingkungan kampusnya. Mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) di Purwokerto berdemo menuntut dicabutnya sarana reklame rokok dalam suatu kegiatan di kampus. Lebih hebat lagi, Universitas Petra Surabaya menetapkan larangan merokok di lingkungan kampusnya sejak pertengahan Agustus 2004.

Berapa banyak institusi pendidikan kita dan warganya berlaku cerdas seperti ketiga kampus tadi ? Tidak banyak. Banyak kepala sekolah atau rektor yang tidak merasa bersalah bila ring basket, bangku taman di lingkungannya, terpampang merek rokok. Tidak sedikit mahasiswa yang mengadakan kegiatan di kampus, turnamen olahraga misalnya, dengan alasan lebih mudah mencari duit sponsor maka dikirimi proposal utama adalah pabrik-pabrik rokok.

Realitas yang menyedihkan. Insan-insan cendekia kita itu begitu tertabrak upaya memperoleh uang, maka mudah saja terjadi apa yang disebut sebagai cognitive dissonance (CD), kesadaran yang tak nyambung. Demi uang, mereka seolah melupakan dampak bahaya yang ditimbulkan oleh rokok dan kebiasaan merokok yang mereka kampanyekan itu. Nalar rancu, tidak gathuk ini, dikuatirkan akan mudah berlanjut bila mereka telah terjun di masyarakat. Dengan berpendapat demi uang maka apa pun suara hati, suara kesadaran, boleh dipinggirkan. Ini benih korupsi, bukan ?

Nalar rancu itu tak hanya diidap oleh insan-insan kampus kita. Pada tanggal 19/8/2004, Presiden kita mengunjungi pasukan TNI-Polri yang bertugas di Aceh, di lembah Aloe Gintong, Kecamatan Jantho, Kabupaten Aceh Besar. Kepada para prajurit, seperti dilaporkan Kompas (20/8/04 :1), Presiden berpesan : “Jaga kesehatanmu dan berhati-hatilah dalam bertempur”. Berita yang sama telah dimuat di Solopos (20/8/04 :2) bertajuk : Di Aceh, Presiden bagikan rokok kepada prajurit.

Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia

-----------

PROMOSI PERGURUAN TINGGI YANG “UNIK”
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, 10/9/ 2004


Setiap kali tahun akademi baru tiba maka pelbagai perguruan tinggi menempuh aneka cara dalam beriklan. Misalnya berpromosi lewat spanduk, baliho, iklan-iklan di media massa, selebaran, dan lain cara. Untuk beriklan lewat spanduk, kadang pada satu titik tiang pancang yang strategis, terpasang lebih dari empat spanduk perguruan tinggi. Pemandangan pun jadi riuh, ruwet, dan sangat disangsikan apakah promosi mereka sampai kepada sasaran.

Saya ingin memberi usulan untuk memperkaya jalur berpromosi yang tradisional di atas.. Yaitu, dengan mendirikan pos-pos layanan informasi yang permanen di pelbagai kabupaten. Strateginya, beberapa perguruan tinggi yang bersaing itu melakukan apa yang disebut coopetition, kerja sama sekaligus berkompetisi. Hal ini lajim dilakukan oleh pabrik-pabrik raksasa komputer.

Misalnya, ada 4 perguruan tinggi yang membidik calon mahasiswa asal Wonogiri, mereka dapat berpatungan membeli sebuah komputer. Masing-masing iuran @ Rp. 500 – 750 ribu, sudah dapat diperoleh komputer yang memadai. Komputer itu lalu disumbangkan ke Perpustakaan Wonogiri, fihak yang diajak kerja sama dan mendapat tugas untuk mengelola serta mengoperasikannya.

Perguruan tinggi sponsor yang bekerjasama tadi, kemudian tinggal bersaing dalam hal memasok CD-ROM ke perpustakaan tersebut dan menyelenggarakan acara penunjangnya. Dalam CD-ROM itu bisa dikemas informasi yang kaya dan mendalam tentang PT bersangkutan, termasuk kisah-kisah sukses para mahasiswa dan alumnusnya. Sokur-sokur yang berasal dari Wonogiri. Kalau ada mahasiswanya yang berasal dari Wonogiri atau alumnusnya yang kini bertugas di Wonogiri, libatkan mereka dalam acara demo atau ceramah di perpustakaan yang dapat diagendakan sepanjang tahun. Puluhan topik dan kegiatan bisa dikreasi, baik mempromosikan minat baca, kiat menulis, ceramah kesehatan remaja, aneka lomba, dan promosi perguruan tinggi bersangkutan.

Kalau spanduk hanya berumur 1-2 minggu, pesannya pun terbatas, maka dengan adanya komputer akan dibukakan peluang-peluang baru bagi PT bersangkutan sepanjang tahun untuk mempraktekkan dharma ketiga PT, sekaligus menggalang interaksi yang edukatif dengan calon mahasiswa, mahasiswa, kalangan alumnusnya dan masyarakat luas. Selamat mencoba dan sukses untuk Anda !


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia

------------

SAMPAH DI WONOGIRI
Dimuat di Harian Kompas Jawa Tengah, 7 /9/2004

Kriminolog James Q. Wilson dan George Kelling menelorkan teori broken windows (jendela pecah) untuk menerangkan asal muasal epidemi tindak kejahatan. Mereka berpendapat, kriminalitas merupakan akibat tak terelakkan dari ketidakteraturan. Jika jendela sebuah rumah pecah namun dibiarkan saja, siapa pun yang lewat cenderung menyimpulkan pastilah di lingkungan tersebut tidak ada yang peduli atau bahwa rumah tersebut tidak berpenghuni. Dalam waktu singkat, akan ada lagi jendelanya yang pecah, dan belakangan berkembang anarki yang menyebar ke sekitar tempat itu. Menurutnya, di sebuah kota, awal yang remeh seperti corat-coret grafiti, ketidakteraturan, dan pemalakan, semua setara dengan jendela pecah, ajakan untuk melakukan kejahatan yang lebih serius lagi.

Teori jendela pecah itu terjadi dalam hal pembuangan sampah di Wonogiri. Walau kota ini memiliki Perda No 5/1986 yang melarang pembuangan sampah ke aliran sungai, tetapi lihatlah timbunan sampah di tebing sungai di seberang SDN Wonogiri 8, Sukorejo, Wonogiri. Sampah di area ini bakal terus menumpuk karena masyarakat juga nampak semakin hari semakin tidak merasakan bahwa perbuatannya itu sebagai suatu kesalahan. Timbunannya banyak berupa sampah plastik yang tidak bisa terurai dalam waktu puluhan tahun . Kalau sampah styrofoam, tak bakal terurai selama 500 tahun !

