Sunday, December 04, 2011

Solo Cyber Day 2011, Onno W. Purbo dan Trah Martowirono





Dear Kang Onno,

Semoga sehat-sehat dan sudah sembuh capeknya setelah menggembleng anak-anak muda Solo dalam ber-Internet secara cerdas dan memberikan manfaat di ajang Solo Cyber Day 2011, Solo, 4 Desember 2011.

Catatan yang akan saya ingat antara lain tentang seruan Anda agar warga Solo ngeblog setiap hari. Sayang, kayaknya hanya saya saat itu yang menyambut dengan tepuk tangan. Mungkin akan lebih heboh bila Kang Onno bilang, "update statusmu di FB setiap hari."

Tak apalah, tepuk tangan saya itu akan tetap saya lanjutkan di dunia maya, untuk menyebarkan pesan bahwa menulis di blog itu cenderung lebih bermakna dibanding menulis status wkwkwkwk di Facebook.

Catatan kedua, tentang perpustakaan digital Kang Onno yang Anda wariskan ke Apkomindo Solo ? Saya lupa mencatat. Kemana atau URL mana untuk bisa mengaksesnya ? Tentang perpustakaan, saat ketemuan Anda itu saya lupa menyampaikan titipan pesan dari priyayi asal Solo tetapi kini tinggal di Jakarta.

Beliau adalah Pak Blasius Sudarsono dari PDII-LIPI. "Titip salam, lama ga jumpa," katanya. Lalu beliau menambahkan info yang saya belum tahu, bahwa Kang Onno itu pernah menjadi kepala perpustakaan pusat ITB. Oh ya, Pak Blasius itu dosen saya. Saya pernah belajar di jurusan ilmu perpustakaan di Rawamangun, FSUI. Pernah pula main ke ITB, saat itu kepalanya Pak Adjat Sakri.

Moga-moga banyak email yang Kang Onno terima dari anak-anak muda Solo. Saya dan warga Trah Martowirono berterima kasih kepada Kang Onno, juga Mas Donny BU, yang telah sudi menorehkan tanda tangan di kanvas memorabilia trah (keluarga besar) kami.

Dalam foto jepretan jenius dari aktivis Internet asal Solo, Sadrah Deep, nampak dari kiri saya (Bambang Haryanto), Kang Onno dan Mayor Haristanto. Kanvas itu akan menjadi bahan cerita yang berlanjut di trah kami.

Sukses selalu.
Sampai ketemu lagi.


Bambang Haryanto
trah.blogspot.com
komedian.blogspot.com

Monday, October 10, 2011

Indonesia, Surga Kaum Koruptor, Juga Koruptor Pulsa !




Dari tabu menjadi lawakan. Itulah judul artikel dosen UIN Sunan Kalijaga, Al Makin, di situs The Jakarta Post (4/9/2011), yang menggambarkan betapa merajalelanya korupsi di Indonesia.

Antara lain ia bertanya : apakah kita punya waktu untuk terbebas dari korupsi ? Jawabnya : “Seperti tikus, kaum koruptor tak pernah berhenti, mencuri uang negara dari Senin sampai Minggu, dari Januari sampai Desember, termasuk di hari Kemerdekaan, di bulan Ramadhan, hari Natal, hari Nyepi, dan hari-hari libur lainnya.”

Apakah kita mampu menemukan tempat yang terbebas dari korupsi ? Jawabnya lagi : “Hantu korupsi bergentayangan di jalan-jalan, kantor, lapangan sepakbola, lautan, suangai jembatan, bandara, terminal bis, stasiun kereta api, sekolah, universitas, bahkan di udara, tanah dan air.”

Terima kasih, Pak Al Makin.

Heboh terbaru adalah kasus korupsi yang meruyak di udara, yaitu kasus pencurian pulsa. Seperti yang pernah saya tulis di kolom ini, saya adalah salah satu korbannya.

Ketika HP saya tiba-tiba mendapat kuis-kuis keagamaan yang dangkal-dangkal dan tidak saya perlukan dari nomor “9393” dan kemudian tahu-tahu pulsa tersedot 2000 rupiah, saya komplain di status di akun FB saya ini. Banyak teman yang memberi saran agar mengirim “Unreg” ke operator konten itu.

Terima kasih, teman-teman.
Saya melakukan saran Anda. Bunyi sms mereka :

“Anda sudah berhenti berlangganan SMS 9393.”
Pengirim : 9393.
Pusat pesan : +6281100000
Dikirim : 19 September 2011 : 09.41.38”

Tetapi tetap juga dengan hati gondok.


Karena untuk keluar itu pun pulsa saya tetap terpotong 350 rupiah. Datang tidak diundang, pergi-pergi tetap meninggalkan hati yang meradang.

Kemaruk 500 SMS Gratis. Sebelumnya, saya juga merasa tidak beres ketika dari nomor “222” memberikan bonus gratis 500 sms. Iming-iming itu tiba-tiba muncul ketika secara beruntun saya harus mengirimkan sms kepada, kira-kira, belasan orang.

Apakah nomor “222” ini milik Telkomsel ? Kalau tidak, mengapa operator “222” seperti tahu aktivitas saya ber-sms saat itu ? Apa Telkomsel telah membocorkan kecenderungan saya ber-sms-ria saat itu kepada operator “222” tersebut ? Kira-kira rahasia konsumen apa lagi yang diketahui oleh operator dan berpeluang dibocorkan kepada penyedia isi untuk keuntungan salah satu atau keduanya

Ketika menerima pertama kali, tentu hal itu nampak seperti menyenangkan. Di benak saya kemudian tiba-tiba muncul keinginan untuk mengirimkan sms, sekadar “say hello” atau kirim kabar remeh temeh kepada teman atau kerabat yang semula tidak masuk agenda.

Angka 500 sms gratis seolah memberi kita ilusi keleluasaan tanpa batas. Dan menggoda untuk harus dan segera dimanfaatkan. Karena begitu meliwati tengah malam, layanan itu hapus. Bahkan ketika layanan 500 sms itu baru saya pakai sekitar 30-an sms, sudah muncul layanan baru lagi. tersedia 100 sms gratis untuk bisa saya gunakan.

Tetapi begitu saya gunakan, kuota sms yang berkurang justru pada kelompok “100” itu dan bukan dari kuota yang “500.” Kerancauan pun terjadi. Kemudian saya akhirnya menduga, kedua layanan ini sebenarnya merupakan jebakan. Konsumen dikilik-kilik untuk memanfaatkan iming-iming gratis itu, di mana nafsu serakah kita dikobar-kobarkan, sekaligus membuat sikap kehati-hatian dan correct menjadi tergusur.

Kita kemudian tergiur untuk tidak menghitung berapa kali sms yang telah kita kirimkan, termasuk pula tidak tergerak untuk teliti atau rewel dengan menghitung saldo pulsa yang tersisa setelah melakukan pengiriman sms. Nilai nominal yang “hanya” sebesar 100-150 rupiah juga membuat kita mudah untuk tidak waspada.

Padahal, saya pernah melihat iklan dari perusahaan konsultan kelas dunia, Accenture, yang menggambarkan bisnis masa depan ibarat gulungan ombak. Ombak itu bila dilihat secara detil terdiri dari keeping-keping mata uang. Inilah, boleh jadi, sekarang ini merupakan era micropayment, era mengonsumsi barang atau jasa dengan pembayaran bernilai recehan. Korupsi 100-150 rupiah bila terjadi pada diri konsumen sebanyak 10 juta orang, tentu nominal akhirnya jelas bukan jumlah yang kecil lagi.

Syukurlah, kita kini hidup di era media sosial. Cerita-cerita korupsi pulsa seharusnya tidak hanya disuarakan oleh seorang Feri Kuntoro saja. Warga Matraman, Jakarta Timur ini, mengaku pulsanya disedot (pelakunya oleh artikel ini disebut sebagai cellular bandit) hingga sebesar 180-200 ribu tiap bulannya karena menerima sms-sms iklan yang tak ia kehendaki setiap harinya.

Kemarin sore (10/10/2011), anggota DPR dari Partai Demokrat, Roy Suryo, mengatakan bahwa para kurban pencurian pulsa itu kebanyakan tidak tahu. Gumam saya, tentu saja tidak tahu. Karena sms-sms bermasalah itu operatornya tidak menjelaskan secara detil tentang peluang sampai konsekuensi dari tawaran yang mereka sodorkan tersebut.

Bayangkan, apabila Anda pun membalas sms itu dengan sikap marah, dan sms itu Anda kirimkan kepada operator, oleh mereka akan dianggap bahwa Anda setuju untuk menjadi pelangggan layanan sms-sms tersebut.

Sebelumnya, di acara bincang-bincang di TVRI, kejelasan informasi kepada pengguna HP bila menerima tawaran-tawaran sms itu, juga digugat oleh fihak Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia. Tetapi dari fihak pemerintah, saat itu diwakili oleh Dr. Henry Subiyakto yang staf ahli Menkominfo, nampak tidak ngeh atas gugatan dari YLKI itu. Jadi kayaknya idem ditto dengan Roy Suryo di atas.

Nampaknya mereka berdua belum pernah menerima sms-sms berisi sampah-sampah belaka itu. Jadi keduanya tidak bisa berempati kepada Feri Kuntoro dan jutaan korban lainnya.

Saat mengetik ini, HP saya tiba-tiba muncul sms dari Telkomsel : HANYA UNTUK ANDA SD 18 Oktober 2011. BONUS PULSA 4000 ke sesama Telkomsel setelah isi ulang mencapai 20 rb. Bonus diterima max 1x24 jam. Cek Bonus*889#.S28”

Lampu merah di benak saya segera menyala.


Wonogiri, 11/10/2011

Sunday, September 18, 2011

Telkomsel 9393, Si Perampok Pulsa Berkedok Kuis Agama ?




Sejak bulan puasa yang lalu tiba-tiba di hp saya muncul kiriman info berupa sms yang secara rutin berasal dari nomor 9393. Hampir tiap hari. Isinya rupa-rupa info dan atau kuis keagamaan yang tidak saya perlukan. Setiap kali muncul, biasanya terdiri dua sms, dan langsung saya buang.

Tetapi akhir-akhir ini saya baru sadar, ternyata tiap pemunculan sms itu akan menggerogoti saldo pulsa sebesar Rp. 2.200. Ikut atau tidak ikut kuis, saldo Anda pasti terpenggal sebesar angka itu.

Sungguh menjengkelkan. Anda tahu solusinya agar saya bisa segera terbebas dari aksi perampokan seperti ini ? Tolong saya.Korban lain infonya dapat di klik disini, disini dan disini pula.

Friday, September 09, 2011

Waspadailah, Ketika Memanfaatkan Bonus 500 SMS Telkomsel !




Hati-hati bila menerima bonus Opr 1 sebesar 500 SMS dari Telkomsel. Tiga hari ini saya memperoleh bonus itu, juga tiga kali. Malah dua kali ketika baru menggunakan sekitar 20-an sms, sudah ditambahi bonus 100 SMS lagi. Tetapi ketika rada sering mencek saldo saya, muncul hitung-hitungan yang misterius.

Saya hari ini (9/9/2011) jam 9.39 telah menerima bonus itu saat saldo saya 69971. Malam ini, dengan memencet *889# segera tersaji info berbunyi “Anda memiliki 484 SMS Opr 1.” Artinya dari bonus itu tercatat telah saya gunakan sebanyak 16 sms sampai malam ini pula.

Pada hal saat jam 19.15, ketika mencek, kok tiba-tiba saldo saya anjlok 64571 ? Harusnya kan tetap. Karena saya tidak melakukan telepon sama sekali. Saya hanya kirim-kirim sms. Kalau ada layanan sms gratis, lalu mengapa harus terjadi pengurangan sebesar Rp. 5400,00 tersebut ?

Dihitung-hitung, dan bila angka 5400 itu dibagi biaya kirim 150 rupiah /sms, akan diperoleh angka 36 sms dan bukan angka 16 seperti kalau kita mencek memakai *889#. Bila satu sms sebesar 120 rupiah, maka sama dengan biaya pengiriman sebanyak 45 sms.

Dengan demikian, operator Telkomsel itu dengan meluncurkan iming-iming bonus 500 SMS gratis itu senyatanya patut diduga menjebak saya sebagai konsumen untuk tidak sadar mengirimkan sms SECARA TIDAK GRATISAN sebanyak :

36-16 = 20 SMS @ 150 rupiah.
Atau : 45-16 : 29 SMS @ 120 rupiah.

