Monday, August 17, 2009

Gus Muh, Diana AV Sasa, Buku Anti Rubuh dan EI


Email untuk Muhidn M Dahlan dan Diana AV Sasa, 18 Agustus 2009

Dear Gus Muh, Muhidin M Dahlan
Dear mBak Diana AV Sasa,



Salam sejahtera. Wonogiri dulu terkenal sebagai sarang penderita sakit beriberi. Si penderita kakinya bengkak, akibat kekurangan gizi.

Kini Wonogiri, berkat virus Anda berdua, terserang demam gigantism. Sakit Godzilla. Size does matter, walau tak terkait dengan kreativitas a la Mak Erot. Karena terkait dengan buku.

Kredo Gus Muh saat mengobrol di Kajen, lalu saya temui di Para Penggila Buku, tentang buku yang tak mampu rubuh dengan dorongan jari, sungguh-sungguh menggoda saya. Buku-buku Ibuku nampaknya bila hendak didorong jatuh harus juga menyebabkan raknya rubuh. Atau bahkan perpustakaanya juga wajib ikut runtuh.

Semua itu terjadi berkat POD atau BID, bukan ? Saya pernah membaca ulasannya di Kompas dan memperoleh brosur [tak komunikatif] dari Kanisius. Masih blur. Ketika dalam perjalanan Kajen-Pakis Baru, ketika mBak Diana menyebutkan POD, gambarnya semakin jelas : saya mulai menemukan jawaban. Ditambah kredo buku anti rubuh dari Gus Muh, maka lampu-lampu baru di kepala saya tentang buku menyala. Atau menyala lagi. Saya menemukan jalan.

Dalam perjalanan pulang diantar Bapak, diantara kelok-kelok tajam jalan Pakis Baru-Purwantoro [10 menit pertama, kayaknya saya akan mabuk, untung saya ingat isi dekoder, cara penyajian buku secara unik, tentang teknik shiatsu, sehingga engga jadi muntah mengotori jok mobil], saya sempat bilang ke Bapak :

“Saya juga suka buku, tetapi ketika bertemu Gus Muh dan mBak Diana, saya rasanya masih berada jauh di tepian. Tak mengira betapa buku bagi mereka (Anda berdua) sudah menjadi sebuah kegilaan yang mendalam. Ya membaca, ya memproduksikannya . Bukan main !”

Hitung-hitung, sudah 22 tahun “arwah buku” itu tidur panjang dalam hidup saya. Tahun 1987, terbit dua buku kumpulan lelucon saya. Tahun 2004, naskah buku sepakbola saya ditolak Galang Press (OK, tak apa). Lalu diumpetin satu setengah tahun, mereka bilang hilang, di gudang Tiga Serangkai Solo. Diterbitkan tidak, dikembalikan juga tidak.

Sesudah saya tulis di surat pembaca, naskah itu ditemukan, lalu mereka kembalikan dengan imbalan sekadarnya. Saya lalu jadi “kanji” alias traumatis dengan penerbit.

Syukurlah, setelah berkemah di kedinginan Pakis Baru, selain menyemangati anak-anak Pakis Baru, Pacitan, untuk melanjutkan kegiatan menulis sesudah peluncuran buku mereka (foto), ketemu Anda berdua dan cerita-cerita POD/BID, semoga kini arwah buku dalam diri saya itu bisa hidup lagi. Terima kasih.

Oh ya, mBak Diana, di Para Penggila Buku, Anda belum atau tidak banyak menyebut Wonogiri. Apakah di blog-blog Anda, cerita Anda saat di Wonogiri, ada ? Suatu saat saya pengin menulis di blog saya, The Morning Walker (wonogirinews24.blogspot.com), cerita tentang pertemuan saya dengan Anda, yang sungguh ajaib, membuka mata saya betapa sedikit-banyak Wonogiri punya andil bagi diri karier literasi Anda sampai saat ini. Wonogiri harus mendengar dan membaca hal ini.

Seperti diri saya sendiri sebagai blogger, banyak orang Wonogiri tak tahu akan hal itu. Tak apa. Oleh karenanya, walau nantinya tak dibaca ribuan orang, saya ingin memperoleh cerita dari Anda tentang tahun-tahun di Wonogiri Anda. Saya ingin meneteskan keluhuran ini, lewat blog, kepada wong Wonogiri terkait penemuan tak terduga saya dengan diri Anda.

Karena untuk blog, silakan sebut saja banyak sekali nama, baik terkait dengan SD 3, SMPN 1, SMAN 1 (?), teman-teman sekelas dan atau guru, selain orang terdekat Anda dalam ranah literasi, Suster Anthony atau pun tentang mBah Iman Moestari. Ga buru-buru, mBak Sasa. Kirim ceritanya, ketika Anda tak lagi sibuk saja. Matur nuwun.

Kabar lain, masih ingat nama Khoe Seng Seng ? Penulis surat pembaca yang terancam dihukum itu, penerima Tasrif Award 2009 itu, kini DILAPORKAN LAGI oleh eksekutif pengembang, PT Duta Pertiwi, yang juga menjeratnya dengan pasal-pasal pencemaran nama baik LAGI. Dulu Pak Khoe diperiksa langsung oleh Mabes Polri, kini oleh Polda Metro Jaya. Bagian yang memeriksa dia adalah bagian KEAMANAN NEGARA.

Seharian, 16/8/2009, Pak Khoe mengirimkan SMS, cerita bahwa segala pemeriksaan itu adalah upaya membuat ia menyerah, bungkam selamanya, sehingga tidak menjadi inspirasi bagi ribuan penyewa properti (dari pengembang itu) lainnya untuk ramai-ramai mengungkapkan kecurangan-kecurangan si pengembang bersangkutan. Perkembangan ini telah saya kabarkan ke AJI, pemberi award, dan juga teman-teman di milis EI.

Well, Gus Muh dan mBak Diana, sekian dulu kabar dari Wonogiri. Saya belum bisa menulis di blog lagi. Esok, didaulat jadi pembicara dalam acara peluncuran blog di Solo, www.mediakeberagaman.com. Mau cerita ujaran Chris Anderson tentang si buntut panjang diramu kata-kata Pak Samuel Huntington bahwa dalam dunia politik kontemporer yang kini sedang membara adalah, “the age of muslim wars.”

Agar tak nampak sangat vakum, ya, saya menulis obrolan ini pula untuk Anda berdua. Salam untuk Eri Irawan di Surabaya. Kok aku engga dicantumin di berita Ibuku :-( ?