Siapa hirau akan ancaman polusi sampah ini ? Seperti biasanya, perilaku pemerintah dan masyarakat kita dalam menanggapi ancaman bahaya pencemaran lingkungan selalu cenderung tergerak bereaksi bila korban-korban keburu berjatuhan.

Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia


Thursday, September 02, 2004

GEMPA BUMI 10,5 RICHTER !
Dimuat di kolom Redaksi Yth – Harian Kompas Jawa Tengah, 2/9/2004


Di Bithoor, Uttar Pradesh, India Utara, ada layanan becak istimewa. Becak Internet. Bentuknya mirip kereta penjual roti kelilingan itu,tetapi yang diangkut di dalamnya adalah seperangkat komputer yang mampu mengakses Internet tanpa kabel dan berkecepatan tinggi. Seperti halnya perpustakaan keliling yang menggunakan mobil (di Wonogiri belum ada), becak Internet yang djuluki infothela (gerobak informasi) itu keliling dan mangkal di sekolah-sekolah atau balai desa. Tujuannya untuk meningkatkan pendidikan, akses informasi kesehatan dan pertanian, bagi penduduk di daerah pedesaaan.

India memang terkenal agresif mengenalkan rakyatnya manfaat teknologi informasi (TI). Kalau di Indonesia rakyatnya mengalir ke luar negeri untuk jadi TKI, sering jadi korban tindak kekerasan, pemerasan sampai pemerkosaan, di India justru pekerjaan dari negara maju yang mengalir kesana.

Dikenal dengan istilah outsourcing, beberapa perusahaan TI asal AS memindahkan sebagian unit kerjanya untuk dikerjakan oleh pekerja India secara jarak jauh. Kalau Anda menelpon perusahaan yang bermarkas di AS, yang bakal menjawab dan melayani Anda adalah orang India dan bertempat tinggal di India pula. Itulah contoh kelebihan dari TI, di mana kini orang bisa bekerja dari mana saja di belahan bumi ini.

Contoh lain, di Garut, seorang guru Deny Suwarja dan muridnya dari SMP Cibatu, juga aktif menggunakan Internet. Mereka dari desanya berkolaborasi dengan seorang guru, Chona L. Maderal dan muridnya dari Makati Science High School, Filipina, menggalang proyek bersama untuk dipresentasikan dalam Konferensi IV Asia Europe Classroom di Gromitz, Jerman, 27 September-1 Oktober 2004 mendatang.

Pak Deny yang hebat itu dan para muridnya setiap kali harus berkunjung ke warnet, yang jauhnya 6 kilometer dari desanya. Ujar beliau, seperti dikutip Kompas (30/7/2004) : kelak anak-anak akan banyak belajar sendiri dengan menggunakan Internet.

Betul, Pak Deny. Internet membawa perubahan dahsyat dalam pendidikan. Seperti kata begawan digital dari Massachusetts Institute of Technology (MIT), Nicholas Negroponte, Internet adalah gempa bumi berkekuatan 10,5 skala Richter yang mengguncang sendi-sendi ekonomi dan peradaban.

Tetapi seberapa banyak kalangan guru–guru di Jawa Tengah, sudah melek Internet ? Juga mampu secara proaktif dan produktif memanfaatkan keguncangan dahsyat yang sedang terjadi ini hingga dapat memberi manfaat besar bagi sekolah, siswa dan diri mereka sendiri ?

Kisah gerobak info dari India dan pandangan masa depan yang hebat dari Pak Deny Suwarja tadi, semoga mampu menjadi inspirasi bagi kita semua.


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia

------------


BANTAI KREATIVITAS ANAK KITA !
Dimuat di kolom Redaksi Yth – Harian Kompas Jawa Tengah, 31/8/2004



Sebagai mantan mentor melukis anak-anak, saya prihatin atas maraknya kegiatan seni lukis anak-anak yang tidak terkait dengan pengembangan kreativitas anak-anak. Kegiatan itu adalah lomba lukis anak-anak dan lomba mewarnai yang dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan acara non-seni, entah dikaitkan dengan peringatan hari nasional tertentu, peresmian gedung, perintah birokrat, ulang tahun perusahaan atau peluncuran produk tertentu.

Dalam pandangan pengembangan kreativitas anak-anak, lomba seperti itu berpotensi merusak kreativitas dan rasa percaya diri anak-anak. Apalagi hal itu terjadi dalam masa emas, masa-masa paling berkesan dalam hidup dan pertumbuhan mereka. Dampak negatifnya akan tergurat sepanjang hayat.

Aktivitas melukis yang seharusnya mendorong anak-anak berkreasi bebas, dalam lomba mewarnai mereka didorong untuk berkompromi. Mereka cenderung memberi warna sesuai patron, misalnya tokoh kartun yang ia kenal, gambar pemandangan yang bercorak realis, atau bahkan warna logo suatu produk atau perusahaan yang sudah baku. Tak tersisa lagi untuk pengembaraan imajinasi dan dorongan mencipta bagi mereka.

Dr. Ashfaq Ishaq dari ICAF (International Child Art Foundation) di AS menulis, di Indonesia terdapat 20 juta anak-anak (1998) yang beresiko besar terkikis habis daya kreativitasnya (risk of diminishing creativity) ketika bersekolah, pada usia 8-12 tahun.

Ia sebutkan, anak-anak itu ketika duduk di kelas 4 SD mengalami apa yang disebut sebagai fourth-grade slump, karena cenderung mulai berkompromi, tidak berani lagi ambil resiko, takut bermain-main ide dan luntur spontanitasnya. Cara pencegahannya adalah, dengan memaksimalkan usia sebelum 8 tahun untuk ditumbuhsuburkan daya-daya kreativitasnya secara benar.

Merujuk rekomendasi ICAF di atas, maka sungguh menyedihkan dan juga mengerikan betapa kita secara besar-besaran terus melakukan pembantaian terhadap daya-daya kreativitas anak-anak kita, justru sebelum mereka memasuki bangku TK. Sayangnya pula, fenomena kritis semacam tak pernah digubris oleh kalangan seniman, akademisi, mahasiswa seni rupa atau pun guru-guru seni rupa !