Ini sungguh keteledoran saya sebagai konsumen yang lumayan bodoh, bukan ?

Tuesday, June 14, 2011

Ramalan Jaya Suprana 1998 : Sri Mulyani Indrawati Sebagai Presiden Indonesia !




Oleh : Bambang Haryanto
Email : epistopress (at) gmail.com


Yth. Bang Wimar Witoelar,

Salam SMIK.
Semoga revolusi SMIK yang Anda gelindingkan dari Lampung akan menjadi bola salju yang makin besar, lalu mampu membangkitkan inspirasi bagi kaum muda seluruh Indonesia.

Saya membaca beritanya di The Jakarta Post, dimana terkait Ibu Ani itu saya bisa bernostalgia, surut ke tahun 1998.

Sesudah Solo dan Jakarta terbakar Mei 1998, atas dorongan teman-teman, saya dan adik saya ingin mengadakan seminar ekonomi di Solo. Penyokongnya, pebisnis mebel Solo, Jokowi, yang kini jadi walikota.

Pembicara tunggal seminar itu, Ibu SMI. Moderatornya, Mas Jaya Suprana. Itu terjadi tanggal 14/8/1998. Saya sendiri yang mengantar uang transport ke Ibu SMI, diterima asistennya di FEUI Salemba. Ini ibarat pulang kampung, karena saya pernah kuliah di UI pula, tetapi di kampus Rawamangun.

Di acara seminar di Solo itu, Mas Jaya kok ya sudah meluncurkan wacana bila Ibu Ani merupakan presiden Indonesia masa depan. Di Facebook, cerita terkait momen itu sudah berkali-kali saya tuliskan.

Kini, rupanya ramalan Mas Jaya itu semakin membumi. Antara lain dengan hadirnya gerakan SMIK yang Bang Wimar dkk gulirkan tersebut. Saya di Wonogiri, ingin bergabung di dalamnya. Untuk itu, saya ingin iuran usul-usil berikut ini.

Beberapa hari yang lalu, saya memperoleh email siaran pers tentang peresmian SMIK Jawa Timur. Kabar baik dan menggembirakan. Sayang, siaran persnya itu “kaku” :-):-) dan sulit untuk dijadikan sebagai virus gagasan a la bukunya Seth Godin, Unleashing The IdeaVirus (2001) yang terkenal itu.

Foto-foto yang disertakan masih seperti foto arisan, kurang menarik bagi orang lain. Juga tidak disertakan logo atau karya grafis yang inspiratif menggambarkan semangat sampai visi-misi SMIK, yang bisa kita pajang di FB atau blog, atau kita bagi-bagikan sebagai virus di media-media digital yang ada.

John Naisbitt bilang : Orang beli mobil bukan karena teks, tetapi karena foto.

Moga-moga di SMIK ada sosok-sosok seperti Joel Benenson sampai David Axelrod yang buah pikirannya ikut pula menentukan sukses kampanyenya Obama.

Begitulah, Bang Wimar, usul-usil saya. Semoga obrolan ini bermanfaat. Kabar lain, buku lanjutan saya, Komedikus Erektus 2 : Dagelan Republik Semangkin Kacau Balau kini memasuki tahap digarap oleh penerbit.

Hormat saya dari Wonogiri,

Bambang Haryanto
26 mei 2011

Thursday, April 07, 2011

Amazing Grace, Victoria Monk, Baluwarti 1970-an


Obrolan Dengan Oyos HN Saroso di Facebook, 8/4/2011


Tks,Mas Oyos.
Judulnya "Amazing Grace."
Lagu umat Kristiani yang ditulis penyair dan pendeta Inggris John Newton (1725–1807).

Pesannya, walau pun besar dosa-dosa yang kiat perbuat bila kita bertaubat kepada Tuhan, kita akan memperoleh pencerahan jiwa,terbebas dari putus asa.

Saya pertama kali dengar tahun 1975-an di Baluwarti, Solo. Ada tetangga 3-4 bule Australia yang kost di situ.Ada salah satu cewek artistik, Victoria Monk, bermata biru, suka melukis, suka keluyuran bersama, yang menceritakan lagu itu.

Walau saya bukan Kristiani, lagu itu indah sekali.

Cerita lebih komplit di Wikipedia ini

Saturday, March 05, 2011

Reuni Rawamangun 80-an dan Museum



Oleh : Bambang Haryanto
Email : epistopress (at) gmail.com


Mas Djulianto Susantio,

Salam sejahtera. Terima kasih banyak. Karena tulisan tentang museum dari kacamata orang awam, non-arkeo, bisa ikut mengisi blog museum menarik yang Anda kelola itu.

Sekadar obrolan : dari banyak sekali alumnus sesuatu jurusan, rasanya hanya sedikit (sekali) yang suka dan setia menulis tentang disiplin ilmu yang pernah mereka pelajari. Dari Arkeologi-FSUI, Mas Djulianto Susantio merupakan buktinya.

Sejak saya masuk di Ilmu Perpustakaan FSUI tahun 1980, secara sepintas lintas saya sering menemui nama Anda dan tulisan Anda. Kalau ga salah di Sinar Harapan. Juga di tabloid Mutiara. Tentu masih banyak media yang lain,mungkin majalah ilmiah/profesional, tapi yang saya tahu ya media yang kantornya di Dewi Sartika itu. Kalau ga salah, untuk ambil honornya di lantai tiga ya ?

Penulis dari Arkeo lainnya, selain almarhum Norman Edwin, adalah juga Bernard Sinaulan. Tapi sayangnya, saat kita sama-sama di bawah satu lindungan rimbun daun-daun akasia di Kampus Rawamangun, mungkin ijazahnya sama-sama ditandatangani Pak Nurhadi Magetsari, kita "ditakdirkan" tidak saling mengenal saat itu. Untung Internet kini bisa menfasilitasi :-).

Ada mahasiswi Arkeologi yang dulu sempat saya kenal. Antara lain : Anez (1982). Sesudah lama tak ada kabar, pada tanggal 22 Desember 2005 yang lalu, saya dapat email dari kakaknya (ia dapat alamat email saya itu dari blog), tentang dirinya. Sayang, kabar sedih tentang dirinya.

Hal lain Mas Djulianto Susantio, saya minta sedikit info tentang museum.
Mohon info-info nama museum dan situsnya, yang sudah memajang koleksinya di dunia maya.Moga tak merepotkan.

Sekian dulu obrolan dari Wonogiri.
Sukses selalu.


Bambang Haryanto

Wonogiri,6/3/2011

Thursday, February 17, 2011

Aksi Teror, Wimar dan Menjaga Indonesia Kita



Oleh : Bambang Haryanto
Email : epistopress (at) gmail.com


Peristiwa kekerasan di Cikeusik terus saja mengusik.

Tanda-tanda pita biru yang dikenakan oleh kelompok penyerang, nampaknya sebuah kesengajaan. Sengaja agar bisa dikenali, sekaligus sengaja dirancang oleh sang aktor intelektual untuk kemudian riuh-rendah menjadi bagian dari cerita-cerita sirkus di media. Utamanya media televisi.

Karena tanpa televisi, semua aksi kekerasan itu hanya seperti sebuah batang pohon yang tumbang di hutan. Tak ada yang mendengar. Tidak menimbulkan dampak psikologis, sementara tujuan utama serangan, aksi kekerasan atau pun terorisme dirancang untuk menimbulkan dampak psikologis pada masyarakat seluas-luasnya. Televisi kita segera rakus mencaploknya.

“RT @nd_nir: Televisi kita adalah lahan subur bagi para pembenci dan pembela kaum perusak & pembunuh,” itulah pendapat budayawan Goenawan Mohammad dalam re-tweet pada akun Twitternya, 10/2/2011 yang lalu.

Media televisi sebagai pengompor aksi kekerasan juga menjadi keprihatinan cendekiawan muslim dan pengamat politik Timur Tengah, Zuhairi Misrawi. Dalam akun Twitternya (15/2/2011) ia menulis : “ Media juga kurang selektif memilih ulama sebagai narasumber. Jika konflik horisontal meruncing, maka media juga berperan dlm proliferasi kekerasan.”

Selanjutnya Goenawan Mohamad mengindikasikan betapa penyerangan di Pandeglang Banten, dan disusul di Temanggung itu juga sebagai aksi kelompok tertentu untuk memberikan pesan :

“Banten, Temanggung...Mafia Hukum di luar kepolisian memberi aba2: "Siapa yg ganggu kami tak akan selamat di th 2014 - atau sebelumnya." (8 Februari 2011).

“Banten, Temanggung...Ini isyarat Mafia Hukum di Kepolisian: "Jangan ganggu kami, sebab kami bisa ganggu kamu, dan kamu akan perlu kami" (8 Februari 2011).

Déjà vu !

Rentetan kejadian kekerasan itu mudah mengingatkan sinyalemen pengamat politik Wimar Witoelar sekitar 9 tahun yang lalu. Ia menulis artikel berjudul “Terror has deep roots in Indonesia,” di surat kabar Inggris, The Guardian, 16 Oktober 2002, setelah bom Bali meledak, 12 Oktober 2002.

Intinya : budaya aksi terror itu sudah berurat dan berakar di tubuh pengelolaan kekuasaan di Indonesia. Utamanya sejak Orde Baru berkuasa, yang ia sebut sebagai terorisme Negara. Petikannya :

“Di tahun 70-an, Suharto berkeyakinan bahwa bahaya komunis membutuhkan militer dan kelompok radkal Islam untuk bekerja sama. Hal ini berujung kepada pendirian organisasi Jemaah Islamiyah, yang sekarang disebut sebagai cabang local dari al-Qaida. Kaum militer garis keras terus berlanjut dalam menyokong milisi radikal Islam secara “on” dan “off” sepanjang tahun, untuk muncul dalam jaringan “operasi-operasi khusus.”

Ketika Suharto jatuh, kaum garis keras militer ini memindahkan markas mereka keluar dari Indonesia, tetapi jaringannya masih utuh. Mereka menjadi apa yang dikenal sebagai “kekuatan hitam,” terdiri dari elemen-elemen preman di dalam atau pun di luar tubuh militer. Kerusuhan Mei 1998 menunjukkan kekuatan mereka, yang membuahkan ribuan nyawa melayang…”

Mungkin saja “kekuatan hitam” itu kini kembali bermain. Mungkin dengan mitra-mitra baru mereka. Indikasinya kuat, seperti kembali tulis Zuhairi Misrawi dalam akun Twitternya (13/2/2011) berikut ini :

“Di negeri ini, ekstremisme menjadi mata pencaharian, bukan ideologi an sich.”

“Kalangan ekstremis di negeri manapun dgn jantan mengakui aksi kekerasan. Krn itu menjadi ideologinya. Tp di negeri ini beda.”

“Penyakit ekstremis di negeri ini, mereka kerap membantah perilaku kekerasannya.”

Mungkin karena begitu besar dan begitu kuatnya “kekuatan hitam” itu, sehingga ketidaktegasan SBY yang menonjol dalam menyikap peristiwa di Banten atau pun Temanggung, bisa kita anggap sebagai penegasan dari eksistensi mereka.

Masa depan Indonesia berada di tangan kita semua.
Mari kita jaga dengan akal sehat dan kewaspadaan.

Wonogiri, 18/2/2011

Wednesday, January 19, 2011

Revolusi Locavore, Harga Cabe dan EI Kita



Oleh : Bambang Haryanto
Email : epistopress (at) gmail.com


Salam episto ergo sum.
Anda sudah mengenal istilah ini : locavore ?
Saya ketabrak istilah itu gara-gara cabe.

Ceritanya, kemarin saya memperoleh cerita tentang cabe itu dari penjual mi ayam Mas Jan di Wonogiri. mBaknya baru pulang dari pasar, dan mengeluh. Ia baru saja membeli cabe seperempat kilogram dengan harga gila-gilaan.

"Satu kilogram cabe rawit, kini masih seratus ribu rupiah," katanya.

Pagi ini (20/1/2011), mungkin karena masih dihantui harga cabe, ketika buka-buka situs koran The Jakarta Globe, saya menemukan istilah locavore itu dalam artikel yang inspiratif. Tentang revolusi memperkuat pengadaan pangan.

Disitu, penulisnya, Magfirah Dahlan-Taylor yang kandidat PhD bidang perencanaan, tatalaksana dan globalisasi dari Virginia Tech (AS), membahas gagasan revolusi memperkuat daya tahan pengadaan pangan di negara kita ini melalui upaya pemanfaatan halaman kebun rumah-rumah kita.