Salam episto ergo sum,


Bambang Haryanto

Tuesday, August 11, 2009

FX Triyas HP, Diskusi Solo dan Menyebar Virus EI Ke Pacitan


Email ke FX Triyas Hadiprihantoro di Solo dan warga Milis EI, Rabu, 12 Agustus 2009



Dear Mas FX Triyas Hadiprihantoro di Solo dan warga Milis EI,


Salam episto ergo sum.
Semoga sehat-sehat adanya. Terima kasih untuk sms Anda, 10 Agustus 2009 pagi, terkait artikel saya berjudul “Monster Hydra, Budaya Jawa dan Terosrisme” di Solopos, 10/8/2009. Bisa di klik di : http://www.solopos.co.id/zindex_menu.asp?kodehalaman=h04&id=282826 . Atau di blog Esai Epistoholica : http://esaiei.blogspot.com.

Mas Triyas sudah dapat kopi kerangka acuan untuk acara diskusi, 19 Agustus 2009 mendatang ? Saya belum. Kalau ada kopinya, mohon bisa Anda tularkan kepada saya via email pagi ini. Kenapa pagi ini ? Inilah waktu bagi saya untuk bisa mengakses Internet secara gratis di Perpustakaan Wonogiri [“terima kasih Pak Sardjito, matur nuwun untuk mbak Dewi Werdiningsih..” ].

Tetapi yang unik, akhirnya kita sebagai warga EI (semoga) bisa tampil di depan forum, secara bersama-sama. Walau Jokowu belum secara eksplisit cerita tentang topik diskusi dengan komunitas blogger dan media socialist dari Solo itu, saya kira nilai-nilai dari kiprah kita sebagai warga EI akan secara tidak langsung atau langsung banyak tercurah di sana nantinya. Kita sebarkan virus-virus luhur EI kita ini.

Oh ya Jokowu dan Ika, yang temannya Sadrah Sumariyarso dari PasarSolo, www.pasarsolo.com, kemarin ke rumah saya. Itu kunjungan kedua. Ngobrol sebentar tentang acara diskusi itu. Tetapi ia malah belum bawa TOR-nya, walau secara garis besar ide diskusinya itu dalam rangka menumbuhkan interaksi yang serasi di tengah keragaman pluralitas dalam masyarakat (Solo), merupakan topik yang hot dan pantas dielaborasi.

Di acara itu kelak, terlintas di benak saya, saya hanya ingin cerita mengenai fenomena buntut panjangnya, the long tail, dari Chris Anderson. Kini siapa saja, dengan bakat atau karakkter yang paling esoterik (nyleneh) pun, asal tampil di Internet, akan mudah ditemukan oleh mereka yang memiliki interes terhadapnya. Untuk berhasil, untuk menjadi manusia utuh, orang harus membuka diri. Ada kredo bilang, “kalau di Facebook seseorang tidak menceritakan mimpi dan ketakutannya, ia bukan pribadi yang layak dipercaya.”

Masa kerahasiaan sudah sekarat. Walau ironisnya negara ini sampai pengusaha justru menghukum mereka yang dituduh membuka-buka rahasia mereka. Ingat kasus Prita Mulyasari dan juga Pak Khoe Seng Seng ?

Kabar lain : 13-14 Agustus 2009 ini, kalau jadi, saya mendapat anugerah untuk menularkan virus menulis surat dan juga surat pembaca, ke Pacitan. Tepatnya di desa Pakisbaru, kec Nawangan, Pacitan. Petikan isi email pemrakarsa kegiatan itu, Diana AV Sasa :

“Perkenalkan, saya Diana AV Sasa, salah satu penulis di Lembaga Riset dan Penerbitan Indonesia Buku (iboekoe). Saya mengenal Pak Bambang dari penelusuran saya mengenai epistoholik. Saya sedang tertarik untuk menuliskannya.

Kebetulan, tanggal 14 Agustus 2009 ini, kami akan meluncurkan buku himpunan surat-surat anak-anak dari puncak gunung Brengos di Pacitan untuk ibu Negara. Ibu Negara tidak tahu menahu mengenai surat itu. Buku itu diterbitkan dengan maksud sebagai pembelajaran pada masyarakat mengenai fungsi kontrol terhadap kebijakan publik melalui surat.

Untuk itu, kami ingin sekali mengundang Pak Bambang Haryanto untuk berkenan berbagi pengalaman pada masyarakat di desa itu mengenai fungsi dan kekuatan surat pembaca. Acara akan diselenggarakan pukul 13.30 WIB. Bertempat di Gelaranbuku Pakis, desa Pakisbaru, kec Nawangan, Pacitan. Jika Bapak bersedia, kami akan menjemput ke Wonogiri. Kebetulan saya pribadi pernah 5 tahun di Wonogiri. Dahulu sempat kost di Kajen, rumah Mbah Modin Iman (alm). [Info : rumah saya dengan rumah mBah Modin Iman Mustari itu hanya berjarak 70 m-BH].

Demikian, kami menunggu jawabannya segera mengingat acara sudah mendekati tanggal pelaksanaan.”

Sekian kabar-kabur dari Wonogiri. Selamat terus menulis, dengan gairah dan senang hati, guna memberikan manfaat bagi sesama. Sejahtera selalu. Salam sukses selalu.


Bambang Haryanto

beha

Suardi Tasrif Award 2009, Khoe Seng Seng dan Epistoholik Indonesia


Email kepada Aliansi Jurnalis Independen Indonesia (AJI), 11 Agustus 2009


Salam sejahtera,

Terima kasih untuk penghargaan Tasrif Award 2009 dari AJI kepada Pak Khoe Seng Seng. Kegigihan beliau menjadi inspirasi bagi kami, warga komunitas penulis surat pembaca se-Indonesia, Epistoholik Indonesia (EI).

Secara pribadi, dan juga kawan-kawan di EI, sejak setahun lalu kami menggalang kontak sms dan email dengan Pak Khoe. Berusaha selalu mensupport perjuangan beliau. Semoga beliau nanti benar-benar bebas, sehingga udara segar akan senantiasa mengalir ke paru-paru kami, dalam upaya menyuarakan pendapat demi kebaikan iklim berdemokrasi di tanah air.

Saya akan senang hati bila bisa memperoleh foto saat penganugerahan Tasrif Award tersebut, sehingga dapat kami pajang di blog EI, http://episto.blogspot.com dan blog saya sebagai pendiri komunitas EI, di http://esaiei.blogspot.com.