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia


---------------


SUKSES CARI KERJA A LA THREE MUSKETEERS
Dimuat di kolom Redaksi Yth-Harian Kompas Jawa Tengah, 24/8/2004


Sebagai pengunjung setia perpustakaan, saya sering mengamati anak-anak muda yang menyimaki iklan-iklan lowongan pekerjaan di pelbagai koran. Di antaranya banyak yang saling kenal, tetapi perilakunya nampak canggung ketika bersama, sepertinya saling gengsi untuk mengaku kalau mereka kini sedang menganggur dan mencari lowongan pekerjaan. Mereka seperti tak tertarik menggalang kerja sama atau menggalang network antarmereka.

Tabiat ini mungkin akibat pola pikir yang membekas saat mereka di bangku sekolah/kuliah. Sesama murid adalah pesaing yang berebut jadi nomor satu. Sikap mental individualis semacam, sejujurnya, justru tidak kondusif bila nanti dipraktekkan di dunia kerja yang mementingkan kerja tim. Juga sangat tidak menguntungkan diri mereka saat mereka berburu pekerjaan.

Konsultan strategi berburu pekerjaan Richard Lathrop dalam bukunya Who’s Hiring Who ? (1989) memberi nasehat : daripada bersaing, sebenarnya sesama pencari kerja dapat saling membantu. Bentuklah klub pencari kerja.

Tulus berbagi informasi, baik data diri dan lowongan. Tulis dalam kartu indeks, 12,5 cm x 7,5 cm, berisi data nama, alamat, data lulusan, pekerjaan sasaran, dan data penting lainnya. Satu kartu satu orang. Lebih baik sertakan fotokopi curriculum-vitae (CV) dan gambaran perusahaan yang diinginkan. Saling kontak lewat SMS atau e-mail, bila ada lowongan.

Dalam wawancara, kalau suasananya enak, jelaskan bahwa Anda juga siap memberikan informasi adanya pelamar yang mungkin dibutuhkan oleh perusahaan bersangkutan. Kalau peluang terbuka, sodorkan fotokopi CV rekan se-klub Anda.

Kunci sukses kerjasama dalam klub pencari kerja ini dapat mengambil ilham dari kekompakan tiga tokoh rekaan Alexander Dumas, Three Musketeers, yang bersemboyan bagus. Tous pour un, un pour tous. Semua untuk satu, satu untuk semua. Selamat mencoba !


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia

Sunday, August 22, 2004

BONUS ROKOK DI TIKET OLAHRAGA
Dimuat di kolom Redaksi Yth – Kompas Jawa Tengah, 20/8/2004


Pengumuman aneh tertera di loket penjualan tiket kejuaraan bola voli yunior se-Jawa Tengah yang berlangsung di GOR Wonogiri, 7/8/2004 yang lalu. Tertulis harga tiket Rp. 3.000 dan pembeli dapat bonus sebungkus rokok. Saya batal nonton dan berpikir, bukankah pabrik rokok itu melakukan dumping harga untuk mempromosikan produknya ? Bukankah ini rekayasa bisnis tak etis, untuk produk yang berpotensi besar mengakibatkan kecanduan dan sekaligus membahayakan kesehatan ? Apalagi sasarannya anak-anak muda, di pentas yang tujuannya mempromosikan pentingnya kesehatan, yaitu ajang olahraga ?

Rokok, produk yang membahayakan kesehatan, tampil sebagai sponsor pertandingan olahraga sudah lumrah di tanah air kita. Modus serupa juga gencar dalam pertunjukan musik dan acara lain yang diperkirakan menyedot kehadiran anak-anak muda. Memang, anak-anak muda seumuran SMP-SMA kini jadi target utama produsen rokok. Sebab sekali mereka kecanduan rokok di usia rawan itu, kebiasaan buruk tersebut akan sulit hilang sampai dewasa atau meninggal di usia muda.

Peristiwa di GOR Wonogiri itu, dalam skala besar, mencerminkan pribadi bangsa kita yang terbelah. Kita adakan ajang untuk mempromosikan kesehatan, tapi sponsornya produk yang membahayakan kesehatan. Semakin banyak dibangun tempat-tempat ibadah, tetapi seperti kasus ramai di DPRD-DPRD, mereka pun tak malu berkorupsi secara berjamaah. Kita mengaku mendukung reformasi, tapi sosok-sosok Orde Baru tetap berjaya di panggung. Gembar-gembor tak tergiur kembali terjun ke politik, tapi tetap glibat-glibet dan ngotot mengajukan RUU yang bertabiat sebaliknya. Mengaku harus netral dalam pemilu, tapi bukti VCD yang bocor ke masyarakat berkata sebaliknya pula. Itulah anomali kepribadian kita sebagai bangsa.


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia

Tuesday, August 17, 2004

KETERAMPILAN MENULIS, ITU PENTING !
Dimuat di kolom Redaksi Yth – Kompas Jawa Tengah, Sabtu 14 Agustus 2004

Lomba penulisan resensi buku guna meningkatkan minat baca untuk siswa SD/MI se-Jawa Tengah yang diselenggarakan oleh LPPSP Semarang dan Perpustakaan Jawa Tengah (Kompas, 29/7/2004), pantas mendapatkan sambutan. Sebab orang yang menulis itu otomatis orang yang membaca, tetapi tidak berlaku sebaliknya. Dengan demikian, menurut hemat saya, untuk meningkatkan minat baca maka yang harus dipacu adalah justru kebiasaan menulis pada anak didik kita. Pelajaran mengarang, menulis kreatif, harus digalakkan. Para guru/orang tua dapat memberikan apresiasi dengan menempelkan karya anak-anak itu di majalah dinding sekolah atau rumah, mengirimkannya ke media massa, atau memajangnya di media Internet.

Menulis adalah proses terpenting untuk mengawetkan ilmu pengetahuan. Thomas L. Madden dalam bukunya F.I.R.E – U.P. Your Learning : Bangkitkan Semangat Belajar Anda – Petunjuk Belajar Yang Dipercepat Untuk Usia 12 Tahun Keatas (Gramedia, 2002), memberi petunjuk hebat. Agar segala pengetahuan yang telah kita pelajari tidak mudah punah maka pengetahuan baru itu harus digunakan, dengan membagikannya kepada orang lain. Caranya : dengan menulis.

Terlebih lagi, menulis merupakan tindak pembelajaran untuk meningkatkan diri kita sendiri secara terus-menerus. Penggunaan pengtahuan yang sama itu sebaiknya lewat cara yang berbeda-beda, sebab semakin variatif pemanfaatannya akan semakin banyak tercipta koneksi dalam otak kita yang semakin memudahkan kita bila diperlukan untuk mengingatnya kembali.