Ia lalu merujuk ikhtiar Ibu Negara AS, Michelle Obama, yang berkebun tanaman sayuran di kompleks Gedung Putih. Aksi mulia Ibu Negara AS itu sejalan dengan tren gerakan masyarakat di AS yang berlabel locavore (ada yang menyebut localvore). Gerakan itu pada intinya berusaha mendekatkan sumber makanan kepada konsumen yang selama ini terbiasa mengambil makanan dari rak-rak di pasar-pasar swalayan ketimbang langsung dari tanaman.

Dengan gerakan ini kita diajak mengonsumsi makanan-makanan hasil budi daya lokal. Selain lebih murah, karena tidak terbebani biaya transportasi [baca kisah mBak Bea yang kini tinggal di Perancis ketika kangen makanan asal Indonesia], kita juga diajak/diajar untuk mengetahui ikhtiar apa saja yang membuat tanaman itu tumbuh. Misalnya, apakah memakai pupuk kimia ataukah pupuk organik ?

Dengan rendah hati, bersama ini saya ajak warga EI untuk mengabarkan revolusi pola pikir locavore yang luhur ini kepada siapa saja. Saya yakin, Mas Joko Suprayoga yang di artikel-artikelnya di Kompas Jawa Tengah sering dengan bangga menyebut sebagai anak petani, akan mampu memperkaya gagasan ini dengan cerita dan panduan yang lebih komprehensif. Beri kami, kalau bisa, bimbingan untuk menjadi gerakan.

Sehingga ketika Anda bersedia membaca berita berikut ini yang mengabarkan harga cabe mampu mencapai seperempat juta rupiah per kilogramnya, semoga tanda bahaya itu, yang juga bisa menjalar ke komoditas pertanian lainnya, mampu menginspirasi kita untuk mulai bergerak. Dimulai dari hal kecil, dari diri kita, dari rumah kita, dan sekarang juga.

Bisnis benih epistoholik. Bagi saya, imbauan seperti ini bukan hal baru. Sedikit bernostalgia, di tahun 1998 ketika badai krisis moneter menggebuk Indonesia yang membuat saya harus pulang kampung ke Wonogiri setelah ngendon di Jakarta lebih dari 18 tahun, saya sempat membuat isu dan gerakan berkebun tanaman sayuran di halaman rumah sendiri. Juga saya sebarkan dan promosikan melalui kolom-kolom surat pembaca.

Saya mengajak pembaca, dengan memanfaatkan kaleng-kaleng bekas cat, untuk berkebun tanaman cabe, sawi, kangkung, sampai kacang panjang. Saya bahkan berbisnis benih-benih tanaman sayuran itu, juga pupuk organik, melalui jasa pos.

Cerita jadul itu sempat saya tulis di blog Esai Epistoholica pada bulan Agustus 2005 : "Bisnis pertanian melalui surat pembaca juga pernah saya terjuni. Akibat krismon di awal 1998, saya pun harus hengkang dari Jakarta. Kembali mudik ke Wonogiri.

Dalam perjalanan bis Solo-Wonogiri, saya temukan penjaja asongan yang menawarkan produk unik. Yaitu paket kecil berisi sepuluh jenis biji-bijian, benih tanaman sayuran. Ada bayam, kangkung, lombok, sawi, tomat, gambas sampai mentimun. Saya membeli dan minta alamat penjualnya. Dirinya tinggal di daerah Sukoharjo. Harga satu paket, Rp. 1.000. Kalau belinya banyak, harganya Rp. 600 per paket.

Pertanian adalah subjek yang saya buta sama sekali. Saya anak tentara, bukan anak petani. Selama 18 tahun saya pun tinggal di Jakarta. Kini tiba saatnya, pikir saya, untuk belajar menjadi petani. Saya segera mencari info ke Departemen Pertanian. Bahkan kemudian menemukan tempat yang menjual pupuk organik. Juga membaca-baca majalah pertanian Trubus yang terkenal itu.

Di masa krisis moneter itu cabe harganya mencapai puluhan ribu per kilogram, aku pikir, gerakan swadesi alias mencukupi kebutuhan diri sendiri model Mahatma Gandhi sebaiknya dicoba untuk dipromosikan."

Dalam artikel ini sempat muncul pula topik obrolan tentang "partai epistoholik indonesia" yang gagasan Mas Purnomo Iman Santoso, artikel ini juga membuat saya dapat kejutan di tahun 2010, ditelepon adik dari seseorang yang cantik, yang saya rasani di artikel ini pula. Kalau Anda ada waktu, cerita komplitnya bisa Anda klik disini.

Sekian dulu obrolan saya tentang harga cabe, gerakan locavore, dan inspirasi dari Mahatma Gandhi ini.Terima kasih untuk atensi Anda.

Salam episto ergo sum !


PS : Saat ini saya memelihara 6-7 tanaman cabe. Walau tak begitu lebat, saya masih bisa mengonsumsi sayuran favorit ini, untuk diganyang menemani tempe mendoan.

bh

Thursday, January 13, 2011

Thomas Sutasman, FS Hartono dan Pesan Moral Anthony Parakal



Oleh : Bambang Haryanto
Email : epistopress (at) gmail.com


Salam episto ergo sum !
Pertama, semoga Anda warga Epistoholik Indonesia, sehat-sehat semua.
Kedua, terima kasih untuk Pak Thomas Sutasman di Cilacap.
Karena beliau yang mengajar di SMP Pius Cilacap itu telah sudi berbaik hati, mengirimkan hasil scan halaman majalah Utusan, edisi Januari 2011.

Isinya menarik : tentang profil penulis surat pembaca dari Purwosari, Sinduadi,Mlati, Yogyakarta, yang bernama Bapak Floribertus Soeryo Hartono (72).

Apakah warga EI sudah mengenal beliau, yang sering menulis dengan nama terkenalnya FS Hartono ?

Seingat saya, beliau sering menulis untuk kolom surat pembaca di Majalah Tempo. Isinya bernas, daya kritiknya tajam, mengiris, dan inspiratif [lihat contoh di bawah]. Beberapa waktu lalu saya pernah berkorespondensi dengan beliau, tetapi melalui surat dan sms.


Kalau hari Lebaran, beliau yang seorang pemeluk Katholik (baru saya ketahui dari info majalah Utusan tadi),seringkali mengirimi saya kartu Lebaran. Terima kasih, Pak FS Hartono.

Waktu Radio Geronimo Yogyakarta meminta nara sumber dari EI untuk acaranya, Agustus 2010, selain Mas Tuwarji, saya juga sms ke Pak Hartono (foto). Kiranya, yang punya cukup waktu saat itu adalah Mas Tuwarji.

Kalau Anda sempat melongoki blog Epistoholik Indonesia kita [http://episto.blogspot.com], nama beliau sudah terpajang di sana sebagai warga Epistoholik Indonesia pula.Sekali lagi, terima kasih, Mas Thomas untuk kiriman infonya yang menarik.

Pesan moral Pak Parakal. Mungkin sebagai kebetulan, sebelum membuka email dari Cilacap itu, pagi harinya saya meriset situs majalah TIME. Mau mencari kisah Pak Anthony Parakal, di edisi 6 April 1992.

Inilah majalah yang menginspirasi berdirinya komunitas EI kita ini. Majalahnya sih ketemu, termasuk juga gambar sampulnya (foto), tetapi artikel tentang Pak Parakal kok malah tidak ketemu.

Dari sumber lainnya,situs DNAIndia edisi 27 Januari 2006 ["ajaib, karena tanggalnya bertepatan satu tahun deklarasi EI dan penetapan sebagai Hari Epistoholik Nasional" :-)] saya kemudian memperoleh info mutakhir tentang beliau.

Pak Parakal sudah pensiun menulis surat pembaca. Selain sepuh, gangguan penyakit gulanya juga menjadi penghalang untuk berkarya. Anaknya, dua perempuan dan satu lelaki, semuanya berpendidikan tinggi. Tetapi tak ada yang meneruskan "karier"-nya sebagai epistoholik.

Malah keponakannya, Anup Mathew (20), mengikuti jejak beliau sebagai penulis surat pembaca. "Sepertinya warisan saya akan tetap ada yang meneruskan," canda Pak Parakal.

Pak Parakal sudah pula menulis surat pembacanya yang terakhir pada majalah TIME, edisi 12 Desember 2005. Isinya, sarat banget sentuhan keprihatinan beliau yang mendalam tentang nasib umat manusia.Benar-benar tulisan seorang epistolaureate, seorang empu penulis surat pembaca.

Petikannya :

"Satu hal yang mengherankan, mengapa manusia yang mampu berjalan di bulan dan mengeksplorasi planet Mars, tetapi tidak mampu mencegah planet bumi kita menjadi benar-benar sebuah neraka.."

Lengkapnya :

"This world is blessed with enough human and material resources for every human being to live in peace and prosperity. Yet human suffering continues to grow. Most disheartening is the fact that many precious resources that should have been used for human welfare have been wasted on war.

One wonders why man, who has walked on the moon and explored Mars, cannot prevent Earth from becoming a virtual hell."

Anthony Parakal
Bombay

Terima kasih, Pak Parakal. Semoga inspirasi dan keteladanan dari Pak FS Hartono dan Pak Anthony Parakal itu selalu mampu memperteguh pegangan pena kita dalam menggurat pesan, menyumbangkan sesuatu bagi kemaslahatan bersama.

Salam episto ergo sum.
Selamat terus menulis, sahabat.
Semoga obrolan ini bermanfaat.


Wonogiri, 13/1/2011

Arsip surat-surat pembaca Bapak FS Hartono :

Berfikirlah Positif, majalah Tempo, 29 November 2010.
Melecehkan Profesi Legal, majalah Tempo, 3 Mei 2010.
Mawas Diri, majalah Tempo, 22 Februari 2010.
THR Untuk Pejabat, Koran Tempo, 22 September 2008.

bh

Friday, January 07, 2011

Kompas Jateng Pergi, Tribun Jateng Menanti ?



Oleh : Bambang Haryanto
Email : epistopress (at) gmail.com


Salam episto ergo sum !
Semoga Anda sehat-sehat di tahun yang baru, 2011.

Sebagai kaum epistoholik, awal tahun saya membaca koran pertama kali, yaitu Kompas 3/1/2011. Tampak tipis. Sudah tidak ada lagi lembaran Jawa Tengah.

Di halaman pertama,terpajang manifesto dari Pemrednya, Rikard Bagun, mengenai dihapuskannya lembaran daerah itu. Kompas, katanya, ingin "tetap" atau ingin "kembali" sebagai koran nasional.

Toh, tetap ada sesuatu perasaan yang hilang ketika tak bisa melihat lembaran Kompas Jawa Tengah itu lagi. Boleh jadi, karena lembaran itu, ketika baru terbit di tahun 2004, dapat dikatakan sebagai mitra dekat komunitas Epistoholik Indonesia kita.

Saat-saat itu Mas Joko Suprayoga, Mas Triyas dan saya, disusul Mas Purnomo Iman Santoso, seperti berlomba berkontribusi melalui kolom terhormat tersebut. Sehingga sampai ada penulis surat pembaca dari Semarang perlu meresensi sabetan pedang-pedang pena dari trio pendekat EI itu.

Muncul tahun 2004 dan surut tahun 2011, melewati masa 7 tahun. Mungkin angka ini yang membuat beberapa aktifis EI memperoleh cenderamata perpisahan, berupa 7 mug Kompas itu. Terima kasih, Kompas.

Alfa-Omega.
Awal dan akhir.

Kolom surat pembaca Kompas Jawa Tengah, sebagai catatan sejarah komunitas EI kita, untuk penerbitan yang terakhir kalinya, 31 Desember 2010, telah dihiasi oleh tulisan Mas FX Triyas Hadi Prihantoro. Judulnya, "Tahun Baru, Etika Baru." Salut Mas Triyas untuk pesan perpisahan yang mencerahkan.

Menatap ke masa depan. Seperti kabar dari Nurfita, mungkin Kompas Jawa Tengah akan digantikan dengan koran baru, Tribun Jawa Tengah. Begitukah ?

Saya baru saja baca-baca situs Kompas, mengenai laporan aktivitas menyambut Liga Premier Indonesia di Solo sore nanti (8/1/2011) yang ditulis wartawan Tribun Jogja. Apakah koran Tribun Jogja sudah terbit ?