Salam saya dari Wonogiri,

Bambang Haryanto
081329306300
Penerima Mandom Resolution Award 2004 sebagai pencetus EI

beha

Virus Epistoholik dan Anak-Anak Pacitan


Email kepada Diana AV Sasa, 10 Agustus 2009


Dear Diana,

Salam sejahtera.
Salam episto ergo sum.

Thanks untuk infomu yang inspiratif. Sekadar obrolan, saya ya tahu mBah Iman. Dari perempatan (utara rumah mBah Iman), ke timur, 3 rumah di selatan jalan, itulah rumahku.

Dengan senang hati saya bersedia untuk memenuhi undangan Sasa. Apa yang harus saya persiapkan ? Misalnya, he-he, saya harus bangun jam berapa, di tanggal 14 Agt itu ?

Sampai kontak berikutnya. Sukses selalu.
Salam saya,


Bambang Haryanto

-----

8 Agustus 2009

Yth Bapak Bambang Haryanto
Di Wonogiri

Salam sejahtera dan damai kami sampaikan

Perkenalkan, saya adalah Diana AV Sasa, salah satu penulis di Lembaga Riset dan Penerbitan Indonesia Buku (iboekoe). Saya mengenal Pak Bambang dari penelusuran saya mengenai epistoholik. Saya sedang tertarik untuk menuliskannya.

Kebetulan, tanggal 14 Agustus 2009 ini, kami akan meluncurkan Buku surat-surat anak-anak dari puncak gunung Brengos di Pacitan untuk ibu Negara. Ibu Negara tidak tahu menahu mengenai surat itu. Buku itu diterbitkan dengan maksud sebagai pembelajaran pada masyarakat mengenai fungsi kontrol terhadap kebijakan publik melalui surat.

Untuk itu, kami ingin sekali mengundang Pak Bambang Haryanto untuk berkenan berbagi pengalaman pada masyarakat di desa itu mengenai fungsi dan kekuatan surat pembaca. Acara akan diselenggarakan pukul 13.30 WIB. Bertempat di Gelaranbuku Pakis, desa Pakisbaru, kec Nawangan, Pacitan.

Jika Bapak bersedia, kami akan menjemput ke Wonogiri. Kebetulan saya pribadi pernah 5 tahun di Wonogiri. Dahulu sempat kost di Kajen, rumah Mbah Modin Iman (alm).

Demikian, kami menunggu jawabannya segera mengingat acara sudah mendekati tanggal pelaksanaan.

Terimakasih,

Salam

Diana AV Sasa


beha

Monday, August 10, 2009

Monster Hydra, Budaya Jawa dan Terorisme


Artikel Bambang Haryanto dimuat di Solopos, Senin, 10 Agustus 2009, hal : 4


bambang haryanto,artikel,terorisme,budaya jawa,noordin m top,solopos 10/8/2009

Noordin M Top diduga telah tamat riwayatnya. Yang mengagetkan, gembong aksi terorisme nomor wahid di Asia Tenggara itu tewas dalam serangan Densus 88 di Beji, Temanggung. Sebelumnya, aparat memburunya sampai Cilacap, tempat ia diduga memiliki istri ketiga.

Mengapa teroris asal Malaysia itu nampak nyaman bersembunyi dan sekaligus terus giat merancang aksi-aksi terornya dari Jateng? Sebagai teroris yang licin, tampaknya Noordin tahu benar keSitus Harian Solopolemahan budaya Jawa.

Lanjutnya di :

Situs Harian Solopos

Blog Epistoholik Indonesia


beha

Aplus Untuk Austin Heap dan Reformis Iran


Komentar Bambang Haryanto di blognya Austin Heap, 7 Agustus 2009


Catatan Bambang Haryanto : Pemilihan umum presiden di Iran yang menyatakan inkumben Mahmoud Ahmadinejad sebagai pemenang memicu gejolak demo besar-besaran. Opini umum menyatakan bahwa pemilu itu diwarnai kecurangan berat dan pemimpin oposisi Mir Hussein Mousavi seharusnya yang tampil sebagai pemenangnya.

Demo kaum reformis itu menyebabkan sedikitnya 30 warga Iran tewas dalam bentrok melawan polisi. Ratusan lainnya masuk penjara dan diadili. Kaum reformis Iran segera memindahkan aksi demonya di Internet, memanfaatkan situs media sosial seperti YouTube, Facebook dan Twitter, untuk melampiaskan amarah dan untuk mengorganisasikan gerakan demo selanjutnya. Ikhtiar kaum reformis Iran ini segera dibalas pemerintah, dengan memblok akses Internet tersebut.

Perjuangan warga Iran itu segera didengar oleh dunia. Termasuk oleh komunitas teknologi informasi yang segera mengerahkan daya pikir untuk membantu warga Iran dalam menerobos blokade dan filter yang dipasang pemerintah Iran.

Radio BBC dalam siarannya tanggal 7 Agustus 2009, mewartakan ikhtiar anak muda asal San Francisco, Austin Heap (25 tahun) dan Daniel Colascione (24) asal Buffalo, New York, merancang peranti lunak anti filter yang mereka namakan sebagai Haystack.

Ikhtiar kedua anak muda tersebut segera mendongkraknya menjadi pahlawan perjuangan bangsa Iran. Dalam foto nampak Austin Heap berpidato dalam rally solidaritas untuk rakyat Iran di San Francisco, yang suaranya melalui BBC hingga menembus hati saya di Wonogiri.

Terpicu ikhtiar kedua anak muda tersebut yang sejalan dengan nilai-nilai perjuangan warga Epistoholik Indonesia, segera saja berita di BBC Siaran Indonesia itu mendorong saya keesokan hari untuk ikut menulis komentar singkat di situsnya Austin Heap tersebut. Isi selengkapnya :

Thanks, Austin. Your voice via BBC last night inspired us, and we believe that Internet are great vehicle for good people. Like you.

by: bambang haryanto (indonesia), Aug 6th at 10:09 pm


Sebelumnya, di antara ratusan komentar dalam blognya Austin Heap itu, nampak belum ada komentar yang merujuk sesuatu artikel tentang perjuangannya. Sungguh mengejutkan, sesudah komentar saya itu muncul tiba-tiba disusul dengan komentar yang menarik. Isi selengkapnya :

Fantastic work and very worthy indeed. Article on BBC about your work. We people of the world salute you and Daniel Colascione.



beha

Khoe Seng Seng, Suardi Tasrif Award 2009 dan Warga EI


Email kepada Lasma Siregar dan Milis EI, 7 Agustus 2009


Dear Bung Lasma Siregar di Melbourne,

Thanks untuk info yang membesarkan hati ini. Saya salut untuk kegigihan Pak Khoe selama ini. Saya ikut bangga atas prestasi hebat beliau ini.