Seorang ahli periklanan legendaris, David Ogilvy, pernah berujar bahwa ilmu pengetahuan itu tidak ada manfaatnya kecuali Anda tahu cara mengkomunikasikannya – secara tertulis !

Sayang sekali, tidak banyak kalangan pendidik atau orang tua yang memiliki wawasan mengenai pentingnya keterampilan menulis atau mengungkapkan buah pikiran ke dalam bahasa, bagi setiap insan. Mungkin mereka masih berpikiran kuno bahwa keterampilan penting itu hanya cocok untuk wartawan, sastrawan, penulis skenario atau penulis naskah iklan semata. Padahal semakin tinggi pendidikan atau profesi seseorang, keterampilan menulis merupakan bekal utama pendorong seseorang agar sukses dalam pekerjaan dan kariernya !


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia

-----------------

PEREMPUAN, FOBI TEKNOLOGI INFORMASI
Dimuat di Redaksi Yth-Harian Kompas Jawa Tengah, Senin 9 Agustus 2004


Teknologi Informasi : Industri Tanpa Perempuan. Itulah judul artikel Kendra Mayfield di situs gaya hidup teknologi informasi Wired (1/12/2001), yang menggambarkan minimnya perempuan berkiprah dalam industri TI di Eropa Barat. Fenomena buram itu juga meruyak di Indonesia.

Kajian BPPT memperkirakan kaum perempuan Indonesia yang memanfaatkan Internet pada tahun 2002 hanya 24,14 persen. Sementara itu peran kaum Kartini kita pun dalam ketenagakerjaan TI lebih dominan pada posisi administratif, seperti menangani surat elektronik, memasukkan data, atau operator komputer. Masih sedikit sekali perempuan pada posisi tenaga ahli dan profesional, apalagi dalam struktur pengambilan keputusan dalam industri TI. Bahkan tidak banyak perempuan berperan sebagai ilmuwan komputer dan programmer.

Mengapa karier bidang TI tidak menarik kalangan perempuan ? Antara lain, karena selama ini citra TI yang tertanam dalam pandangan murid-murid perempuan adalah terlalu geeky, sangar campur aneh, dan bukan sesuatu yang glamor dan memincut hati wanita.

Juga akibat adanya kesenjangan jender yang selama ini terjadi pada mereka di sekolah dan di rumah. Anak perempuan sering ditakut-takuti angkernya pelajaran sains dan matematika, tidak hanya oleh sekolah, tetapi juga oleh orang tua mereka. Beragam isyarat atau teror halus yang tidak direncanakan itu, baik oleh guru, baik pria atau pun wanita, dan juga orang tuanya, berdampak serius dengan terciptanya harapan yang lebih rendah di kalangan pelajar perempuan untuk terpacu menguasai sains dan teknologi.

Bagaimana solusi terbaiknya ? Saya sebagai seorang epistoholik, orang yang kecanduan menulis surat-surat pembaca di media, baru mampu memunculkan problema kronis ini di Harian Kompas ini. Semoga bermanfaat adanya, sokur-sokur dapat memancing diskusi. Saya akan bersenang hati bila ada fihak yang sudi bergabung dalam Epistoholik Indonesia (http://epsia.blogspot.com) dan mau menyisihkan perhatian dengan menulis surat-surat pembaca bertopik perempuan Indonesia dalam kaitannya dengan penguasaan teknologi informasi. Saya tunggu !

Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia

-----------------

FENOMENA AFI DAN RESEP SUKSES
Dimuat di Kolom Redaksi Yth- Harian Kompas Jawa Tengah, Kamis 5 Agustus 2004


Sungguh asyik mengamati hiruk-pikuk anak-anak muda Indonesia yang bernafsu jadi selebriti secara instan melalui ajang Akademi Fantasi Indosiar (AFI) atau Indonesian Idol. Seorang teman menulis bahwa kita akan banyak melihat generasi mendatang mempunyai cita-cita sebagai artis, selebritis, penyanyi, dan sulit menemui anak-anak yang bercita-cita untuk menjadi guru, profesor atau tentara.

Pendapat yang menarik. Bagi saya, fenomena AFI atau pun Indonesian Idol itu hanyalah fads, mode sekejap dari dunia hiburan televisi. Di LN menunjukkan, penyanyi hasil karbitan ajang semacam tidak berumur lama. Easy come, easy go. Demam itu segera surut dan sebagian besar orang akan terantuk untuk menyadari bahwa proses alami menuju sukses yang berkelanjutan tidak bisa diraih secara instan.

Penjelasan psikolog Richard W. Brislin dalam bukunya The Art of Getting Things Done : A Practical Guide to the Use of Power (Praeger, 1991), pantas disimak. Brislin telah mengkaji keputusan terbaik para orang tua dari kalangan atas menengah dalam memberi bekal untuk kesuksesan anak-anaknya di masa depan. Bekal penting itu bukan keterampilan menyanyi, melainkan keterampilan menulis dan lancar berbicara di depan umum.

Merujuk kedua keterampilan penting di atas, coba simak sosok para calon presiden dan calon wakil presiden kita. Menurut saya, para capres/cawapres yang memiliki keterampilan menulis mumpuni adalah Amien Rais, Siswono Yudhohusodo, Susilo Bambang Yudhoyono dan Shalahudin Wahid. Yang terampil dan menarik ketika bicara di depan umum adalah Amien Rais, Siswono Yudhohusodo, Susilo Bambang Yudhoyono dan Hazim Musadi.

Anda setuju ? Anda boleh tidak menyetujui analisis saya di atas. Saya tunggu komentar Anda di kolom harian ini. Teruslah Anda menulis. Teriring salam dari kaum epistoholik Indonesia (http://epsia.blogspot.com), yaitu :

Episto ergo sum !

Saya menulis surat pembaca karena saya ada !


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia

Thursday, July 22, 2004

KAMPANYE ANTI ROKOK MODEL SINGAPURA
Diemailkan ke Harian Bernas (Yogyakarta), 22/7/2004


Singapura, negeri mini yang mempunyai nilai indeks pengembangan manusia yang jauh di atas Indonesia, mempunyai kepedulian tinggi terhadap kesehatan warganya. Salah satu bukti dari komitmen yang ditunjukkan adalah lebih majunya kampanye anti merokok di sana.