Merujuk data dari media maya itu, sepertinya dugaan Nurfita itu akan jadi kenyataan. Sebagai kaum epistoholik di Jawa Tengah, mungkin kita akan memperoleh mitra baru, wahana baru untuk berkarya.

Ada cerita ekstra. Saat beli Kompas itu, saya sempat melongoki koran Suara Merdeka, 3/1/2011. Halaman untuk surat pembaca tidak ada. Karena diduduki oleh iklan berita duka. Satu halaman sendiri.

"Orang yang meninggal tetapi mendatangkan uang, rupanya lebih baik daripada karya orang yang hidup tetapi tidak menghasilkan uang," gitu celetuk jahil saya.Sori, Mas Kukrit. Tak apa-apalah.

Peniadaan halaman semacam ini, bagi saya seperti menjadi ironi. Utamanya bila merujuk heboh baru tentang Gayus Tambunan yang pergi lagi ke Singapura, Makau dan Kuala Lumpur itu.

Orang ini kekuatan negosiasinya, hebat bener. Sampai-sampai di Facebook saya tulis, karena kagum atas powernya yang satu itu, sehingga membuat ia bisa pergi-pergi kemana saja ia mau.Saya tulis,bahwa kepergiannya kali ini membawa misi mulia.

"Gayus lagi melaksanakan tugas/mandat dari Sekjen PBB, Ban Ki-moon. Untuk mendamaikan konflik Korea Utara vs Korea Selatan."

Mas Pur berbaik hati, menimpali cerita lebay itu dengan ha-ha-ha...

Tetapi Anda tahu siapa pemicu kabar heboh tentang Gayus itu lagi ? Saat ia keluyuran di Bali, pengungkapnya wartawan foto Kompas, Agus Susanto. Kali ini pemicunya, Devina, yang menulis surat pembaca di Kompas Minggu, 2/1/2011.

Gumam saya : kalau ada kolom sehebat itu manfaatnya, seperti pula isi surat pembaca Hendra NS yang bikin geger RI-1 karena mengkritisi aksi sewenang-wenang pengawal presiden, mengapa koran-koran kita justru terkesan berlomba untuk menghapuskannya ?

Anda punya jawaban ?
Saya nantikan.
Salam episto ergo sum,


Bambang Haryanto

PS : Saat ini saya lagi mabuk baca-baca surat jenis lainnya. Yaitu surat berisi rayuan untuk menjadi kaya-raya tanpa perlu bekerja.Kalau di kotak sampah email Anda menemukan surat dari orang tak Anda kenal, tapi menawari Anda uang jutaan dollar hanya dengan mengirim data diri sampai nomor rekening bank Anda, itulah surat resep kaya a la Nigeria. Istilah lainnya, "scam 419" sampai "nigerian scam." Ketik saja di Google, Anda akan kebanjiran cerita tentang surat-surat ajaib itu.

Saya mabuk, bukan karena ingin meniru hal itu. Tetapi saya sedang berusaha mencari celah-celah kreatif untuk mencari sisi-sisi humornya. Baik bagi kreatornya mau pun dari sisi korbannya. Karena setiap hari, setiap membuka email, surat gaya Nigeria itu selalu saja ada.Bahkan tak hanya satu-dua surat. Itu menandakan : bisnis mereka itu berjalan dengan sentosa.

Siapa tahu, aktivitas ini bisa mengisi kegiatan ketika kolom-kolom surat pembaca di koran-koran kita sudah dihapus kaplingnya sama sekali :-((

Terkait humor, kabar tak penting, buku saya Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Imania, 2010), masih belum jelas situasinya. Syukurlah, ada kabar bagus dari Bandung, bahwa "serapannya lumayan di toko Togamas Bandung." Mungkin ini gara-gara saya dibantu promosi oleh Putri Adityowati, mahasiswi jurnalistik Unpad, yang jadi mewawancarai saya di Wonogiri untuk pengin tahu tentang EI, beberapa hari yang lalu.

Saat mengobrol ekstra, ia saya beri bonus, tentang kiat penguatan memory muscle, myelin (kata pak Rhenald Kasali), yang kiranya wajib dilakukan oleh para penulis, jurnalis dan juga kaum epistoholik. "Menulislah setiap hari !," begitu ajakan saya untuk Putri.Menulis secara "berdarah-darah," bukan menulis a la status di Facebook, atau berkomentar seperti "xixixi" atau "wakakakkka" dan sejenisnya itu.

Ketamuan Putri yang mahasiswi Unpad itu, rupanya lalu menular hingga saya punya kaitan dengan Badui U. Subhan, alumnus Sastra Indonesia, dari Unpad juga. Ia telah berbaik hati menulis resensi untuk buku humor politik saya di atas.

Bila Anda punya waktu dan minat, silakan segera klik disini.

Mungkin Mas Purnomo Iman Santoso saja yang sudah tahu akan isi resensi itu, sehingga berbaik hati menulis komentar di status saya di FB. Kabarnya, dirinya telah membeli buku Komedikus Erektus. Terima kasih, Mas Pur. Moga bisa jadi inspirasi warga EI untuk menulis buku juga.

Kembali bab EI. Dua tahun lalu, Hendro,kakak angkatannya Putri, juga mau bersusah-susah tur cari info bab EI sampai Wonogiri. Kayaknya EI klop banget sama Unpad ? Tetapi belum "klop" sama Undip, UKSW, UNS, sampai UGM ?


Wonogiri, 8/1/2011

Tuesday, December 28, 2010

AFF 2010,Chappy Hakim dan Budaya Korupsi Kita



Oleh : Bambang Haryanto
Email : epistopress (at) gmail.com


Indonesia mabuk kemenangan. Di arena olahraga yang menjadi favorit berat warganya. Di Piala AFF 2010. Tetapi ketika impian itu terancam terempas, tidak banyak yang mau berusaha menggali akar penyebab mengapa semua bencana itu terjadi.

Di antara warga Indonesia yang terpanggil untuk membedah tragedi kekalahan timnas Indonesia 3-0 ditekuk Malaysia pada laga leg pertama final Piala AFF, di Bukit Jalil 26 Desember 2010, adalah Chappy Hakim. Ia pensiunan marsekal, pernah menjabat sebagai KSAU, dan kini aktif sebagai blogger Kompasiana yang kemudian karya-karyanya diterbitkan sebagai buku.

Ulasan menarik dia berjudul Belajar Dari Tragedi Bukit Jalil, yang antara lain merujuk semacam excuse dari pelatih timnas, Alfred Riedl, yang berkali-kali mengatakan bahwa timnya itu sebagai tim yang "belum jadi."

Chappy Hakim menulis : "Sejatinya,jawaban dari hal tersebut sudah diutarakan oleh sang pelatih Alfred Riedl dari sejak awal. Dia berulang kali mengatakan bahwa tim ini sebagai tim yang “belum jadi”. Maknanya adalah, dalam meraih prestasi olahraga, harus diingat bahwa tidak akan pernah sukses itu diraih dengan tiba-tiba. Sukses dalam olahraga tidak bisa tidak harus dijalani melalui tahapan-tahapan berlapis yang harus dilakoni.

Kematangan satu tim sepak bola hanya akan diperoleh dari pengalaman bertanding yang panjang.Kekompakan dalam kerja sama tim hanya akan dapat diraih dari seringnya mereka bermain bersama, tidak hanya latihan, tetapi juga lebih-lebih dalam bertanding.

Tidak hanya bertanding di kandang sendiri, tetapi juga bertanding di kandang lawan. Tidak hanya satu dua kompetisi yang harus diikuti, tetapi juga harus banyak dan sering mengikutinya.Juara hanya dapat diraih dengan “jam terbang” yang cukup."

Bemper seksi Chappy. Pendapat Chappy Hakim di atas adalah pendapat yang masuk akal. Tetapi nampaknya dia kurang menyadari betapa dunia persepakbolaan Indonesia telah hidup dalam "atmosfir busuk" selama ini. Bukan hanya belitan budaya instan yang hidup di kepala para suporter dan semua pemangku kepentingan dunia sepakbola kita, termasuk melakukan naturalisasi Cristian Gonzales dan Irfan Bachdim sebagai upaya menelan pil ajaib mendongkrak prestasi, tetapi terdapat "lubang hitam" lainnya yang lebih dahsyat.

Fenomena "lubang hitam" itu sudah sering saya ungkapkan berkali-kali. Tetapi, tidak ada salahnya saya tuliskan lagi,untuk menanggapi buah pemikiran Chappy Hakim tadi. Inilah pendapat saya selengkapnya :

“Bemper” seksi yang dipasang Pak Chappy Hakim (beda dengan milik Jupe) dengan merujuk pendapat Alfred Riedl bahwa timnya adalah tim “yang belum jadi,” menarik untuk terus dibincangkan. Namun ijinkanlah saya ingin menambahi, betapa “penyakit” sepakbola Indonesia lebih serius dan lebih kronis. Sering sekali untuk blog saya, saya mengutip ucapan Sekjen Asian Football Confederation (AFC), Peter Velappan, di majalah Asiaweek (5/6/1998) menjelang Piala Dunia 1998.

Ia tegaskan : “Indonesia adalah Brazilnya Asia. Pesepakbola Indonesia bermain dengan intelejensia dan bakat unik yang tidak ada duanya di dunia. Bakat-bakat mereka lebih baik dibanding pemain Korea atau Jepang. Pada era 50 dan 60-an, tim-tim Asia jangan bermimpi mampu menaklukkan tim Asia Tenggara.” Tetapi dalam setengah abad terakhir tim-tim Asia Tenggara, termasuk Indonesia hanya bisa memble berat.

Karena menurutnya, "akibat pengelolaan manajemen yang amburadul dan dan tidak bisa membersihkan dirinya dari belitan budaya korupsi." Ada foto Rocky Puitiray lagi melompat (ditulis sebagai Perry Sandria), dengan teks : "Pemain Indonesia banyak yang berbakat, tetapi pengaturan skor meruyak dimana-mana."

Penyakit kronis persepakbolaan kita lainnya, kita bisa belajar dari Freek Colombijn, antropolog lulusan Leiden, mantan pemain Harlemsche Football Club Belanda, mengungkap bahwa posisi sepak bola Indonesia dalam percaturan dunia kini berada dalam posisi periferi, pinggiran.

Dalam artikel "View from the Periphery : Football in Indonesia" dalam buku Garry Armstrong dan Richard Giulianotti (ed.), Football Cultures and Identities (1999), ia menggarisbawahi keterpurukan prestasi sepakbola Indonesia sebagai akibat masih meruyaknya budaya kekerasan di teater sepak bola kita dan belum kokohnya budaya demokrasi di negeri ini. Seolah memberi garis bawah realitas itu, seorang Emil Salim baru-baru ini menyebutkan bahwa demokrasi di Indonesia ibarat anak-anak yang masih berusia 2-3 tahun.

Tanggal 8/1/2005 dan 16/1/2005, sebagai warga Wonogiri saya ikut mendukung timnas di final Piala Tiger 2004. Baik di Senayan mau pun di Kallang, Singapura. Saat itu saya memakai kaos bertuliskan slogan, "I Believe The Withe Magic." Saya percaya akan kepiawaian pelatih timnas saat itu, Peter Withe yang asal Inggris. Toh kita gagal. Padahal, sebelum melatih timnas kita Peter Withe berjaya melatih tim Thailand.

Kalau dia mampu sukses hebat melatih tim Gajah Putih, mengapa dirinya gagal total ketika melatih tim Indonesia ? Pertanyaan itu dan ucapan Peter Velappan atau pun Freek Colombijn, terus saja berdengung di telinga saya bila timnas berlaga di ajang internasional. Sampai saat ini. Mungkin akan kembali mengeras bila nanti Alfred Riedl gagal membuahkan keajaiban di Senayan, Rabu Malam, 29 Desember 2010."

Apa pendapat Anda ?


Wonogiri, 29 Desember 2010

Thursday, December 23, 2010

Nyanyian Angsa Untuk Kompas Jawa Tengah


Untuk milis Epistoholik Indonesia, 23 Desember 2010


Oleh : Bambang Haryanto
Email : epistopress (at) gmail.com


Salam episto ergo sum,

Selamat bersiap merayakan Hari Natal untuk Mas FX Triyas Hadi Prihantoro di Solo, Mas Kukuh Widyatmoko di Malang, juga Mas Thomas Sutasman di Cilacap, dan warga EI yang siap merayakannya.

Juga untuk redaksi dan wartawan Harian Kompas Jawa Tengah yang siap menyambut Natal, Tahun Baru 2011, dan juga situasi baru koran ini pula.