Perjuangan Pak Khoe, ibu Prita dan Pak Komari dkk (ini orang Wonogiri, silakan cek di http://wonogirinews24.blogspot.com, sungguh menjadi inspirasi bagi kami, warga EI.

Terima kasih.

Salam dari Wonogiri

Bambang Haryanto


Khoe Seng Seng Mendapat Tasrif Award 2009
Email Lasma Siregar kepada Bambang Haryanto, 6 Agustus 2009


Jakarta, 6 Agustus 2009. Khoe Seng Seng alias Aseng mendapat anugerah Tasrif Award tahun 2009. Menurut Dewan Juri, Khoe Seng Seng layak mendapat penghargaan tersebut karena telah berjasa memperjuangkan kebebasan berpendapat dan hak-hak konsumen melalui surat pembaca. Khoe Seng Seng bukan hanya membela dirinya sendiri, tapi juga membela hak-hak puluhan konsumen lain.

Tindakan Khoe Seng Seng dilakukan dengan menulis surat pembaca di Kompas pada 26 September 2006 berjudul "Duta Pertiwi Bohong" dan di Suara Pembaruan pada 21 November 2006 berjudul "Jeritan Pemilik Kios ITC Mangga Dua". Dia mengaku tertipu oleh PT Duta Pertiwi selaku pengembang ITC Mangga Dua yang tidak pernah memberitahu status kepemilikan sebagai Hak Guna Bangunan di atas Hak Pengelolaan Lahan, bukan Hak Guna Bangunan Murni.

Namun, akibat tulisan tersebut Khoe Seng Seng dijerat dengan pasal-pasal pencemaran nama. Ia dihukum pidana 6 bulan percobaan oleh Pengadilan Neneri Jakarta Timur. Khoe Seng Seng juga digugat secara perdata oleh PT Duta Pertiwi. Putusan Pengadilan Negeri Jakarta Timur mengharuskan Khoe membayar ganti rugi satu miliar rupiah. Namun putusan tersebut dibatalkan oleh Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Saat ini, kasus perdata tersebut tengah ditangani Mahkamah Agung.

Seperti Prita Mulyasari yang dijerat pasal pencemaran nama akibat keluhannya melalui surat elektronik, Khoe Seng Seng harus berhadapan dengan perusahaan besar. Namun, Khoe Seng Seng tidak pasrah dalam ketidakberdayaan. Khoe aktif menggalang dukungan publik untuk membela hak-hak konsumen.

Dewan Juri Tasrif Award 2009 terdiri dari Eddy Soeprapto (Televisi Pendidikan Indonesia), Anung Karyadi (Kemitraan untuk Reformasi Pemerintahan) dan Mariana Amuruddin (Jurnal Perempuan).

Dewan Juri telah mendapat masukan dari publik mengenai calon penerima dan menyeleksi berdasarkan berbagai masukan mengenai latar belakang calon.

Anugerah Tasrif Award merupakan penghargaan tahunan dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Indonesia. Penghargaan ini sebagai penghormatan terhadap Suardi Tasrif, jurnalis-cum- lawyer, Bapak Kode Etik Jurnalistik Indonesia, yang aktif membela kebebasan berpendapat dan memerangi korupsi.

Untuk mendapat penghargaan ini, seseorang harus memenuhi kriteria, yaitu: (1) terlibat dalam menegakkan nilai-nilai keadilan dan demokrasi, (2) memiliki komitmen dan integritas moral, dan (3) mengungkap kasus ketidakadilan yang terjadi di masyarakat.


beha

Friday, July 31, 2009

Selamat Berkarier Baru, Mas Chandra Prabantoro


Email dikirimkan via Solopos, Jumat, 31 Juli 2009


Dear Mas Chandra,
Thanks untuk SMS kejutannya. Pariwisata memang punya prospek bagus, Mas. Karena semakin maraknya aksi terorisme, seperti bom di Ritz-Carlton dan JW Marriott, dampaknya akan sangat menggairahkan pariwisata. Saya yakin itu. Lho koq ?

Karena bayangkan, sesudah pengeboman itu terjadi, para aktor (selain yang mati, yang berwisata ke sorga, kata mereka yang yakin) dan dalangnya pasti sibuk berwisata. Mereka (harus) asyik berpindah-pindah, berwisata dari satu kota ke kota lainnya.

Demikian juga puluhan anggota Densus 88, juga giat berwisata, mengejar si aktor plus dalang pengeboman itu.

Selamat berkarya di karier baru. Nanti kita ngobrol lagi ya.

Salam dari Wonogiri,


Bambang Haryanto
Blogger pengelola blog Esai Epistoholica : http://esaiei.blogspot.com, Komedikus Erektus : http://komedian.blogspot.com, dan beberapa lagi lainnya.

PS : Usul-usil : untuk membuka cakrawala kedepan para peserta bimbingan penulisan artikel di Solopos, apa juga diberikan bimbingan untuk mengelola blog ? Bagi saya, penulis tanpa mengelola blog, ibarat ayam. Bisa lari cepat, tetapi tidak akan mampu terbang.


bh

Menulis dan Bersuara Mendampingi Khoe Seng Seng


Dikirimkan ke Milis EI , Kamis, 30 Juli 2009


Yth. Warga Milis Epistoholik Indonesia,

Salam episto ergo sum. Salam sejahtera. Pertama, terima kasih untuk Mas E. Musyadad yang beberapa hari lalu mengirimkan info tentang jatuhnya vonis bagi penulis surat pembaca, Pak Khoe Seng Seng dan Ibu Kwee Meng Luan. Agak lambat, email tersebut menjadi inspirasi saya untuk, apa lagi kalau bukan untuk menulis surat pembaca.

Untuk ikut mendukung dan mendampingi dari jauh perjuangan Pak Khoe Seng Seng [“makasih Pak Khoe untuk SMS ucapan Hari Isra Mikraj yang lalu..”]. Isi blog Esai Epistoholica saya yang terbaru, juga menyangkut kasus Pak Khoe yang saya kaitkan dengan budaya blog, dimana saya mencoba meminjam pemikiran dari Robert Scoble. Maaf, tulisan ini baru saya unggah 1/3-nya….

Inilah surat pembaca saya tersebut. Saya kirim 28 Juli 2009, esoknya sudah muncul di Kompas Jawa Tengah. Sayang, ada beberapa info yang menurut saya penting, justru disunting oleh Redaksi. Silakan membandingkan dengan foto surat pembaca saya yang terdapat pada attachment.