Tercatat mulai tanggal 16 Juli 2004, pemerintah Singapura mengharuskan produsen rokok memasang foto yang menggambarkan dampak buruk kebiasaan merokok pada setiap bungkus rokok. Foto-foto itu bagi mereka yang peduli betapa bernilainya kesehatan, memang nampak mengerikan. Misalnya pada slogan peringatan yang berbunyi, merokok dapat mengakibatkan serangan stroke (Warning : Smoking Causes Stroke) terdapat foto yang menggambarkan pecahnya pembuluh darah di otak. Slogan peringatan lainnya antara lain, merokok dapat mengakibatkan kanker paru-paru, merokok merusak kesehatan keluarga Anda, merokok mengakibatkan beragam penyakit mulut, merokok dapat membunuh bayi-bayi dan juga merokok mengakibatkan kematian yang menyakitkan.

Hal positif lainnya dari peringatan tersebut adalah dicantumkannya ajakan untuk berhenti merokok dengan dibukanya saluran telepon bebas pulsa bagi siapa saja yang ingin berkonsultasi untuk berhenti dari kebiasaan merokok yang terbukti merugikan kesehatan si pengisap dan insan-insan tak berdosa di sekitarnya. Kapan kampanye serupa segera diberlakukan di Indonesia ?

Dalam rangka ikut berperanserta mengkampanyekan isu di atas, kami dari Epistoholik Indonesia mengimbau kepada para penulis surat pembaca yang peduli atas bahaya merokok untuk sudi bergabung dalam jaringan EI. Dengan bersenjatakan pena dan niatan mulia, mari kita saling bersinergi untuk aktif mengkampanyekan isu kesehatan yang penting tetapi justru sering dipandang sebelah mata oleh pemerintah kita selama ini.


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia

------------------


KAMPANYE MELEK KOMPUTER UNTUK LANSIA
Dimuat di kolom Media Anda Harian Media Indonesia (Jakarta), 18/7/2004
Dimuat di kolom Redaksi Yth. Harian Kompas Edisi Jawa Tengah, 19/7/2004
Dimuat di kolom Surat Pembaca Harian Suara Merdeka (Semarang), 20/7/2004


Penguasaan teknologi informasi, yaitu komputer dan jaringannya yang mendunia, yaitu Internet, dipercayai sebagai senjata dan bekal imperatif tiap insan guna mampu memenangkan persaingan dalam kehidupan antarbangsa. Di negara kita, selama ini, yang sering terdengar adalah upaya pembekalan keterampilan di atas untuk generasi muda kita. Hal itu, tentu tidak salah. Kini ijinkanlah saya mengajukan usul tambahan, mengenai juga pentingnya kampanye pengenalan dan praktek pemanfaatan komputer & Internet bagi lansia.

Begawan digital dari MIT (AS), Nicholas Negroponte dalam buku tersohornya, Being Digital , mengatakan bahwa di Amerika Serikat, terdapat 30 juta anggota AARP (organisasi kaum pensiunan, seperti PWRI) sebagai sumber kolektif ilmu pengetahuan dan kearifan yang masih terbengkalai. Dengan bantuan komputer & Internet maka harta karun pengetahuan dan kearifan jutaan kaum lansia dapat dikomunikasikan dengan generasi anak-cucu mereka, hanya dengan beberapa ketuk tombol mesin ketik saja.

Merujuk cita-cita di atas, alangkah bijak bila mulai kini pimpinan lembaga tempat asal kaum lansia dulu bekerja atau institusi terkait seperti PWRI dan lainnya, tergerak menindaklanjuti ide Negroponte tadi. Misalnya dengan me-lungsur-kan komputer lama untuk organisasi pensiunannya, melakukan penataran penggunaan komputer dan Internet secukupnya, dan aktivitas lainnya yang menunjang.

Saya sebagai pencetus Epistoholik Indonesia (EI), yaitu komunitas penulis surat-surat pembaca di media massa yang kebetulan banyak warganya para pensiunan, salah satu misi EI adalah mengenalkan komputer dan Internet untuk mereka. Yang saya lakukan adalah, koleksi surat-surat pembaca kaum lansia yang kaya kearifan dan canggih-canggih itu, telah saya album di Internet (http://epsia.blogspot.com) agar mudah diakses peminat dari mana pun di dunia. Semoga gagasan sederhana ini memperoleh sambutan dan pengayaan secukupnya. Terima kasih.


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia

-----------------

KONTES AFI DI PERPUSTAKAAN WONOGIRI
Dimuat di kolom Redaksi Yth.
Harian Kompas Edisi Jawa Tengah, 13/7/2004


Mirip mekanisme kontes AFI atau Indonesian Idol, Perpustakaan Umum Wonogiri menempuh kebijakan serupa yang patut dipuji, dengan memberi kebebasan kepada anggota dan pengunjung perpustakaan mengajukan pilihan buku yang diinginkannya untuk menjadi koleksi perpustakaan. Peluang untuk memilih buku itu terbuka di bulan Juni –Juli 2004 ini !

Oleh karena itu, kepada warga Wonogiri yang haus ilmu pengetahuan demi meningkatkan kualitas diri dengan gigih belajar terus tanpa henti, saya imbau untuk memanfaatkan peluang emas ini. Sebab seperti kata sejarawan dan filsuf politik Skotlandia, Thomas Carlyle (1795-1881), the true University of these days is a collection of books atau universitas sejati masa kini adalah perpustakaan, maka biasakanlah berkunjunglah ke perpustakaan yang berada di kompleks bagian depan GOR Wonogiri ini. Termasuk kali ini, silakan ajukan data buku yang Anda inginkan agar menjadi koleksinya dan suatu saat akan Anda reguk ilmunya.

Untuk pengadaan tahun anggaran 2005 mendatang yang memperoleh penekanan untuk dikoleksi adalah buku-buku bersubjek pendidikan dan kewiraswastaan. Anda dapat mengajukan buku bersubjek penting di atas bila kebetulan Anda sudah memiliki data bibliografinya (nama pengarang, penerbit, tahun terbit dan harga). Atau silakan memeriksa pelbagai katalog penerbit yang sudah tersedia di sana untuk membantu menentukan pilihan Anda.

Sementara itu, untuk warga Wonogiri yang sudah sukses dan kini merantau, tak ada salahnya Anda kini ikut berperanserta dalam pengembangan sumber daya generasi muda Wonogiri dengan menyumbangkan buku-buku untuk perpustakaan Wonogiri. Jangan lupa, tuliskan data nama Anda di buku tersebut, sehingga kami akan selalu mampu mengenang amal dan kebaikan Anda di dalam hati kami. Siapa tahu, suatu saat nanti kami akan meneladani perbuatan bijak dan mulia Anda tersebut. Terima kasih.