Kemarin, Rabu 22 Desember 2010, saya memperoleh SMS dari Mas Joko Suprayoga (Kendal) : “Kabar buruk pak BH, mulai 2 Jan 2011 nanti Kompas Jateng akan ‘ditutup,’ semua akan dinasionalkan, jadi benar kata pak BH, saatnya buat blog untuk menulis.” [10.23.17].

Balasan saya : “Tks. Wah kok ya sedih juga. 7 mug yll itu salam perpisahan ? Kita lihat 2/1/11 nanti. Ttp ngeblog hrs terus/dimulai, demi terus memperkuat otot2 menulis kita, bukan ?” [10.59.25].

Swan song, itu salah satu lagu dari The Bee Gees.
Nyanyian angsa, itu salah satu judul puisinya Rendra.
Intinya sama : lagu perpisahan.

Warga Epistoholik Indonesia (EI) yang berdomisili di Jawa Tengah, akan segera (atau sudah ?) mendengarkan lagu perpisahaan, sembari didera rasa kehilangan salah satu mitra terdekat sekaligus lahan bhakti untuk berkiprah, ketika nanti tak ada lagi lembaran Kompas Jawa Tengah yang bisa kita pergoki setiap pagi ?

Ada seorang tokoh berpendapat, bila sebuah koran yang paling jelek pun mati, hal itu merupakan kabar buruk bagi demokrasi. Lalu bagaimana kita harus bersikap ketika koran sebaik Kompas ternyata memutuskan untuk melikuidasi edisi Jawa Tengah-nya dan seperti kata Mas Joko, lalu “menasional”-kan diri ?

Apakah hal itu akan membuat kiprah kita sebagai kaum epistoholik, utamanya yang tinggal di Jawa Tengah, menjadi kehilangan arena untuk ikut menyumbangkan pikiran sebagai pengejawantahan mekanisme checks and balances dalam kehidupan berdemokrasi ?

Kita lihat pada tanggal 2 Januari 2011 nanti.

Tetapi seperti tergambar dalam paparan profil komunitas Epistoholik Indonesia di koran Solopos (5/12/2010), kita harus membuka mata betapa kolom surat pembaca di pelbagai surat kabar nampak kian hari, kian menyusut. Ada yang menghapuskannya, ketika kaplingnya laku dijual untuk iklan. Bentuk kolomnya juga sering “pletat-pletot” ketika dijepit sana-sini untuk pemajangan iklan-iklan pula.

Kapling yang menyusut, membuat semangat kita (minimal saya) untuk menulis juga ikutan mengkerut. Rupanya “penyakit” ini diam-diam juga menyebar, sehingga saya sudah dua kali mendapat info dari “orang dalam” surat kabar itu sendiri : ketika stok surat pembaca tidak ada sama sekali, terpaksa muncul surat pembaca “banjelan,” yang hasil rekayasa, karena ditulis oleh sang wartawan surat kabar itu sendiri.

Baguskah ini semua untuk demokrasi ?
Pendapat Anda kami tunggu.

Yang pasti, harapan saya, kondisi eksternal, yang diluar kuasa kita, boleh saja berubah. Tetapi kini tiba saatnya kita harus menanggapi semua perubahan itu secara kreatif. Ketika satu pintu tertutup, semoga masih banyak lagi jendela-jendela lainnya yang akan terbuka.

Seperti diingatkan kembali oleh Mas Joko Suprayoga, kita dapat saja terus menulis dengan media blog, seperti telah saya berusaha kampanyekan selama ini.

Jadi kalau Mas Triyas, seperti dikutip di Solopos Minggu (5/12/2010) telah bilang bahwa media blog adalah media alternatif, maka kini tiba saatnya mendaulat blog itu sebagai episenter aktivitas menulis kita sebagai warga e-pistoholik.

Huruf “e” sengaja saya pisah, sebagai penekanan betapa kepanjangannya, yaitu “electronic,” akan mengantar (Anda semua tahu) buah-buah pemikiran kita yang kita tulis di media digital itu mampu,secara teoritis, merangkul audien dunia.

Harapan saya : kalau Anda selama ini mampu menulis surat-surat pembaca atau artikel di media-media berbasis atom (baca =kertas) dengan cinta, dengan bersemangat, maka hal serupa juga dibutuhkan ketika Anda menulis untuk media-media berbasis bits, sinyal-sinyal elektronik, yaitu blog-blog Anda.

Karena tanpa cinta, tanpa semangat, tanpa passion, tanpa adanya panggilan hati, gagasan-gagasan itu tidak akan mampu terbang jauh untuk menyelinap ke sanubari pembaca-pembaca Anda.

D. H. Lawrence (1885–1930), novelis dan penyair Inggris, telah bilang : “Duduk-duduk manis sajalah bila kau tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan, tetapi bila panggilan hati menggerakkanmu, katakanlah yang harus kau katakan, dan katakan semuanya dengan sepenuh gelora.”

Bermediakan blog, dimana Anda adalah penulis, editor, penerbit, sekaligus sebagai pemilik media, ujaran D.H. Lawrence itu dapat Anda lakukan secara paripurna. Sekarang juga !

Salam episto ergo sum !


Bambang Haryanto

PS : Apakah saya sebagai warga EI sebaiknya tinggal di kota besar ? Saya baru saja dapat SMS dari “Putri” mahasiswa Ilmu Komunikasi Unpad Bandung. Ia mendapat tugas kuliah, menulis features, dan ia memilih topik kiprah kaum epistoholik. Dalam SMS ia bertanya : “kapan saya bisa mewawancarai Bapak ?”

SMSnya belum saya balas.

Apakah ia kira-kira tahu kalau domisili saya di Wonogiri ? Kalau jadi, ia adalah mahasiswa Unpad yang kedua yang mau jauh-jauh dari Bandung untuk mencari info langsung tentang EI. Kalau boleh memilih, dia kan bisa wawancara via email saja ?

Saturday, December 11, 2010

Menulis Itu Magic,Menulis Itu Senjata Dahsyat!


Dikirimkan ke Milis Epistoholik Indonesia, Minggu, 12 Desember 2010


Oleh : Bambang Haryanto
Email : epistopress (at) gmail.com


Dear sobat warga Epistoholik Indonesia,
Salam episto ergo sum !
Semoga sehat-sehat.

Apa “sarapan” pagi Anda di hari Minggu, 12/12/2010 ini ?

Saya tadi pagi jalan kaki ke kawasan Waduk Gajah Mungkur(GM), Wonogiri. Berangkat jam 04.45, sampai rumah kembali jam 07.30.

Sempat memotret posisi kamera/webcam dari situs Solo City View, yang dipasang untuk memantau pintu air (spill way) bendungan waduk Gajah Mungkur melalui Internet. Saya juga memotret papan pengumuman “Dilarang Membuang Sampah Ke Sungai” yang juga mencantumkan nama diler sepeda motor sebagai sponsor. Terpasang di bibir sungai.

Tentu saja, sampah yang dibuang ke sungai sudah tidak lagi berbekas di tempat itu. Tetapi larangan tersebut membawa dampak lain : tumpukan sampah justru bertimbun di sekitar papan pengumuman itu terpasang. Jadi pesan pengumuman itu benar-benar tepat sasaran !

Aktivitas lain, sekitar setengah jam saya membaca-baca bukunya Andrias Harefa. Happy Writing (2010). Di bibir waduk, dengan di depan saya adalah hamparan air, dan sinar matahari membias keemasan di permukaan. Juga satu perahu. Mirip lukisan Cina yang hening itu.

Buku itu berisi 50 tips agar aktivitas menulis bisa “ngasyik.” Buku ini hadiah dari Stube-HEMAT, saat saya menjadi narasumber pelatihan menjadi komunikator yang positif bagi mahasiswa di Yogya, 4-5/12/2010. Terima kasih, Widiaji (“nama dia 2-3 kali disebut di buku itu” – kali ini sebagai figuran :-), moga lain kali jadi pemain utama). Terima kasih untuk mBak Ariani yang sudi menuliskan pesan kenangan di buku itu pula.

Sampai di rumah, sesudah mandi, antena wi-fi sudah hidup. Langsung fasilitas hotspot di rumah ini menjadi tiga titik ketika saya menghidupkan komputer. Sempat membaca berita penguburan Elizabeth Edwards (61), mantan istri calon wakil presiden dari Partai Demokrat dalam Pilpres AS 2004, John Edwards.

Liz Edwards itu punya ketegaran dalam mengarungi kehidupan. Ketika anak lelakinya meninggal dalam kecelakaan mobil di usia 16, dirinya mengidap kanker payudara, lalu suaminya selingkuh dan memiliki anak dari pacarnya. [Saya memiliki folder untuk Elizabeth Edwards, yang penulis dua buku laris itu].

Saya juga menerima empat email, satu email sampah, pagi itu. Satu dari Mas Darminto M Sudarmo (Semarang), mantan redaktur majalah HumOr. Ia menulis catatan di akun FB-nya, menanggapi ide saya kemarin agar 30 Desember (2010) didaulat sebagai Hari Humor Nasional.

Sekaligus untuk memperingati hari wafat dan mutiara warisan humor Gus Dur (2009) dan meninggalnya Dono Warkop (2001). Di blog saya sebut kata-kata mutiara tentang makna penting humor, antara lain : “Humor lenyap, kebudayaan lenyap.” Kalau Anda ada waktu, silakan klik : disini.

Email lain dari Widiaji (Yogya). Ia saya minta untuk mem-FWD email saya ke temannya, Rudhita, berisi jawaban saya tentang bukunya Howard Gardner, The Unschooled Mind: How Children Think and How Schools Should Teach (1991).

Dengan gegabah bisa saya katakan, kalau guru atau pendidik yang tidak pernah membaca atau menerapkan isi buku ini, resikonya adalah : Anda hanya akan membuat “otak muridnya tak pernah bersekolah.” Saya pernah menuliskannya, di surat pembaca harian Kompas Jawa Tengah, Selasa, 29 November 2005

Email berikutnya dari rekan kuliah saya, Bakhuri Jamaluddin (Tangerang). Ia yang pernah mengirimi saya buku karyanya, kini menagih imbalan : minta dikirimi buku
Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Etera Imania, 2010). Tunggu, Bakh. Mas Joko Suprayoga (Kendal) yang mengatakan penasaran dengan buku ini, moga-moga sudah memperoleh jawaban. Semoga toko-toko buku utama di Semarang sudah memajangnya !

Email keempat, kabar bagus dan menarik, dari Nurfita Kusuma Dewi. Entah, kirim emailnya dari Yogya atau dari Semarang, yang pasti ia mengabarkan bahwa artikelnya hari ini telah dimuat di harian Solopos, di kolom Jeda. Judulnya : Eksistensi Wayang Di Pengungsian Merapi. Silakan klik : disini.

Walah, di tengah hujan abu dan banjir lahar dingin, si mBak yang bekerja di Departemen Keuangan ini (“walau cita-cita terdalamnya adalah menjadi guru”), banyak bercerita tentang pelbagai pentas wayang di daerah Magelang-Yogya seusai Merapi mengamuk. Juga bercerita cukup menukik tentang lima peran wayang. Sebagai sarana komunikasi sosial, pentas drama, suara kebudayaan, hiburan dan industri.

Bagi saya, yang lumayan nyenggol diri saya sebagai kaum epistoholik, adalah ketika Nurfita cerita tentang kaitan wayang dengan industri. Saya pernah menulis surat pembaca menyikut hal itu sebagai berikut ini :

Wayang, Membunuh Demokrasi ?
Dimuat : Kompas Jawa Tengah, Kamis, 27 Maret 2008 : D


Dalang sebagai seniman, bila menurut Rendra, seharusnya berumah di angin. Ia seorang resi yang tidak lagi berorientasi ke hal-hal duniawi, senantiasa menyuarakan kebenaran dan hati nurani rakyat. Wahana untuk itu terbuka ketika berlangsungnya adegan goro-goro yang menampilkan para punakawan, Semar dan anak-anaknya. Semar yang konon setengah manusia dan setengah dewa itu merupakan personifikasi “suara rakyat adalah suara Tuhan” pula.

Tetapi di jaman industri dewasa ini banyak resi alias dalang wayang yang juga ingin kaya raya. Maka pesan-pesan dalam pertunjukan wayangnya pun tidak luput dari filosofi “maju tak gentar, membela yang bayar.”