Semoga bermanfaat. Walau mungkin tidak lagi gencar, saya harap Anda semua masih terus menulis. Apa saja. Baik surat pribadi, surat pembaca, komentar di situs atau facebook, blog mau pun artikel.

Khusus untuk hal ini, saya telah menghidupkan blog lama saya (http://beha.blogspot.com) untuk mengalbum isi uneg-uneg saya selama ini, di luar blog. Intinya adalah : mari kita manfaatkan karunia Tuhan yang demokratis ini, yaitu karunia yang ada di antara kedua kuping kita. Menulis, adalah salah satu cara terbaiknya.

Salam episto ergo sum.
Salam dari Wonogiri,


Bambang Haryanto
Twitter : www.twitter.com/bambangharyanto

bh

Pelajaran Khoe Seng Seng


Dimuat di kolom Surat Pembaca Harian Kompas Jawa Tengah, Rabu 29 Juli 2009


src="http://i143.photobucket.com/albums/r150/wonogiri/bh_spkhoe_420.jpg" border="0" alt="Photobucket">


Catatan : di bawah ini saya sertakan naskah lengkap surat pembaca tersebut. Mungkin karena keterbatasan ruang, surat pembaca ini memperoleh penyuntingan dari redaksi. Simak tip lanjutan dari Pak Khoe yang tidak termuat dalam surat pembaca yang dimuat itu. (BH)

Sebagai warga komunitas penulis surat pembaca Epistoholik Indonesia, berita Kompas berjudul “Penulis Surat Pembaca Dihukum Enam Bulan” (16/7/2009 : hal.26), sungguh menyesakkan.

Sebagai konsumen yang merasa ditipu oleh PT Duta Pertiwi, dan mengeluarkan uneg-unegnya di kolom surat pembaca, membuat Khoe Seng Seng dan Kwee Meng Luan divonis hukuman enam bulan penjara dan satu tahun masa percobaan. Majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Timur menyatakan surat pembaca keduanya divonis mencemarkan nama baik PT Duta Pertiwi. Lucunya, dalam kasus itu, saksi korban, yaitu PT Duta Pertiwi sendiri tidak pernah dihadirkan dalam sidang.

Saya berkomunikasi via sms dan email dengan Khoe Seng Seng sejak tahun lalu. Sementara kasus ini dalam proses banding, ia sempat memberikan tip dalam surat pembacanya agar penulis surat pembaca tidak terjebak dalam perkara hukum seperti dirinya.

Antara lain, ketika menulis surat pembaca berupa keluhan atas produk/layanan jasa dari pelaku usaha, gunakan kata-kata yang tidak berkonotasi negatif, dan hindari rangkaian kalimat yang berarti menuduh pelaku usaha berbuat sesuatu.

Hindari penggunaan kata "ditipu", "tertipu", "menipu", "bohong", "berbohong", "dibohongi", "mencuri", "dicuri", dan sebagainya, karena kata-kata ini bisa membawa akibat penulis dipidanakan dan digugat. Pelaku usaha yang memang berniat berbuat curang akan menyatakan belum ada putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap yang menyatakan pelaku usaha ini menipu, berbohong, ataupun mencuri.

Jadi tidak bolehlah penulis menghujat dengan menuduh bahwa pelaku usaha ini menipu, berbohong, ataupun mencuri. Jika penulis tetap ingin menggunakan kata-kata ini, tambahkanlah kata "diduga" di depan kata-kata di atas. Jadi susunan katanya menjadi "diduga menipu", "diduga berbohong", ataupun "diduga mencuri".

Penggunaan kata "diduga" ini pun belum 100 persen menjamin keamanan penulis. Sebab, kalau saya tidak salah ingat, ada putusan perkara antara majalah Tempo dan Asian Agri di Pengadilan Jakarta Pusat, di mana majalah Tempo dihukum bersalah karena pemberitaannya yang menggunakan kata "diduga" ini dianggap telah menuduh oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Terima kasih, Pak Khoe. Kami senantiasa berdoa untuk kebebasan Anda. Hukuman bagi Anda jelas memberikan sinyal yang keliru dalam upaya penegakan hak-hak mengeluarkan pendapat dan kehidupan berdemokrasi di negara kita.

Bambang Haryanto
Pendiri/Warga Epistoholik Indonesia

bh

Mabuk Anti Facebook


Dikirimkan ke kolom Surat Pembaca Harian Kompas Jawa Tengah, 28 Juli 2009


Situs jejaring Facebook memang fenomenal. Kabar mutakhir, Birmingham City University di Inggris membuka program pascasarjana untuk kajian bidang media sosial ini. Di sini, para mahasiswa bakal diajar intensif dengan materi kuliah mengenai situs jejaring seperti Facebook, Twitter dan Bebo.

Tentu saja ikut pula dikaji beragam manfaat sampai dampak negatifnya seperti ditulis dengan judul “Candu Maya” oleh Nur Latifah Umi Satiti di Kompas Jawa Tengah (16/7/2009). Pendapatnya itu menarik untuk ditanggapi.

Ia sebut dengan istilah candu untuk menunjukkan keterlibatan penggunanya secara sangat berlebihan. Tidak proporsional. Tentu, kita tahu, semua hal yang berlebihan seringkali tidak baik. Agama pun bila menjadi candu, misalnya, dapat menghasilkan teroris berlatar belakang faham agama pula, bukan ?

Facebook menjadi fenomenal karena di sana kita berinteraksi dengan orang-orang yang asli, sebagian merupakan teman kita di dunia nyata. Termasuk teman puluhan tahun lalu yang bisa ketemuan lagi. Identitas mereka asli pula.

Facebook merupakan media yang membuka penggunanya untuk berekspresi, sesuatu yang selama selama ini sulit dilakukan karena mahal, tidak efisien, lamban, tidak interaktif, bila menggunakan media yang berbasis atom, alias kertas. Saya sendiri sebagai penulis surat dan surat pembaca sejak 1973, dan kini sebagai blogger, merasakan perbedaan besar itu.

Manfaat Facebook masih terbuka untuk dijelajah. Tetapi ketika saya ingin mendiskusikannya dengan Nur Latifah Umi Satiti secara langsung, nampaknya ia tidak memiliki akun Facebook. Di dunia maya ia pernah mengelola blog sejak 2005, lalu terbengkalai sejak tahun 2007. Saya kini jadi tahu mengapa ia condong menulis hal-hal berbau negatif tentang Facebook. Ia bukan warga Facebook.