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia
dan Suporter Perpustakaan Wonogiri


---------------------


“SEPARATISME” MODEL KOMPAS
Dimuat di kolom Redaksi Yth. Harian Kompas Edisi Jawa Tengah, 10/7/2004


Sebagai orang yang pernah sekolah/tinggal di Yogya, Solo, Jakarta dan kini tinggal di Wonogiri, saya memperoleh kecocokan dengan harian ini. Harian ini saya beli, saya kliping berita atau artikelnya yang menarik, bahkan sebagai epistoholik saya pun mengirimkan surat pembaca atau artikel di Kompas.

Saya senang ketika terbit suplemen Kompas edisi Jawa Tengah dan Yogyakarta. Harapan saya saat itu, semoga halamannya ditambah. Tetapi baru-baru ini, mungkin bermotifkan niat untuk memperbesar kue iklannya, muncul semangat “separatisme “ dalam diri pengelola Kompas Jawa Tengah/Yogyakarta. Pemisahan edisi tersebut, dimana edisi Jawa Tengah dan edisi Yogya terbit tersendiri, menimbulkan rasa aneh. Rasa kehilangan. Saya yang di Wonogiri menjadi kehilangan sentuhan Yogya. Mungkin rasanya seperti saat Timor Timur terpisah dari NKRI dulu-dulu itu.

Hal lain, Kompas suka menulis topik dengan berpanjang-panjang, seperti terbitan tiap Sabtu. Panjangnya sih OK saja, tetapi Kompas menulisnya tidak diimbangi dari perspektif pembaca. Saya bandingkan dengan kolom News You Can Use dari majalah US News & World Report, di sana disajikan artikel (istilah kerennya : service journalism) yang benar-benar berguna dan dapat dimanfaatkan pembaca. Jadi, kalau Kompas menulis bab pemberantasan korupsi atau perusakan lingkungan, harap sajikan pula informasi, kiat atau tips, yang mendorong tiap individu pembaca mampu tergerak melakukan sesuatu aksi (betapa pun kecilnya) yang sesuai dengan misi tulisan-tulisan itu. Jadi modelnya seperti mekanisme kontes AFI atau Indonesian Idol, di mana penonton rela mengeluarkan uang untuk beli pulsa karena aksi dan eksistensinya merasa dihargai sebagai fihak yang terlibat secara signifikan dalam suatu aksi, pertunjukan atau perubahan !


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia


-----------------

MESIN REPRESIF ORBA ITU MUNCUL LAGI !
Diemailkan ke Harian Bernas (Yogyakarta), 31/5/2004


Sebagai rakyat, saya mendukung reaksi keras tokoh masyarakat dan LSM yang mencemaskan pernyataan Kepala BIN Hendropriyono yang mengandung intimidasi terhadap sejumlah organisasi masyarakat dan perorangan yang sedang menegakkan demokrasi dan hak asasi manusia di Tanah Air. Tokoh terhormat itu antara lain, Nurcholish Madjid, Goenawan Mohamad, Todung Mulya Lubis, Bambang Harymurti, Nono Anwar Makarim, Ulil Abshar Abdalla dan lainnya di Jakarta (Kompas, 31/5/2004).

Sebelumnya, Kepala Badan Intelejen Negara (BIN) di depan komisi I DPR (25/5) membeberkan 20 LSM DN atau pun LN yang diduga bisa mengganggu keamanan. BIN menilai, antara lain, bahwa Sidney Jones (aktivis International Crisis Group/ICG) atau siapa pun juga orang Indonesia yang merugikan bangsanya sendiri, yang menjual untuk dapat uang, akan dicatat dan bukan akan dibiarkan.

Para tokoh tadi menilai, pernyataan itu mengulangi cara-cara lama untuk menciptakan rasa takut, dengan tidak menyebut secara spesifik fihak yang dituju, sehingga semua orang caling curiga. Keadaan ini menghidupkan kembali mesin represi dengan alasan keamanan. Di jaman Orde Baru yang represif, cara lama serupa adalah dilontarkannya eksistensi organisasi tanpa bentuk (OTB) yang mengancam negara. Jargon jadi ledekan mahasiswa ITB dan memelesetkannya sebagai singkatan Oinstitut Teknologi Bandung.

Sementara itu bagi pemerhati strategi karier masa depan, justru sosok OTB itulah yang merupakan lahan berkarier/bekerja yang ideal di masa masa depan. Simak bukunya professor Harvard, Rosabeth Moss Kanter dalam When The Giants Learn to Dance (1989), disebutkan bahwa perusahaan masa depan itu sosoknya mirip proyek penggarapan film di Hollywood. Para pekerjanya tidak ada yang berstatus pegawai tetap, dipilih karena reputasi dan profesionalitas yang telah ditunjukkan sebelumnya, dan setelah proyek filmya selesai maka bubarlah organisasi itu. Itulah OTB a la Hollywood, dan Anda tahu, karya-karya mereka selalu menguasai dunia !

Sayang sekali, anak-anak muda kita yang membanjiri pelbagai bursa kerja yang lagi mode saat ini, entah karena kepicikan yang ia timba dari alma maternya, rasanya OTB a la Hollywood itu belum nyantol di benak mereka. Semua cenderung berparadigma karier lama, pengin kayak pegawai negeri dan jadi pegawai tetap sampai pensiun tiba. Benarkah ?

Ilustrasi di atas menyiratkan betapa kita, kalau tak waspada, suka cenderung memakai pola lama dalam mengantisipasi masa depan. Menakut-nakuti rakyat a la mesin represi Orde Baru yang kini terdengar lagi itu, adalah juga pola lama yang harus terus dikritisi demi lajunya penegakan demokrasi dan hak asasi manusia di Bumi Pertiwi.


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia

-------------------------


FENOMENA AFI DAN CALON PRESIDEN KITA
Diemailkan ke Harian Bernas (Yogyakarta), 31/5/2004


Sungguh menarik analisis sobat saya sesama warga Epistoholik Indonesia, Dion Desembriarto (http://dionds.blogspot.com) di Bernas, 26 April 2004, mengenai hiruk-pikuk anak-anak muda Indonesia yang bernafsu menjadi selebriti secara instan melalui ajang Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Dion malah menuliskan, kita mungkin akan banyak melihat generasi berikutnya yang mempunyai cita-cita sebagai artis, selebritis, penyanyi dan sejenisnya. Kita mungkin tidak akan menemui lagi anak-anak yang bercita-cita untuk menjadi guru, profesor atau tentara….