Saya pernah mendengarkan adegan Limbukan yang seluruh isi adegannya memuji-muji kebijakan pimpinan perusahaan besar yang menyewa dalang bersangkutan. Padahal perusahaan itu memproduksi barang-barang yang bila dikonsumsi berpotensi mengancam kesehatan.

Kini pun marak fenomena aneh lainnya, ketika resi di depan kelir atau layar itu ternyata pejabat pemerintahan. Atau tokoh politik. Jadi mudah dibayangkan, wayang terkooptasi menjadi abdi atau pelayan agenda para pejabat bersangkutan. Barangkali bisa disebut sebagai wayang top-down. Wayang yang dibajak pengusaha dan pejabat.

Merujuk fakta itu kita mudah ingat analisis klasik ahli politik George McTurnan Kahin yang berujar bahwa salah satu penghalang demokrasi di Indonesia adalah kultur politik masyarakat yang senantiasa menyandarkan segala sesuatu kepada arahan dari atas.

Jadi pertunjukan wayang yang diperkirakan semakin marak menjelang dan selama kampanye Pilgub Jawa Tengah 2008 nanti, ujung-ujungnya justru menyerimpung dan bahkan membunuh kehidupan demokrasi di Indonesia ?

Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia
Wonogiri 57612

Bagian lain dari isi email Nurfita yang menggelitik adalah saat ia merujuk isi Solopos (Minggu, 5 Desember 2010) yang memprofilkan komunitas Epistoholik Indonesia kita. Tulisan itu, menurutnya, mengesankan bahwa kiprah menulis surat pembaca adalah ranah dominannya kaum-kaum kasepuhan.

Tetapi yang lebih menarik, ia bersemangat ingin melakukan upaya regenerasi, agar menulis surat-surat pembaca itu kini juga menjadi aksi gaul para kaum muda.

Terima kasih, Nurfita. Terima kasih juga saya ucapkan kepada Widiaji/Stube-HEMAT yang tergerak mengajak dan membimbing mahasiswa untuk bergairah dalam aktivitas penulisan surat-surat pembaca. Kalau regenerasi di EI dinilai tidak berjalan secara baik, saya kira benar adanya. Kita memang belum pernah membuat semacam gerakan secara bersama untuk itu. Mungkin karena dengan menulis di koran atau blog sudah kita anggap sebagai contoh dan perbuatan nyata. Beberapa kali liputan media tehadap keberadaan EI, juga di radio, merupakan contoh promosi yang lain. Memang belum ideal.

Apalagi, menulis itu tak bisa diajarkan, tetapi bisa dipelajari. Artinya, yang dituntut untuk aktif adalah sang pelaku itu sendiri. Tetapi saya yakin, masing individu warga EI, dengan karya dan karisma :-) masing-masing sudah memiliki fans setia dan di antara mereka akan hadir penulis-penulis surat pembaca yang baru. Memang tidak pakai gembar-gembor, saya sendiri tak jarang mengirimi SMS untuk para penulis surat pembaca (diluar EI) yang karyanya pantas memperoleh apresiasi.

Kebetulan, wacana terkait hebatnya aktivitas menulis surat, kemarin saya menonton film The Hurricane (1999) yang mengharukan. Surat seorang pelajar SMA kepada petinju kulit hitam yang dijebloskan ke penjara melalui peradilan yang bias, curang dan membunuh keadilan, membuat semangatnya yang luruh untuk bangkit dan berjuang. “Menulis itu magic, keajaiban. Menulis adalah senjata yang dahsyat,” begitu antara lain dialog yang bernas dan menggugah dalam film itu.

Mari kita bercermin. Banyak di antara kita sebagai warga EI, mungkin banyak yang tidak menyadari kekuatan dahsyat yang kita miliki dengan kemampuan menulis itu. Kita tak acuh, menelantarkan, meneledorkan senjata itu, tidak mengasahnya, mungkin karena keangkuhan, menunggu pujian, menuntut imbalan uang, dibelenggu rasa iri, dengki, mindset scarcity mentality, dan kemalasan. Pilihan itu diam-diam akan menjerembabkan kita bahwa ketidakmampuan menulis yang menginspirasi (baik surat, surat pembaca, blog, buku, dll) sebagai hal yang kita anggap biasa-biasa saja.

Bila itu yang terjadi,walau dari luar nampak segar-bugar dan hidup, yakinlah ada lampu yang telah padam di dalam diri kita.

Janganlah tragedi itu terjadi.
Salam episto ergo sum !


Bambang Haryanto
Bukunya Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Etera Imania, 2010) telah beredar awal Desember 2010 ini. Jangan sampai kehabisan !

Monday, October 04, 2010

Sindrom Ogilvy, Upaya Mengenang Guru dan Dosen Kita

Dikirimkan ke Milis Epistoholik Indonesia, Senin, 4 Oktober 2010


Oleh : Bambang Haryanto
Email : epistopress (at) gmail.com



Mabuk masa lalu. Salam episto ergo sum ! Anda mengenal nama David Ogilvy ? Dia bukan penulis surat pembaca top. Tetapi sosok yang dikenal sebagai "nabi" periklanan.

Dalam buku yang disebut sebagai kitab suci insan perklanan sampai kini, Confessions of an Advertising Man (1963), Ogilvy menjawab pertanyaan tentang apa saja kelemahan dirinya yang paling parah. Dalam salah satu jawabannya, nomor 3, ia bilang : "Like everyone my age I talk too much about the past. " Seperti halnya orang-orang seusia saya, saya terlalu banyak membicarakan masa lampau.

Ogilvy berkata demikian saat berumur 75.
Saat ini saya berumur 57 tahun. Tetapi rupanya saya sudah sangat sering dan parah terkena "Sindrom Ogilvy" tersebut. Karena di milis ini saya akan cerita tentang masa lalu pula.

Pemicunya, di akun Facebook saya, seorang teman kuliah (kini Dekan di UIN Jakarta), menuliskan kabar bahwa dosen saya di Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI (kini FIB), Ibu Rusina Syahrial-Pamoentjak, (foto di bawah) meninggal dunia, di usia 85 tahun. Wafat tanggal 28 September 2010 yang lalu.


Sumber besar kepala. Tanggal 3-4 Februari 1982, Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI menyelenggarakan Loka Karya Pemanfaatan Media Teknologi Untuk Promosi Perpustakaan Perguruan Tinggi.

Moderator untuk salah satu presentasi makalah saat itu antara lain adalah Ibu Rusina, dan saya yang masih berstatus mahasiswa saat itu menjadi nara sumbernya.

Sebagian teman konon kemudian berkasak-kusuk bahwa "sejak presentasi itu Bambang punya tingkah laku, gaya berjalan dan memiliki ukuran kepala yang berbeda. Bahkan gaya merokoknya pun berbeda, karena kini ujung yang dihisap adalah ujung rokok yang menyala :-(

Saya segera membongkar-bongkar gudang buku saya, alias kamar saya juga, untuk menemukan buku harian saya tahun 1980. Masa lalu, 30 tahun yang lewat itu, momen-momennya segera berparade di depan mata. Ada nama Nurul Oetomo. Upik Syahrir. Widhiana Laneza. Juga Hotel Blambangan di Semarang. Lagunya duo America, "A horse with no name" dan duo Simon & Garfunkel, "The only living boy in New York."

Barangkali, itulah untungnya bila Anda memiliki buku harian. Anda bisa merasa "muda" lagi, setiap kali. Minimal memudakan, membugarkan otak Anda karena lebih mampu me-recall atau me-rewind secara rinci apa yang Anda alami dalam hidup Anda di masa lalu itu. Filmnya Julia Roberts dan Kevin Sutherland, Flatliners, juga kurang lebih bercerita seputar topik itu pula.

Tetapi kabar duka semacam itu kadang terus meninggalkan buntut. Masih merujit-rujit sisi terdalam hati saya. Juga saat menulis catatan ini. Kenapa aku baru menulis kenangan untuknya, ketika beliau sudah kembali keharibaan Allah ? Kenapa kita tidak menulisnya ketika beliau-beliau, para dosen kita itu, saat masih bisa bertegur sapa dengan kita, walau pun hanya lewat dunia maya ?

Setahun lalu, Rabu, 2 September 2009, saya pernah memposting tulisan bermisi serupa di milis kita ini. Sebelumnya juga saya kirimkan ke Kompas Jawa Tengah, tetapi tidak dimuat. Saya refresh lagi, moga berguna.

Reuni dan Jasa Guru Kita

Hari Raya Idul Fitri sering identik momen kegiatan reuni. Baik sesama mantan pelajar sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Dalam ajang silaturahmi itu sering juga diundang para mantan guru-guru mereka. Sungguh, kegiatan yang mulia dan membekaskan kenangan.

Sayang, reuni itu lebih banyak porsi pesta nostalgianya. Alangkah baiknya bila diberi sentuhan edukatif, misalnya dengan menghimpun kenangan para mantan siswa terhadap teman dan juga guru-guru mereka dalam bentuk buku atau blog. Teknologi kini memungkinkan kita menerbitkan buku secara print on demand atau blog di Internet yang relatif murah dan mudah.


Sekadar ilustrasi, dalam beberapa posting dalam blog, saya telah menulis tentang Pak Mufid Martohadmojo (foto), mantan guru bahasa Inggris saya di SMP Negeri 1 Wonogiri tahun 1969.

Setelah berpisah puluhan tahun, suatu momen yang berkesan saat kami bisa bertemu di Perpustakaan Daerah Wonogiri. Walau sudah lama pensiun, beliau tidak berhenti untuk terus belajar.

Dalam reuni unik itu saya bisa gantian menjadi "guru" beliau. Dengan memanfaatkan akses Internet perpustakaan, saya dapat menunjukkan apa saja yang telah saya tulis tentang beliau. Termasuk mencatat jasa beliau dalam menanamkan kecintaan terhadap bahasa Inggris sebagai sarana untuk mereguki luasnya khasanah ilmu pengetahuan dunia, yang lalu bisa disumbangkan kepada kemaslahatan bersama.

Selamat bereuni. Jangan lupa, dokumentasikan juga kenangan terhadap para guru-guru kita. Suatu umpan balik yang nilainya tidak seberapa bila dibandingkan dengan dedikasi guru-guru kita dalam mendidik kita di masa lalu.

Itulah posting/surat pembaca saya tentang usulan upaya mengenang jasa guru/dosen-dosen kita di masa lalu. Foto kami berdua, saya dan Pak Mufid di atas, dijepret tanggal 27 November 2008, dengan latar belakang rak-rak buku di perpustakaan

Kalau Anda ada waktu, tulisan kenangan tentang dosen saya itu dapat Anda klik di artikel EE 105/Oktober 2010 : JIP 1980 dan Ibu Rusina Dalam Kenangan Saya.

Kabar lain lagi : Epistoholik Indonesia kini memiliki logo baru. Apa bentuknya, akan saya ceritakan di masa mendatang.

Selamat terus menulis.
Juga (mulai) menulis buku harian Anda !


Bambang Haryanto

[Diketik pagi hari diiringi lagu "Kashmir"-nya Led Zeppelin, "Rain" dari The Beatles, "Everybody Hurts"-nya The Corrs dan "Claire de lune"-nya Claude Debussy].


Wonogiri, 4-5 Oktober 2010

Wednesday, April 21, 2010

Wawancara Annida Online Dengan Epistoholik Indonesia





Catatan : Sebuah portal berita Annida Online telah melakukan wawancara melalui email kepada Bambang Haryanto sebagai pendiri komunitas penulis surat pembaca, Epistoholik Indonesia.

Hasil wawancara itu yang rencananya akan dipajang dalam rubrik "Aksara" telah dilangsungkan tanggal 5 April 2010 yang lalu. Tanya-jawab secara lengkap disajikan di bawah ini.

Semoga bermanfaat.


Tanya : Apa yang menjadi latar belakang pendirian Epistoholik Indonesia (EI)?

Jawab : Epistoholik Indonesia (EI) digagas sebagai komunitas dan wahana jaringan antarpenulis surat-surat pembaca se-Indonesia.

Istilah epistoholik saya peroleh dari majalah TIME (6 April1992) yang menjuluki Anthony Parakal (72 tahun), warga Evershine Nagar, Mumbay, India, karena prestasi hebatnya dengan menulis surat pembaca di pelbagai surat kabar India sebanyak 5.000 surat berbahasa Inggris.

Parakal telah menulis surat-surat pembaca sejak tahun 1955. Istilah itu merupakan paduan dari kata “epistle”, yang berarti surat dan imbuhan “oholic” yang berarti kecanduan.