Bambang Haryanto
Pendiri/Warga Epistoholik Indonesia

bh

Bapak Tak Pernah Salah


Dikirimkan ke kolom Surat Pembaca Harian Kompas Jawa Tengah, 28 Juli 2009


Di masa lalu,bangsa ini mencatat sejarah ketika Presiden Soeharto memperoleh gelar Bapak Pembangunan. Gelar “bapak” itu sering menunjukkan pemahaman bahwa yang bersangkutan berperilaku mulia, sebagai teladan, tidak pernah bersalah dan selalu kita turuti segala titahnya. Pola pikir semacam itu kiranya belum luntur dalam budaya birokrasi kita.

Sekadar contoh, seorang bupati di Jawa Tengah murka ketika memperoleh pertanyaan kritis dari wakil rakyat terkait dengan pengiriman misi kesenian ke manca negara yang ia pimpin. Alih-alih bupati itu membuka dialog secara proporsional dan profesional, dia malah berekspresi marah dengan ucapan bahwa dia adalah “bapak” dari para wakil rakyat itu.

Sekaligus mengklaim dirinya berjasa sehingga para wakil rakyat itu bisa duduk pada kursinya sekarang ini. Sedihnya lagi, para wakil rakyat itu kemudian justru terdiam karenanya.

Pola Orde Baru masih lestari di tengah kita, tatkala eksekutif merasa berhak menjadi “bapak,” bahkan bapak yang tidak pernah merasa salah, bagi legislatif. Bayangkan, betapa penyalahgunaan wewenang akan merajalela karena kontrol dari wakil rakyat begitu mudah ditelikung hanya dengan marah-marah !

Bambang Haryanto
Pendiri/Warga Epistoholik Indonesia


bh

Tuesday, July 28, 2009

Komedi Empat Alternatif a la Jay Sankey


Komentar di Facebook untuk artikel Darminto M Sudarmo, Lawak Indonesia Mau ke Mana?, diunggah Selasa, 28 Juli 2009


Mas Ali Mahmudin dan Mas Darminto.

Ini lanjutan obrolan kita tentang lawakan jadul atau tidak jadul. Saya ingin mengutip pendapat Jay Sankey dalam Zen and The Art of Stand-Up Comedy (1998) tentang 4 pola alternatif sajian komedi : model lama disajikan dengan cara lama, model lama disajikan dengan cara baru, model baru dengan cara lama, dan model baru disajikan dengan cara baru. Keempat pola itu ada plus-minusnya masing-masing.

Moga mampu lebih lebar membuka [lagi ?] pintu-pintu kreativitas kita.
Selamat berkarya !



bh

Monday, July 27, 2009

Workshop Komedi dan Resep Judy Carter 26 Hari
Komentar di Facebook untuk artikel Darminto M Sudarmo, Lawak Indonesia Mau ke Mana?, diunggah Senin, 27 Juli 2009


Mas Darminto, tentang silabus, ada info. Di appendix bukunya Melvin Helitzer, Comedy Writing Secrets (1987) terdapat 58 lembaga yang memberikan kursus komedi/humor di AS. Apa kita tak perlu menengok, mencari tahu dan mempelajari, apa yang telah mereka lakukan selama ini ? Workshop mereka itu ada yang tergabung di jurusan Komunikasi, Sastra Inggris sampai Sosiologi.

Sedang kurikulum dalam workshop untuk komedi tunggal dari Judy Carter “hanya” terdiri 26 hari kegiatan. Secara teoritis, dalam waktu kurang sebulan itu workshop mampu mencetak komedian baru, yang mampu menulis lawakan orisinal karena berdasar pengalaman hidup tiap-tiap individu mereka masing-masing dan berpentas.

Tentang isi workshop yang terkait dengan klub komedi, disebut Judy Carter sebagai kewajiban yang harus dilakukan pada hari pertama calon komedian itu. Ketika dirinya belum mendapat pembekalan ini atau itu, tetapi harus berani berpentas tunggal 3-5 menit pada dua tempat yang berbeda.

Ia dipaksa harus mandi keringat (dingin ?) dulu, dan pengalaman itu diharapkan menjadi bekal berharga dirinya untuk melangkah ke depan. Pada hari kedua, barulah teori konstruksi lelucon diberikan.Urut-urutan 26 hari kegiatan itu, bila ada minat dan waktu bisa Anda klik di : http://komedian.blogspot.com/2005/06/kiat-sukses-26-hari-menjadi-pelawak.html

Kemampuan intelektual merupakan faktor penting dalam mengapresiasi komedi telah mendorong Stevie Ray dalam bukunya Stevie Ray’s Medium-sized Book of Comedy (1999) membuat kategorisasi apa yang ia sebut sebagai piramida komedi. Urutan terbawah sampai teratasnya sebagai berikut : komedi fisik, obscenity & profanity, storyline, language, imitation, character contradiction dan satir.

Semua sajian komedi dari tiap tingkat dari tujuh tingkat piramida ini, tentu saja, layak untuk hidup guna memenuhi kebutuhan khas audiensnya masing-masing. Aksi Mr. Bean dan pantomim Milan Sladek adalah termasuk komedi fisik, tetapi karena digarap dengan kepiawaian yang tinggi, kualitasnya pun hebat.

Begitulah, obrolan kita ini ditujukan, idealnya, mencari ikhtiar bagaimana tiap-tiap tingkat dari piramid komedi tersebut lebih berkualitas daripada apa yang tersaji sekarang ini di Indonesia. Isyarat ini mungkin bisa menolong : kalau Anda mengetikkan kata “comedy” di mesin pencari Google, saya yakin yang akan dominan muncul adalah topik “comedy writing” dan bukan “comedy improvisation.”

Dari hasil ini Anda dapat tahu kira-kira apa langkah terbaik yang harus ditempuh untuk memperbaiki dunia komedi di Indonesia

bh
Komedi Indonesia, Ekonomi Kreatif, dan Inovasi Komedi
Komentar di Facebook untuk artikel Darminto M Sudarmo, Lawak Indonesia Mau ke Mana?, diunggah Jumat, 24 Juli 2009



Tks, Mas Darminto. Untuk lelucon malapropism a la Tukul, yaitu fish to fish, akan terjadi bila Tukul ketemu Omas. Satu arwana, satunya koki. Di Fakultas Fishologi. Tentang kultur oral, saya juga suka kok. Tetapi sebagai bujangan tua, saya lama tidak mempraktekkan lagi kultur oral satu itu, walau gaya favorit saya adalah gaya “densus 69.”

Tentu mas, saya bukan anti pertemuan lho. Maksud saya, mari kita maksimalkan media, utamanya yang berbasis Internet yang sudah tersedia itu, sebelum dan bahkan sesudah nantinya ada pertemuan itu.

