Tuesday, December 28, 2010

AFF 2010,Chappy Hakim dan Budaya Korupsi Kita



Oleh : Bambang Haryanto
Email : epistopress (at) gmail.com


Indonesia mabuk kemenangan. Di arena olahraga yang menjadi favorit berat warganya. Di Piala AFF 2010. Tetapi ketika impian itu terancam terempas, tidak banyak yang mau berusaha menggali akar penyebab mengapa semua bencana itu terjadi.

Di antara warga Indonesia yang terpanggil untuk membedah tragedi kekalahan timnas Indonesia 3-0 ditekuk Malaysia pada laga leg pertama final Piala AFF, di Bukit Jalil 26 Desember 2010, adalah Chappy Hakim. Ia pensiunan marsekal, pernah menjabat sebagai KSAU, dan kini aktif sebagai blogger Kompasiana yang kemudian karya-karyanya diterbitkan sebagai buku.

Ulasan menarik dia berjudul Belajar Dari Tragedi Bukit Jalil, yang antara lain merujuk semacam excuse dari pelatih timnas, Alfred Riedl, yang berkali-kali mengatakan bahwa timnya itu sebagai tim yang "belum jadi."

Chappy Hakim menulis : "Sejatinya,jawaban dari hal tersebut sudah diutarakan oleh sang pelatih Alfred Riedl dari sejak awal. Dia berulang kali mengatakan bahwa tim ini sebagai tim yang “belum jadi”. Maknanya adalah, dalam meraih prestasi olahraga, harus diingat bahwa tidak akan pernah sukses itu diraih dengan tiba-tiba. Sukses dalam olahraga tidak bisa tidak harus dijalani melalui tahapan-tahapan berlapis yang harus dilakoni.

Kematangan satu tim sepak bola hanya akan diperoleh dari pengalaman bertanding yang panjang.Kekompakan dalam kerja sama tim hanya akan dapat diraih dari seringnya mereka bermain bersama, tidak hanya latihan, tetapi juga lebih-lebih dalam bertanding.

Tidak hanya bertanding di kandang sendiri, tetapi juga bertanding di kandang lawan. Tidak hanya satu dua kompetisi yang harus diikuti, tetapi juga harus banyak dan sering mengikutinya.Juara hanya dapat diraih dengan “jam terbang” yang cukup."

Bemper seksi Chappy. Pendapat Chappy Hakim di atas adalah pendapat yang masuk akal. Tetapi nampaknya dia kurang menyadari betapa dunia persepakbolaan Indonesia telah hidup dalam "atmosfir busuk" selama ini. Bukan hanya belitan budaya instan yang hidup di kepala para suporter dan semua pemangku kepentingan dunia sepakbola kita, termasuk melakukan naturalisasi Cristian Gonzales dan Irfan Bachdim sebagai upaya menelan pil ajaib mendongkrak prestasi, tetapi terdapat "lubang hitam" lainnya yang lebih dahsyat.

Fenomena "lubang hitam" itu sudah sering saya ungkapkan berkali-kali. Tetapi, tidak ada salahnya saya tuliskan lagi,untuk menanggapi buah pemikiran Chappy Hakim tadi. Inilah pendapat saya selengkapnya :

“Bemper” seksi yang dipasang Pak Chappy Hakim (beda dengan milik Jupe) dengan merujuk pendapat Alfred Riedl bahwa timnya adalah tim “yang belum jadi,” menarik untuk terus dibincangkan. Namun ijinkanlah saya ingin menambahi, betapa “penyakit” sepakbola Indonesia lebih serius dan lebih kronis. Sering sekali untuk blog saya, saya mengutip ucapan Sekjen Asian Football Confederation (AFC), Peter Velappan, di majalah Asiaweek (5/6/1998) menjelang Piala Dunia 1998.

Ia tegaskan : “Indonesia adalah Brazilnya Asia. Pesepakbola Indonesia bermain dengan intelejensia dan bakat unik yang tidak ada duanya di dunia. Bakat-bakat mereka lebih baik dibanding pemain Korea atau Jepang. Pada era 50 dan 60-an, tim-tim Asia jangan bermimpi mampu menaklukkan tim Asia Tenggara.” Tetapi dalam setengah abad terakhir tim-tim Asia Tenggara, termasuk Indonesia hanya bisa memble berat.

Karena menurutnya, "akibat pengelolaan manajemen yang amburadul dan dan tidak bisa membersihkan dirinya dari belitan budaya korupsi." Ada foto Rocky Puitiray lagi melompat (ditulis sebagai Perry Sandria), dengan teks : "Pemain Indonesia banyak yang berbakat, tetapi pengaturan skor meruyak dimana-mana."

Penyakit kronis persepakbolaan kita lainnya, kita bisa belajar dari Freek Colombijn, antropolog lulusan Leiden, mantan pemain Harlemsche Football Club Belanda, mengungkap bahwa posisi sepak bola Indonesia dalam percaturan dunia kini berada dalam posisi periferi, pinggiran.

Dalam artikel "View from the Periphery : Football in Indonesia" dalam buku Garry Armstrong dan Richard Giulianotti (ed.), Football Cultures and Identities (1999), ia menggarisbawahi keterpurukan prestasi sepakbola Indonesia sebagai akibat masih meruyaknya budaya kekerasan di teater sepak bola kita dan belum kokohnya budaya demokrasi di negeri ini. Seolah memberi garis bawah realitas itu, seorang Emil Salim baru-baru ini menyebutkan bahwa demokrasi di Indonesia ibarat anak-anak yang masih berusia 2-3 tahun.