Melalui wahana Epistoholik Indonesia ini antarpenulis surat pembaca dapat saling mengenal, kemudian dalam semangat asah-asih-asuh saling menyemangati sesamanya untuk menghasilkan karya surat-surat pembaca yang kritis dan bermanfaat bagi masyarakat.

Epistoholik Indonesia merupakan jaringan orang-orang bebas untuk bebas berpikir dan bebas bersuara melalui tulisan. Istilah sok keren-nya, sebagai kumpulan intelektual jalanan (street smart intellectuals). Kami bersepakat untuk saling bersaing dalam “mengompori” guna menghasilkan karya-karya surat pembaca yang bermanfaat bagi masyarakat.

Kami selalu mendorong siapa saja, baik sesama warga Epistoholik Indonesia (kami menyebutnya bukan anggota, karena tak ada kartu anggota) atau pun bukan, untuk berani mengutarakan gagasan melalui kolom terhormat ini.

Antara lain berkat terbantu kehadiran media berbasis Internet, yaitu blog, selain untuk mendokumentasikan karya surat-surat pembaca warga Epistoholik Indonesia, juga diharapkan dapat menjadi sumber ilham atau rujukan bagi para penulis surat pembaca generasi berikutnya.

Secara tidak langsung pula, warga Epistoholik Indonesia ikut bersama mendorong dan mempromosikan menulis, aktivitas melahirkan gagasan dalam bentuk tertulis, sebagai salah satu media pembelajaran seumur hidup bagi setiap insan.

Secara spesifik, mengingat kebanyakan para penulis surat pembaca adalah warga senior (pensiunan), maka dengan sarana Internet seperti ini berpeluang dibukakan interaksi lintas generasi. Sehingga perbendaharaan dan pengalaman hidup yang kaya dari para generasi senior itu terbuka untuk didialogkan dengan generasi yang lebih muda, juga dalam suasana dan semangat asah-asih-asuh.

Epistoholik Indonesia terbuka untuk siapa saja yang berkehendak secara tulus memberikan sumbangsih guna semakin memperkaya wawasan, pengetahuan dan keterampilan semua warga Epistoholik Indonesia.

Persoalan-persoalan masyarakat yang berkaitan dengan institusi (pelayanan publik oleh birokrasi dan swasta, konsumen, dll) bagaimana yang bisa dijadikan surat pembaca?

J : Semua masalah, baik terkait dengan layanan publik atau swasta, dapat menjadi subjek penulisan surat pembaca. Utamanya bila terjadi kesenjangan antara janji dengan realitas yang dampaknya merugikan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu dalam beragam transaksi yang terjadi.

Apakah surat pembaca itu langkah pertama setelah mendapat keluhan atau ada langkah lain sebelum melayangkan surat pembaca tersebut? Kalau ada, langkah apa yang sebaiknya dilakukan sebelum itu ?

J : Surat pembaca biasanya ditulis sebagai sarana/media/wahana individu dan atau kelompok masyarakat untuk menyampaikan keluhan. Mengenai apa hal itu sebagai langkah pertama atau bukan, tidak menjadi masalah. Bahkan biasanya penulisan surat pembaca dinilai sebagai langkah solusi yang terakhir, ketika keluhan atau negosiasi yang terjadi melalui jalan dialog menemui jalan buntu.

Pengirim surat pembaca sering pada akhirnya mendapat masalah. Dari sisi perlindungan hukum di Indonesia, bagaimana negara menempatkan surat pembaca saat ini?

J : Kasus mengenai penulisan surat pembaca yang kemudian berkembang menjadi masalah hukum, mencuat dengan kasus Khoe Seng Seng akhir-akhir ini. Secara teori, negara wajib melindungi warganya dalam menyatakan pendapat. Tetapi dalam prakteknya hal ideal itu bisa jadi tidak terjadi.

Kami, warga Epistoholik Indonesia (EI), khususnya saya sendiri yang setiap saat menjalin kontak dengan Khoe Seng Seng saat itu, bisa bersyukur. Karena berkat Internet terjadilah mobilisasi pendapat masyarakat yang ikut membela posisi Khoe Seng Seng, termasuk ketika ia memperoleh Anugerah Tasrif Award dari Asosiasi Jurnalis Independen (AJI).

Bagaimana media massa sebagai mediator antara dua pihak yang berkepentingan memberikan perlindungan bagi pengirim surat pembacanya?

J : Salah satu bentuk perlindungan dari fihak media adalah dengan tidak mencantumkan nama dan alamat pengirim surat pembaca untuk kasus-kasus tertentu. Tetapi, hemat saya, hal semacam itu kini jarang terjadi. Sementara itu oleh media untuk fihak yang dikeluhkan, telah disediakan hak jawab berupa kesempatan memberikan tanggapan untuk dimuat pada kolom yang sama.

Apa kekuatan dari seseorang yang menuliskan gagasannya di surat pembaca?

J : Kebenaran. Surat pembaca harus ditulis berdasarkan fakta, dan bukan berupa fitnah atau pemutarbalikan fakta. Selebihnya, surat pembaca harus ditulis dengan mematuhi norma sopan-santun dan etika, mampu menguraikan masalah secara jernih, tanpa dibumbui dengan vonis atau hujatan yang tidak konstruktif guna memperoleh pemecahan masalah secara adil.

Beberapa kasus (misal si Aseng) yang menuliskan masalah yang dihadapinya melalui surat pembaca di sebuah harian, ditanggapi negatif oleh pihak2 tertentu? Mengapa ini bisa terjadi?

J : Khoe Seng Seng ketika mengurai kasus yang membelitnya, ia secara ksatria telah memberikan tips bagi para penulis surat pembaca agar tidak terbelit kasus seperti dirinya. Antara lain, ketika menulis surat pembaca berupa keluhan atas produk/layanan jasa dari pelaku usaha, gunakan kata-kata yang tidak berkonotasi negatif, dan hindari rangkaian kalimat yang berarti menuduh pelaku usaha berbuat sesuatu.

Hindari penggunaan kata "ditipu", "tertipu", "menipu", "bohong", "berbohong", "dibohongi", "mencuri", "dicuri", dan sebagainya, karena kata-kata ini bisa membawa akibat penulis dipidanakan dan digugat.

Pelaku usaha yang memang berniat berbuat curang akan menyatakan belum ada putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap yang menyatakan pelaku usaha ini menipu, berbohong, ataupun mencuri. Jadi tidak bolehlah penulis menghujat dengan menuduh bahwa pelaku usaha ini menipu, berbohong, ataupun mencuri. Jika penulis tetap ingin menggunakan kata-kata ini, tambahkanlah kata "diduga" di depan kata-kata di atas. Jadi susunan katanya menjadi "diduga menipu", "diduga berbohong", ataupun "diduga mencuri".

Apakah surat pembaca berikut komunitasnya seperti EI telah dianggap sebuah kekuatan yang menentukan kebijakan/kepentingan publik dalam hal-hal tertentu?

J : Saya kira, kurang-lebihnya, memang demikian. Emanuel Rosen dalam The Anatomy of Buzz : How To Create Word-of-Mouth Marketing (2000) menyebutkan bahwa di Amerika Serikat para penulis surat pembaca termasuk golongan orang Amerika yang berpengaruh.

Mereka merupakan warga negara pilihan karena keterlibatannya dalam kegiatan publik, politik atau pun sosial. Jadi senyatanya suatu kehormatan dan kebanggaan sebagai seorang epistoholik di negara yang memerlukan warganya harus terus cerewet untuk mengontrol tegaknya demokrasi dan jalannya roda pemerintahan.

Apakah ada kaitan kritisme seseorang yang disampaikan ke publik lewat media massa ( surat pembaca) dengan perkembangan kesadaran literasi yang harus dimiliki masyarakat?

J : Kaitannya erat sekali. Masyarakat yang semakin kuat bangunan budaya literasinya, atau budaya baca-tulisnya, akan memandang isi surat-surat pembaca tersebut sebagai bagian dari eksistensi mereka sebagai warga sebuah masyarakat yang demokratis. Bahkan, sesuai tesis dari Rebecca McKinnon, surat pembaca dapat dijadikan sebagai media pembelajaran masyarakat terhadap beragam isu yang terjadi.

Rebbeca MacKinnon, seorang blogger dan peneliti di Universitas Harvard yang mantan wartawan CNN di Beijing dan Tokyo itu pernah berujar bahwa seseorang lebih mampu menyerap dan mengelaborasi kembali informasi secara lebih mendalam bila yang bersangkutan dilibatkan dalam diskusi mengenai materi tersebut. Bahkan mereka memiliki pemahaman lebih mendalam lagi bila dirinya mampu menuliskan opini tentang hal bersangkutan di ruangan publik.

Misalnya untuk mensosialisasikan pemilu dan individu caleg bersangkutan, sebaiknya para birokrat partai dan para caleg itu mengajari rakyat untuk menulis di beragam media. Baik artikel atau surat-surat pembaca di media massa, atau pun di blog-blog di Internet. Termasuk membebaskan mereka untuk menuliskan kritik untuk para caleg bersangkutan.

Dengan demikian maka papan peraga kampanye para caleg di jalanan itu bukan sebagai media indoktrinasi, yang searah, yang membodohi rakyat. Melainkan lebih merupakan undangan awal bahwa caleg bersangkutan bersedia membuka telinga untuk mendengar aspirasi rakyat atau konstituen mereka.

Bagaimana perkembangan surat pembaca saat ini di media massa, terutama dikaitkan dengan perkembangan media komunikasi dan informasi lewat internet yang sangat pesat?

J : Ketika media cetak mengalami benturan dan goncangan akibat kehadiran Internet, tentu saja berpengaruh terhadap kolom surat pembaca dan para penulis surat pembaca. Saya sendiri, sekarang lebih banyak menyalurkan opini dan atau ekspresi melalui media blog di Internet dibanding menulis surat-surat pembaca di media cetak. Karena lebih cepat, lebih bebas dari kontrol redaksi media cetak, dan relatif lebih mudah untuk memperoleh tanggapan.

Hemat saya, kebanyakan media massa cetak itu terlalu konservatif dan terlalu defensif, sehingga pelbagai kelebihan Internet itu tidak mampu mereka kelola secara cerdas untuk menjadikan kolom-kolom surat pembaca itu sebagai media percakapan yang hidup antara media, pembaca dan fihak yang menjadi sasaran dalam isi surat-surat pembaca tersebut.

Sekadar dugaan, karena kebanyakan pengelola kolom surat-surat pembaca adalah para wartawan yang mendekati pensiun, dan kadang-kadang gaptek pula, sehingga mereka tidak tersentuh oleh realitas kemajuan jaman yang serba cepat dewasa ini.


Boleh ditambahkan hal-hal yang ingin ditambahkan.

mandom resolution award 2004,bambang haryanto,sarlito wirawan sarwono

J : Sejak tahun 2004, saya telah mengajak warga Epistoholik Indonesia untuk mengelola blog masing-masing di Internet. Obsesi saya ini kemudian saya ikutkan dalam lomba Mandom Resolution Award 2004 di Jakarta, dan menang. Dalam foto saya berdiri nomor empat dari kanan. Paling kanan adalah Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, ketua juri.

Tetapi tidak mudah mengenalkan media baru ini kepada teman-teman EI saya tersebut. Padahal saya punya cita-cita bahwa menulis surat pembaca di media massa cetak itu merupakan appetizer, umpan tekak, bagi pembaca. Sedang main course, hidangan utamanya, adalah di blog-blog tersebut.

Di blog kita bisa menulis lebih leluasa, dan juga dapat dilangsungkan diskusi/percakapan dengan para pembaca. Cita-cita ini tidak mudah terlaksana, karena sebagian besar media cetak akan menghilangkan data alamat situs (url) blog yang tertera menyertai surat-surat pembaca kita.


Profil Bambang Haryanto terkait dengan komunitas Epistoholik Indonesia telah dimuat di Majalah Intisari (“Masuk Buku Rekor Karena Surat Pembaca,” Juli 2004), Harian Solopos (“Mengenal Komunitas Penulis Surat Pembaca,” 10/11/2004) dan tayangan Bussseeet ! di TV7 (20/3/2005 dan 18/5/2005).