Memperindag Marie Pangestu pernah bilang, ekonomi kreatif itu hanya bisa hidup subur bila tingkat kemelekan komunitas pendukungnya terhadap Teknologi Komunikasi dan Informasi (TKI) yang tinggi. Padahal komedi adalah lahan ekonomi/industri kreatif yang menantang untuk diolah dan dijelajah.

Tidak hanya di televisi, radio, juga media-media baru seperti telepon seluler yang audiensnya melonjak dari hari ke hari. Termasuk fenomena non-linearnya mBah Surip.

Kalau warga komunitas komedi tidak melek TKI, ya progres kita tentu terganjal karenanya. Mau tak mau kita memang harus mau meng-up date diri kita sendiri. Kalau tidak, kita terjebak dalam sindrom menunggu dan hanya menunggu.

Dengan terus berdiskusi, berbisik-bisik di dunia maya, minimal kita berbuat agar dunia komedi itu terus mampu buzzing, mbrengengeng kayak tawon. Berdengung dan berdengung. Siapa tahu bisik-bisik kita itu nanti akan meledak seperti bisik-bisiknya Prita Mulyasari. Untuk itu memang harus ada movement, dimulai dari kelompok-kelompok kecil dulu.

Sejarah menunjukkan, begitu Clay Shirky (bisa dicari di Google) bilang, bahwa inovasi akan muncul “dari kelompok kecil dari sejumlah besar warga yang saling berdiskusi.” Untuk dunia komedi Indonesia, ya Anda semua dan kita-kita ini sebagai warga kelompok kecil itu, dari suku komedi yang harus berdiskusi. Mungkin suku yang aneh dan rada terasing, tetapi semoga saja bukan sebagai suku yang segera terancam punah :-(.

Tentang ide Mas Darminto agar saya ketiban pulung menjadi “tukang dobrak,” kiranya harapan itu berlebihan. Karena begitu banyak poros dalam dunia ini untuk digulirkan. Simak saja apa yang disebutkan oleh Mas Uki Bayu Sedjati, yang bilang “kepingin melibatkan telaah terhadap pelawak ke dalam kehidupan di sekitar kita, misal: kondisi & status sosial-ekonomi-pendidikan, industri & kapitalisasi, peran media massa, dll.”

Luas sekali. Bisa ga, beliau menuliskan uneg-unegnya tersebut ? Mungkin dalam blognya pribadi ? Atau nunut di My Note-nya Mas Dar ini ? Saking luasnya telaah untuk dunia komedi, sering saya tulis, bahwa saya ibarat seekor nyamuk dalam perkampungan kaum nudis. Tahu apa yang saya perbuat, tetapi belum tahu harus dimulai dari mana….Buzz, buzzz, buzz. Nguing, nguing, nguing. Bingung.

Bagaimana bila dimulai dari isu klub komedi amatir tadi ? Engga maksa lho.

Bambang Haryanto
Pengelola Blog Komedikus Erektus ! :
http://komedian.blogspot.com

bh
Komedi Indonesia vs Klub Komedi
Komentar di Facebook untuk artikel Darminto M Sudarmo, Lawak Indonesia Mau ke Mana?, diunggah Jumat, 24 Juli 2009



Tks, Mas Ali Mahmudin/TPI, untuk pengayaan infonya. Cita-cita luhur Anda tentang lawakan cerdas itu saya kira juga menjadi komitmen kita semua. Saya yakin cita-cita itu akan tercapai. Mari kita semua pemangku kepentingan dunia komedi Indonesia menghimpun iuran gagasan untuk langkah demi langkah menuju progres.

Mas Ali berbicara dari kacamata seorang eksekutif televisi, kan ? Kalau benar maka bisa dimaklumi bila para komedian muda itu menjadi sulit bersaing untuk tampil di layar kaca. Tayangan di TV jelas terlalu mahal sebagai tempat mereka mengasah keterampilan. Apa alternatifnya ?

Saya pernah kirim gagasan lama, ke Shola dan Mas Darminto, dan teman lainnya, sesudah acara diskusi Jogja itu. Yaitu gagasan membangun komunitas klub komedi amatir. Sori, ide lama itu saya ulang lagi di sini, karena email saya terkait gagasan tersebut babar blas ga ada yang mau mengomentari :-( Kali karena kuno idenya.

Topik klub komedi itu pernah saya tulis di harian Suara Merdeka. Moga-moga artikel ini masih hidup dan masih bisa Anda akses.

Untuk klub komedi yang sudah digarap sebagai bisnis, rasanya kita bisa belajar dari Raymond Tommybenz dari Comedy Café di Pasar Festival Kuningan, Jakarta. Sekadar info : dia dan saya pernah diwawancarai oleh radio BBC Siaran Indonesia mengenai tidak suburnya budaya lawak tunggal di Indonesia.

Di komunitas klub komedi amatir itu, secara teoritis, semua fihak dapat berinteraksi. Dari calon komedian, penulis naskah, produser televisi, pencari bakat, dan fihak-fihak terkait lainnya. Jadi cita-cita ingin ketemu, pengin ngobrol-ngobrol demi melepas kangen dari Mas Darminto dan teman lainnya, mungkin dapat terpenuhi.

Tentang komunitas klub komedi amatir di dunia maya, menurut saya akun Facebook-nya Mas Darminto ini agak kurang memenuhi syarat. Mohon bikin saja akun grup, Komedi Indonesia. Atau nama lainnya. Saya sudah masuk grup Persatuan Humor Indonesia (PHI), tetapi tak aktif. Isinya berbagi lelucon, tetapi bukan lelucon orisinal, jadi males.

Moga obrolan ini ada manfaatnya.


Bambang Haryanto
Pengelola Blog Komedikus Erektus !


bh
Komedi Jadul, Ali Mahmudin dan Isu-Isu Baru
Komentar di Facebook untuk artikel Darminto M Sudarmo, Lawak Indonesia Mau ke Mana?, diunggah Selasa, 21 Juli 2009


Dear mas Ali Mahmudin. Setuju sama pendapat Anda terkait artikel Mas Darminto [beliau th 80-an jd redaksi yang membayari honor untuk kiriman lelucon saya di koran Jayakarta].

Lawak jaman dulu masih berpotensi besar untuk memperoleh sentuhan baru. Revitalisasi. Lawak jaman dulu kan merupakan akar kita. Tinggal bagaimana kita mem-blend antara "kemasan" yang lama itu dengan isu-isu baru. TPI dan Anda pasti kaya dengan hal ini.