Bagi saya, fenomena AFI atau pun Indonesian Idol itu hanyalah fads, mode sekejap saja, dari dunia hiburan televisi. Di LN menunjukkan, penyanyi hasil karbitan ajang semacam itu tidak berumur lama. Easy come, easy go. Hiruk-pikuk dan demam semacam akan segera surut, dan sebagian besar orang akan selalu menyetujui bahwa proses alami menuju sukses yang berkelanjutan itu tidak bisa diraih secara instan. Silakan baca artikel saya berjudul Budaya Selebritis, Budaya Kriminalitas (Kompas edisi Jateng-Jogia, 22/5/2004).

Psikolog Richard W. Brislin dalam bukunya The Art of Getting Things Done : A Practical Guide to the Use of Power (Praeger, 1991), pantas disimak. Brislin telah mengkaji keputusan para orang tua dari kalangan atas menengah dalam memberi bekal untuk kesuksesan anak-anaknya di masa depan. Bekal penting itu bukan keterampilan menyanyi, melainkan keterampilan menulis dan lancar berbicara di depan umum.

Merujuk kedua keterampilan penting di atas, coba simak sosok para calon presiden dan calon wakil presiden kita. Menurut saya, para capres/cawapres yang memiliki keterampilan menulis yang mumpuni adalah Amien Rais, Siswono Yudhohusodo, Susilo Bambang Yudhoyono dan Shalahudin Wahid. Yang terampil dan menarik ketika bicara di depan umum adalah Amien Rais, Siswono Yudhohusodo, Susilo Bambang Yudhoyono dan Hazim Musadi.

Anda boleh tidak menyetujui analisis saya di atas dan Anda tetap boleh memilih capres/cawapres yang pintar menyanyi atau pun yang pelit dalam berkata-kata. Saya tunggu komentar Anda di kolom terhormat harian Bernas ini. Teruslah Anda mengamuk, dengan terus menulis. Salam Epistoholik Indonesia !


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia

-----------------------

SINETRON GOOD COP-BAD COP DAN MILITERISME
Dikirimkan ke Majalah Tempo (Jakarta), 14/5/2004

Kebrutalan polisi terhadap mahasiswa UMI Makassar yang berdemo menentang kembalinya militer di kancah politik Indonesia, adalah sebuah fenomena gunung es. Sebab polisi sebelumnya juga menyerang demo mahasiswa pada saat keputusan mengenai kasasi kasus Akbar Tanjung dijatuhkan oleh Mahkamah Agung.

Menurut tesis psikolog Richard Brislin dalam bukunya The Art of Getting Things Done : A Practical Guide to The Use of Power (1991), menunjukkan militer dan polisi saat ini sedang memainkan sinetron good cop-bad cop, polisi baik dan polisi jahat, untuk memuluskan kembalinya militer di gelanggang politik Indonesia. Polisi kita saat ini dalam menghadapi kasus-kasus demo yang mengangkat isu penentangan terhadap militer, diskenariokan tampil sebagai sosok polisi jahat. Polisi pula yang harus pasang badan, baik dalam melakukan tindak represi, lalu menerima kecaman dan hukuman.

Di jaman rezim Soeharto, sosok-sosok bad cop pernah dimainkan oleh Mendagri Amir Machmud, tetapi yang paling masif adalah dimainkan oleh Pangkopkamtib sejak dari Soedomo sampai Benny Moerdani.

Untuk memahaminya, Anda mungkin masih ingat film seri Miami Vice atau Starsky & Hutch, dimana ditampilkan dua sosok polisi yang kepribadiannya saling bertentangan tetapi mampu bersinergi. Salah satunya berperilaku kasar, pemarah dan suka mengancam ketika menginterogasi seseorang tersangka. Ketika selesai melakukan interogasi, ia akan keluar ruang sembari mengancam akan memperlakukan si tersangka lebih kejam lagi.

Sesaat kemudian, datanglah sosok polisi satunya. Polisi satu ini, disebut polisi baik, tampil lebih tenang, penuh perhatian, dan sopan. Ia pun berkata, “dia selalu begitu dan jangan dimasukkan dalam hati. Tetapi, kalau boleh saya berterus terang, ia bisa bertindak lebih brutal lagi”. Si tersangka ketika mendapat perlakuan manis dan merasakan pengalaman berbeda antara kedua polisi itu, akhirnya tergerak untuk mengaku dan memberikan informasi-informasi penting kepada polisi baik itu.

Lalu, siapakah sosok good cop dalam konteks perpolitikan di Indonesia ? Tentu saja, militer. Simak saja, akhir-akhir ini senantiasa terdengar suara-suara “merdu” dari Panglima TNI yang berkali-kali menyatakan, misalnya militer tak akan kembali ke politik, militer akan bersikap netral dalam Pemilu sampai pernyataan bahwa para capres yang berlatar belakang pensiunan militer (SBY dan Wiranto) tidak mewakili institusi militer dan dilarang membawa gerbong militer untuk mendukung, dan sejenisnya. Sementara itu pula, dari pintu lainnya mesin kehumasan terus berjalan dengan mengusung citra bahwa kedua capres yang jenderal pensiunan itu adalah good cop, polisi-polisi yang baik.

Sokurlah, antene para mahasiswa kita telah juga mengendus skenario sinetron semacam ini. Ilmuwan seperti Mochtar Pabottinggi, Ikrar Nusa Bhakti dan tokoh masyarakat sipil lainnya terus berkali-kali memberikan sinyal yang sama betapa ancaman militer yang kepingin kembali ke gelanggang politik bukan isapan jempol belaka.


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia

-----------------------------

IKLAN ROKOK TERSELUBUNG DI TELEVISI
Dimuat di kolom Redaksi Yth Harian Kompas Edisi Jateng/Jogia,29/5/2004


Stasiun tv RCTI (7/5/2003 dan 28/4/2004) menayangkan film 3000 Miles to Graceland, berkisah tentang sekawanan perampok kasino berdandan a la penyanyi legendaris yang meninggal di WC karena overdosis obat bius, Elvis Presley. Adegan mencoloknya adalah banyak tokohnya yang tak henti-hentinya merokok. Ada tokoh Murphy, sementara tokoh lainnya, Michael, juga merokok dan malah tampak permisif mengajari anak di bawah umur untuk merokok. Belum lagi detektifnya juga tak kalah dalam hal seringnya merokok. Apakah tukang pilih film di RCTI tidak terusik oleh adegan-adegan merokok yang sangat mencolok itu ? Atau memang film ini sengaja dipilih (!) atas pesanan terselubung industriawan rokok yang kaya-kaya itu untuk mengiklankan kebiasaan merokok ? Sinetron Dara Manisku, juga di RCTI, mencolok adegannya yang mengumbar pelakunya seperti saling berlomba-lomba dalam merokok !

Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam upaya kampanye global anti-rokok telah mengimbau kalangan produser film di Hollywood dan Bollywood dan kalangan industri mode untuk menghentikan tayangan yang mengglamorisasikan aksi merokok. Caranya dengan menghindari adegan film yang menayangkan aksi merokok yang nampak penuh gaya dan meminta industri fashion untuk tidak menggunakan rokok sebagai asesorinya.

Survei tentang Bollywood, ternyata 320 dari 400 film India menayangkan adegan merokok sebagai sesuatu hal yang cool untuk dilakukan. Rokok bisa mencitrakan kejantanan atau feminitas, canggih atau kasar, sexy atau sporty, semuanya karena kecerdikan strategi pemasaran. Dua dari konteks yang mendukung citra tersebut adalah industri film dan mode. Disebutnya, kalangan film dan fashion memang tidak dapat dituding sebagai penyebab kanker, tetapi seharusnya mereka tidak mempromosikan produk-produk yang menyebabkan kanker.

“Merokok itu tidak cool, yang nampak cool adalah perokoknya”, simpul Gladwell (2002) yang mengkampanyekan strategi radikal dalam kampanye anti-merokok yang selaras dengan langkah WHO di atas. Jadi selayaknyalah bila stasiun TV, terutama RCTI, berlaku bijak dengan tidak mempromosikan kebiasaan merokok secara penuh gaya dalam film-film tayangannya pada jam-jam iklan rokok tidak diijinkan untuk ditayangkan. Epistoholik Indonesia (EI) saat ini juga mengundang untuk bergabung para penulis surat pembaca yang sudi concern mengkritisi kampanye/promosi rokok yang tanpa etika itu.


Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia

-----------------------

PEREMPUAN, FOBI TEKNOLOGI INFORMASI ?
Diposkan ke Majalah Kartini (Jakarta), 15/5/2004
Diemailkan ke Harian Bernas (Yogyakarta), 27/5/2004


Teknologi Informasi : Industri Tanpa Perempuan. Itulah judul artikel Kendra Mayfield di situs gaya hidup teknologi informasi Wired (1/12/2001), yang menggambarkan minimnya perempuan berkiprah dalam industri TI di Eropa Barat. Fenomena buram itu juga meruyak di Indonesia. Kajian BPPT memperkirakan kaum perempuan Indonesia yang memanfaatkan Internet pada tahun 2002 hanya 24,14 persen. Sementara itu peran kaum Kartini kita pun dalam ketenagakerjaan TI lebih dominan pada posisi administratif, seperti menangani surat elektronik, memasukkan data, atau operator komputer. Masih sedikit sekali perempuan pada posisi tenaga ahli dan profesional, apalagi dalam struktur pengambilan keputusan dalam industri TI. Bahkan tidak banyak perempuan berperan sebagai ilmuwan komputer dan programmer.

Mengapa karier bidang TI tidak menarik kalangan perempuan ? Antara lain, karena selama ini citra TI yang tertanam dalam pandangan murid-murid perempuan adalah terlalu geeky, sangar campur aneh, dan bukan sesuatu yang glamor dan memincut hati wanita. Juga akibat adanya kesenjangan jender yang selama ini terjadi pada mereka di sekolah dan di rumah. Anak perempuan sering ditakut-takuti angkernya pelajaran sains dan matematika, tidak hanya oleh sekolah, tetapi juga oleh orang tua mereka. Beragam isyarat atau teror halus yang tidak direncanakan itu, baik oleh guru, baik pria atau pun wanita, dan juga orang tuanya, berdampak serius dengan terciptanya harapan yang lebih rendah di kalangan pelajar perempuan untuk terpacu menguasai sains dan teknologi.

Bagaimana solusi terbaiknya ? Saya sebagai seorang epistoholik, orang yang kecanduan menulis surat-surat pembaca di media, baru mampu memunculkan problema kronis ini di Harian Bernas ini. Semoga bermanfaat adanya, sokurlah bila dapat memancing diskusi. Saya akan bersenang hati bila ada fihak yang sudi bergabung dalam EI dan mau menyisihkan perhatian dengan menulis surat-surat pembaca bertopik perempuan Indonesia dalam kaitannya dengan penguasaan teknologi informasi. Saya tunggu !


Bambang Haryanto
Epistoholik Indonesia

Monday, May 17, 2004

INDONESIAN IDOL 2004 DAN LAGU-LAGU FAVORITNYA
Dimuat di kolom Mimbar Demokrasi, Kompas (Jakarta), 15/5/2004


Megawati Sukarnoputri : Don’t Let Me Down (The Beatles)

Susilo Bambang Yudhoyono : Words (The Bee Gees, “It’s only words/And words are all I have/To take your heart away”)

Amien Rais : Here’s Come The Sun (The Beatles). Tapi, sorry George Harrison, liriknya kuubah menjadi : “Here’s come the sunset, little darling ”)

Wiranto : We Will Rock You (Queen, “You got blood on your face/You big disgrace/Waving your banner all over the place/We will, we will rock you”). Yang menyanyikannya justru para mahasiswa dan pejuang HAM.

Prabowo Subijanto : Army Dreamers (Kate Bush, “Should have been a politician ? But he never had a proper education...What a waste/ Army dreamers, army dreamers....”)

Akbar Tanjung : I Will Survive (Gloria Gaynor).


BAMBANG HAYANTO (Wonogiri)

-------------------

SERBUAN CHINA : DARI PENITI HINGGA PIALA THOMAS
Dimuat di kolom Smes – Piala Thomas & Uber 2004
Harian Kompas (Jakarta), 15/5/2004


Simak produk yang diasong di KRL Bogor-Jakarta. Dari jarum, peniti, gunting kuku, korek kuping, korek api gas dan seabrek produk manufaktur lainnya, hampir dipastikan buatan Cina. Kini serbuan Cina juga telah menghancurkan tim Uber dan tim Thomas kita, di kandang kita sendiri. Apa lagi yang bisa dibanggakan dari negeri yang top budaya korupsinya ini ?


Bambang Haryanto, (epsia@plasa.com)

--------------------