Majalah MataBaca (“Episto Ergo Sum : Saya Menulis Surat Pembaca Karena Saya Ada !,” Oktober 2005), Mingguan Seputar Semarang (“Epistoholik Indonesia, Komunitas Penulis Surat Pembaca : Obat Ampuh Menghilangkan Stres,” 27 Juni 2006), Harian Media Indonesia (“Manusia, Radio, Dan Satu Gelombang,” 10 September 2006), Harian Republika (“Saya Ada Karena Surat Pembaca,” 21 April 2007), Harian Kontan (“Jurnalisme Warga Epistoholik,” 29 Mei 2007) dan Koran Tempo edisi Jateng/DIY (“Candu Itu Surat Pembaca,” 29 januari 2010).

Juga menjadi isi mata acara Saga yang disiarkan secara nasional oleh Jaringan Kantor Berita Radio 68H Jakarta (6/11/2006) dan Saga Interaktif di Radio Utan Kayu, Jakarta (11/12/2006).

Blog Epistoholik Indonesia di : http://episto.blogspot.com. Sementara blog yang memajang tulisan Bambang Haryanto sebagai pencetus EI adalah Esai Epistoholica, di : http://esaiei.blogspot.com. Pada tanggal 27 Januari 2005, bertepatan dengan pengesahan Rekor MURI kepada saya sebagai pendiri komunitas EI, pada hari itu pula dicanangkan sebagai Hari Epistoholik Nasional.



Wonogiri, 5 April 2010

Friday, April 09, 2010

Indonesia, Homo Homini Lupus, Perjuangan Kita


Pesan melalui Facebook kepada Jerry Gogapasha, ventrilokuis Surabaya, 9/4/2010


Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Thanks, Jerry untuk obrolannya tadi sore. Memang benar, untuk sukses itu kita tak bisa sendirian. Kita harus lebih dulu mendidik orang lain, agar mereka juga pandai, dan baru sesudah itu kita bisa ramai-ramai mampu meraih sukses secara bersama.

Sayangnya, televisi di Indonesia belum ada greget untuk melatih para penulis komedi. Aku baru bisa melakukan apa yang bisa aku lakukan.

Mungkin karena hal itu membuat ajaran luhur Stephen R. Covey, bahwa dunia ini melimpah ruah dengan berkah, belum mengakar dalam dunia komedi kita. Dunia komedi kita berprinsip sebaliknya, dunia ini serba langka, maka prinsip yang subur adalah kita harus saling membandingkan dan saling memperebutkan. Sukses bagi si A, merupakan neraka bagi saya.

Akibatnya, di dunia komedi kita itu kadang masih kuat sikap mental homo homini lupus. Untuk survive kita harus saling mencakar. Saling “membunuh.”

Mengapa ?

Karena teknik mengkreasi lawakan belum dikuasai triknya, sehingga membuat materi lawakan menjadi langka. Akibatnya, mereka lalu cenderung hanya bisa saling mengintip kreasi lawakan satu sama lainnya untuk ditiru, atau dimodifikasi.

Perjuangan kita masih panjang.
Sukses selalu untuk Jerry.


Bambang Haryanto


Wonogiri, 9/4/2010

Tuesday, December 29, 2009

Mengapa Waktu Cepat Berlalu


Diposting di My Note Facebook, Rabu, 30 Desember 2009


Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Tiba-tiba kita sudah diujung tahun 2009.

Penyair Inggris, Ralph Hodgson (1871–1962) menyebut waktu sebagai old gipsy man, jipsi tua yang mengembara, dan tidak mau berhenti barang sehari pun. Waktu kita untuk tahun 2009 menjelang habis, dan ia tak akan kembali.

Setiap menjelang pergantian tahun, saya mudah ingat artikel yang saya temukan di Perpustakaan LIA Jakarta, 14 Mei 1992.

Judulnya, “Why time flies and how to slow down”, ditulis Bruce Schechter, penulis sains bergelar Ph.D Fisika yang tinggal di New York. Dimuat di majalah McCall’s (10/1991).

Bruce Schechter menulis, “waktu [psikologis itu] dapat melesat terbang atau merangkak lamban, tergantung bagaimana kita mengisinya. Semenit menunggu lift terasa lebih lama dari sepuluh menit saat coffee break. Tetapi kalangan psikolog mencacat bahwa satuan waktu yang lebih besar, bulan atau tahun, terasa melesat lebih cepat ketika umur seseorang bertambah.”

Ilmuwan menyebut hal terakhir ini sebagai fenomena “akselerasi waktu subyektif yang terkait dengan penuaan.” Salah satu teori pendukungnya berupa matematika sederhana. Satu tahun bagi anak berumur 5 tahun adalah 20 persen dari hidupnya, dan bagi mereka berussia 50 tahun hanya 2 persen saja. Jadi, setahun itu lebih lama bagi anak-anak dibanding bagi orang dewasa.

Lalu ada faktor lain yang merubah persepsi kita tentang waktu. Charles E. Joubert, psikolog Universitas North Alabama, yang juga mengkaji akselerasi waktu mencatat bahwa semakin waktu itu terstruktur, berisi skedul dan janji, semakin cepat pula waktu itu melintas.

Sebagai contoh : seharian di kantor itu tak ada apa-apanya dibanding seharian bersantai di pantai wisata. Oleh karena sebagian besar kita lebih sedikit menghabiskan waktu di pantai, tetapi lebih banyak di kantor seiring meningkatnya umur, maka peningkatan waktu yang terstruktur itu pantas dituding sebagai biang kerok mengapa waktu terasa semakin cepat terbang seiring bertambahnya umur kita.

Akselerasi atau bergegasnya waktu, mungkin juga diakibatkan oleh fenomena fisiologis. Di tahun 1932, istri Hudson Hoagland, seorang ahli ilmu faal, terserang flu. Ketika suhu tubuhnya mencapai 104 derajat Fahrenheit, Hoagland segera bergegas menuju apotik untuk membeli obat.

Perjalanannya hanya selama 20 menit, tetapi istrinya justru marah-marah, mengatakan lebih lama. Kalau suami lain pasti masalah ini mampu memicu saling tarik urat, Hoagland justru menaruh perhatian secara serius terhadap keluhan istrinya.

Hoagland pernah membaca bukunya psikolog Perancis, Henri Pieron, bahwa kecepatan proses psikologis seseorang itu dipengaruhi oleh suhu, demikian pula persepsinya tentang waktu. Karena semakin meningginya suhu akan pula meningkatkan reaksi kimia lebih cepat, hingga Pieron menyimpulkan bahwa waktu pun akan terasa lewat lebih cepat dibanding yang senyatanya.

Hoagland lalu melakukan tes untuk teori di atas, dengan meminta istrinya menghitung angka sampai 60 dengan keras-keras. Ia memperkirakan satu hitungan memakan waktu satu detik. Ia mengukurnya dengan stopwatch. Yang terjadi, istrinya menghitung paling cepat ketika demamnya meninggi, yang menjelaskan mengapa istrinya tersebut merasakan waktu senyatanya berjalan begitu lamban.

Kita sebagai babi hutan. Ekspektasi dan keakraban juga membuat waktu terasa lebih cepat melesat. Hampir semua orang merasakan pengalaman ketika berkendara menuju tempat yang terasa asing. Dikepung pemandangan yang belum dikenal, dengan tanpa bayangan kapan akan sampai di tujuan, perjalanan terasa begitu lama.

Tetapi ketika kembali, walau jarak kilometernya tetaplah sama, nampak waktu tempuh terasa lebih pendek rasanya. Hal-hal baru dalam perjalanan kemudian seakan-akan menjadi rutin.

Apalagi kemudian rata-rata orang cenderung menjadi nyaman dengan rutinitas, ibarat bertabiat model babi hutan atau celeng. Binatang ini konon ketika pergi atau pulang selalu melewati rute yang sama, bertahun-tahun, waktu pun akhirnya terasa seperti cepat berlalu. Sehingga apabila kita setiap kali berinisiatif mengambil rute perjalanan yang berbeda, hal tersebut membuat kita seperti mampu memperlambat waktu.

Tatkala hari-hari yang kita lalui saling identik satu sama lain, ibarat bulir-bulir tasbih yang bergerombol dalam satu rangkaian, berkelompok bersama, maka waktu sebulan pun hanya nampak seperti satu hari belaka. Tidak aneh bila waktu kemudian nampak seperti cepat sekali melejit pergi.

Untuk menangkis penggerombolan hari, maka buatlah setiap hari hidup kita seunik sidik jari. Sebagaimana dikatakan oleh Joubert bahwa struktur cenderung membuat waktu cepat berlalu. Oleh karena itu, carilah cara cerdik untuk menginterupsi struktur hari-hari Anda, untuk menghentikan laju terbangnya, ibarat kita melakukan rehat kopi di tengah jam-jam kerja kita.

Bruce Schechter memberi contoh seseorang wanita yang punya pekerjaan sibuk, tetapi saat makan siang ia memutuskan untuk menjelajah kota tempat ia berkarier itu.

Ia mengunjungi kebun binatang, yang merupakan kunjungannya yang pertama. Piknik kecil-kecilan tersebut, sekadar lepas dari tuntutan kerja kantornya, telah memberikan waktu rehat yang pantas untuk dikenang, yang bila tidak maka hari-hari-hari kerjanya hanya merupakan segumpal blok yang identik satu sama lainnya.


Jangan Takut Jadi Pemula. Mempelajari sesuatu hal yang baru merupakan cara ampuh lain untuk memperlambat gerak terbangnya waktu. Salah satu alasan mengapa hari-hari ketika kita masih muda terasa penuh dan panjang, karena hari-hari tersebut dipenuhi dengan masa kegairahan untuk belajar dan menemukan.

Learning and discovery.

Bagi kebanyakan kita, masa-masa belajar itu memang terkadang selesai begitu kita meninggalkan bangku sekolah atau kuliah. Tetapi bagi seorang Ronald Graham, matematikawan terkenal dari AT&T Bell Laboratories, punya kiat jitu untuk mengerem waktu : “Jangan takut menjadi pemula”.

Graham pun selalu gigih berburu keterampilan baru untuk ia kuasai. Dalam masa waktu 40 tahun terakhir Ronald Graham mampu menguasai bahasa Cina, main piano, juggling, akrobat, menulis lusinan makalah ilmiah, dan berwisata sampai ke pojok-pojok dunia.


Mengurai masa lalu. Bruce Schechter memperluas cakarawala kita ketika ia mengatakan bahwa mengerem laju jarum jam tidak hanya berlaku untuk masa kini, tetapi juga ketika meninjau masa lalu.

Menulis buku harian (saya lakukan setiap hari), menulis otobiografi dan menulis blog, merupakan cara bagus untuk menyortir kekaburan masa-masa lalu. Sehingga masa lalu tidak lagi hanya berupa satu gumpal campur aduk segala hal tanpa makna.

Masa-masa lalu tersebut dapat diurai untuk membentuk pola tertentu yang membahagiakan, membanggakan, baik susunan yang terdiri dari kejadian atau pun prestasi-prestasi tertentu.

“Mendekati usia 65 tahun”, begitu tutur Bruce Schechter, “ayah saya memulai menulis kenangan hidupnya”. Ia semula beranggapan tulisan itu hanya pendek saja, tetapi ternyata tiap kenangan itu beranak pinak dengan kenangan lainnya. Karya tulisnya kemudian membengkak memenuhi sebuah buku.

Anak-anaknya kemudian membelikannya sebuah komputer, kini tulisan kenangan tersebut mencapai 400 halaman yang menghadirkan pola kehidupan yang telah ia lalui, betapa indah dan ajaib kehidupan yang telah ia jalani.”

Candu dan boros waktu? Kehidupan yang indah dan ajaib itu, saya tidak tahu apakah dapat saya (kita) bekukan dan abadikan dalam tulisan-tulisan status dan komentar-komentar yang saya tulis di Facebook ini.

Saya juga tidak tahu, apakah tulisan semacam di Facebook tersebut akan bermanfaat di masa depan. Penulis Julie Weishaar menyebut Facebook sebagai ” too easy to become addicted and wastes time”. Memicu kita untuk mudah kecanduan dan buang-buang waktu.

Tulisan-tulisan di Facebook yang sepertinya sering ditulis tanpa pikir panjang, tanpa renungan, semudah meludah itu, bila kelak saya himpun dan suatu saat dibaca-baca kembali, mampukah mengurai jumble, gumpal-gumpal campur aduk waktu, yang telah saya lewati ? Saya tidak tahu.


Selamat Tahun Baru 2010.
Semoga sukses dan sejahtera senantiasa memayungi Anda semua.

Wonogiri, 30 Desember 2009

PS : Versi lebih panjang dari tulisan ini dapat Anda klik di : http://esaiei.blogspot.com/2006/01/mengapa-waktu-cepat-sekali-berlalu.html