Sukses selalu. Salam untuk Mas Harris Cinnamon.

bh
Internet vs Kegaptekan Komunitas Komedi Indonesia
Komentar di Facebook untuk artikel Darminto M Sudarmo, Lawak Indonesia Mau ke Mana?, diunggah Selasa, 21 Juli 2009



Wah, kalau diskusi/obrolan antar stakeholder atau pemangku kepentingan dunia komedi Indonesia baru diadakan bila kita bisa BERKUMPUL dan bicara secara TATAP MUKA, maka menurut saya, kayaknya mindset kita kembali ke “jaman batu.” Alias jaman sebelum ada Internet.

Padahal, waktu terus berdetak. Padahal kita sudah menggunakan sarana email dan beragam media sosial di Internet, dari blog sampai facebook ini. Tanpa dibatasi oleh jarak dan posisi geografi, kita sudah bisa bertemu dan berbagi gagasan. Padahal kita tinggal mengetik gagasan-gagasan kita itu, mengelaborasinya.

Sayang, bila diskusi semacam ini lalu berhenti, tidak bertenaga, karena “kemalasan” kita semua :-( ?

bh
Budaya Menulis Dalam Komunitas Komedi Indonesia
Komentar di Facebook untuk artikel Darminto M Sudarmo, Lawak Indonesia Mau ke Mana?, diunggah Selasa, 13 Juli 2009



Tulisan yang bertopik luas dan inspiratif. Demikian juga tulisan Indra Tranggono itu. Usul : kalau ada minat, tulisan-tulisan tersebut berpeluang dipecah secara lebih detil fokusnya, yang menurut saya lebih dari sepuluh topik.

Bagi saya, juga sering ditulis di media massa, problem utama kemandegan komedi Indonesia adalah masih saja (abadi ?) bertumpu pada sinyalemen yang selalu diungkapkan oleh Arwah Setiawan.

Dua belas tahun lalu, intelektual humor Indonesia itu dalam bukunya Humor Zaman Edan (Jakarta : Grasindo, 1997 : 379), sudah berujar : “Betapa pun pentingnya pelawak atau komediwan untuk menyukseskan suatu pertunjukan komedi, tetapi kalau pertunjukan itu tidak didasarkan pada naskah cerita yang jenaka dan rapi, pertunjukan tersebut niscaya tidak akan dinikmati oleh para pemirsa...

Keberhasilan suatu pertunjukan komedi memang bertumpu pada penulisan naskah komedi yang jenaka, rapi dan masuk akal…Untuk itu perlu diadakan lomba penulisan naskah komedi.”

Selama tidak ada upaya serius dan berkesinambungan dalam menumbuhkan budaya menulis dalam dunia komedi kita, jangan berharap akan ada perkembangan yang lebih baik bagi dunia komedi kita.

Malah saya sendiri di era merebaknya media sosial yang egaliter di Internet dewasa ini, berkesimpulan rada selfish, bahwa : komedian itu HARUS seorang blogger*. Titik. Period.

PS : *)Sayang banget, blognya Jojon Center dibiarkan terbengkalai. Makalah Anda ini belum terpajang di sana. Padahal sebaiknya, sebelum acara sudah mejeng di sana :-(. ...

Oh ya, saya juga sudah kirim email terkait upaya menindaklanjuti ikhtiar + obrolan di Jojon Center itu, demi memajukan komedi Indonesia melalui penyelenggaraan klub-klub komedi amatir di kota-kota kantong budaya di Indonesia.

bh
Kampanye Makan Ikan, Surat Pembaca, dan Blog Sepakbola
Email ke Joko Suprayoga (Kendal), Minggu, 19 Juli 2009, Jam 9-an. JetixNet, K1.

Pro : Mas Joko Suprayoga,

Salam episto ero sum. Moga sehat-sehat. Moga Musashi juga tambah pinter. Apa juga suka makan sushi, ikan mentah a la orang Jepang ? Saya tertarik dengan SP Anda di SM (“he-he, koran ini sudah memasukkan saya dalam black list mereka, engga boleh nulis SP, gara-gara saya menulis kritik, entah di blog atau my note di FB saya…”), terkait kampanye makan ikan. Seingat saya, saya makan ikan kalau mancing saya ke Bengawan Solo dapat ikan. Tetapi itu sudah puluhan tahun yang lalu.

Itulah cermin Wong Wonogiri, barangkali, terkait konsumsi ikan. Saya sudah pula kliping berita di Solopos tentang kampanye makan ikan itu. Ditulis, bahwa orang Wonogiri itu masih rendah konsumsi ikannya. Mungkin cerita berikut ini mencerminkan mengapa warga kabupaten saya ini tergolong rendah dalam mengonsumsi ikan.

kampanye makan ikan, wonogiri

Suatu saat, saat saya jalan ke Perpustakaan Wonogiri. Di dekatnya ada restoran Ayam Bakar Ari. Tiba-tiba ada mobil Dinas Perikanan Wonogiri berhenti di depan restoran itu. Di mobil itu terpajang slogan, “Orang Pintar Gemar Makan Ikan.” [Lihat foto].

Naluri sebagai warga EI segera berjalan. Segera saya jepret momen menarik itu dengan kamera saya. Nampak dua PNS sedang memasukkan dus-dus makanan ke mobil yang menurut saya “mewah,” (Mitsubishi Strada ?), kelas gas guzzler (istilah orang AS untuk mobil ber-CC besar, boros konsumsi BBM).

Dari foto itu menimbulkan pertanyaan : apakah PNS dari Dinas Perikanan Wonogiri itu memesan makanan ayam bakar atau ikan bakar ? Saya tidak tahu jawabnya.

Sekian dulu kabar dari Wonogiri.
Salam episto ergo sum.

Bambang Haryanto
Twitter : http://twitter.com/bambangharyanto

PS : Usul-usil. Koran itu umurnya “sehari.” Jadi sayang bila tulisan-tulisan Anda yang inspiratif itu juga ikut hanya berumur sehari. Alangkah baiknya bila semisal SP Anda tentang sepakbola itu dibuatkan blog tersendiri.

Semakin banyak orang cerewet tentang sepakbola kita, saya kira akan lebih baik bagi masa depan sepakbola kita. Apalagi di dunia sepakbola kita, menurut saya, terlalu banyak “useful idiot” yang begitu mudah dipergunakan oleh para penguasa untuk agenda mereka sendiri.

Dengan blog, Anda dan kita lebih “abadi” dalam berbagi wawasan, uneg-uneg dan pengetahuan.

bh