Tanggal 8/1/2005 dan 16/1/2005, sebagai warga Wonogiri saya ikut mendukung timnas di final Piala Tiger 2004. Baik di Senayan mau pun di Kallang, Singapura. Saat itu saya memakai kaos bertuliskan slogan, "I Believe The Withe Magic." Saya percaya akan kepiawaian pelatih timnas saat itu, Peter Withe yang asal Inggris. Toh kita gagal. Padahal, sebelum melatih timnas kita Peter Withe berjaya melatih tim Thailand.

Kalau dia mampu sukses hebat melatih tim Gajah Putih, mengapa dirinya gagal total ketika melatih tim Indonesia ? Pertanyaan itu dan ucapan Peter Velappan atau pun Freek Colombijn, terus saja berdengung di telinga saya bila timnas berlaga di ajang internasional. Sampai saat ini. Mungkin akan kembali mengeras bila nanti Alfred Riedl gagal membuahkan keajaiban di Senayan, Rabu Malam, 29 Desember 2010."

Apa pendapat Anda ?


Wonogiri, 29 Desember 2010

Thursday, December 23, 2010

Nyanyian Angsa Untuk Kompas Jawa Tengah


Untuk milis Epistoholik Indonesia, 23 Desember 2010


Oleh : Bambang Haryanto
Email : epistopress (at) gmail.com


Salam episto ergo sum,

Selamat bersiap merayakan Hari Natal untuk Mas FX Triyas Hadi Prihantoro di Solo, Mas Kukuh Widyatmoko di Malang, juga Mas Thomas Sutasman di Cilacap, dan warga EI yang siap merayakannya.

Juga untuk redaksi dan wartawan Harian Kompas Jawa Tengah yang siap menyambut Natal, Tahun Baru 2011, dan juga situasi baru koran ini pula.

Kemarin, Rabu 22 Desember 2010, saya memperoleh SMS dari Mas Joko Suprayoga (Kendal) : “Kabar buruk pak BH, mulai 2 Jan 2011 nanti Kompas Jateng akan ‘ditutup,’ semua akan dinasionalkan, jadi benar kata pak BH, saatnya buat blog untuk menulis.” [10.23.17].

Balasan saya : “Tks. Wah kok ya sedih juga. 7 mug yll itu salam perpisahan ? Kita lihat 2/1/11 nanti. Ttp ngeblog hrs terus/dimulai, demi terus memperkuat otot2 menulis kita, bukan ?” [10.59.25].

Swan song, itu salah satu lagu dari The Bee Gees.
Nyanyian angsa, itu salah satu judul puisinya Rendra.
Intinya sama : lagu perpisahan.

Warga Epistoholik Indonesia (EI) yang berdomisili di Jawa Tengah, akan segera (atau sudah ?) mendengarkan lagu perpisahaan, sembari didera rasa kehilangan salah satu mitra terdekat sekaligus lahan bhakti untuk berkiprah, ketika nanti tak ada lagi lembaran Kompas Jawa Tengah yang bisa kita pergoki setiap pagi ?

Ada seorang tokoh berpendapat, bila sebuah koran yang paling jelek pun mati, hal itu merupakan kabar buruk bagi demokrasi. Lalu bagaimana kita harus bersikap ketika koran sebaik Kompas ternyata memutuskan untuk melikuidasi edisi Jawa Tengah-nya dan seperti kata Mas Joko, lalu “menasional”-kan diri ?

Apakah hal itu akan membuat kiprah kita sebagai kaum epistoholik, utamanya yang tinggal di Jawa Tengah, menjadi kehilangan arena untuk ikut menyumbangkan pikiran sebagai pengejawantahan mekanisme checks and balances dalam kehidupan berdemokrasi ?

Kita lihat pada tanggal 2 Januari 2011 nanti.

Tetapi seperti tergambar dalam paparan profil komunitas Epistoholik Indonesia di koran Solopos (5/12/2010), kita harus membuka mata betapa kolom surat pembaca di pelbagai surat kabar nampak kian hari, kian menyusut. Ada yang menghapuskannya, ketika kaplingnya laku dijual untuk iklan. Bentuk kolomnya juga sering “pletat-pletot” ketika dijepit sana-sini untuk pemajangan iklan-iklan pula.

Kapling yang menyusut, membuat semangat kita (minimal saya) untuk menulis juga ikutan mengkerut. Rupanya “penyakit” ini diam-diam juga menyebar, sehingga saya sudah dua kali mendapat info dari “orang dalam” surat kabar itu sendiri : ketika stok surat pembaca tidak ada sama sekali, terpaksa muncul surat pembaca “banjelan,” yang hasil rekayasa, karena ditulis oleh sang wartawan surat kabar itu sendiri.

Baguskah ini semua untuk demokrasi ?
Pendapat Anda kami tunggu.

Yang pasti, harapan saya, kondisi eksternal, yang diluar kuasa kita, boleh saja berubah. Tetapi kini tiba saatnya kita harus menanggapi semua perubahan itu secara kreatif. Ketika satu pintu tertutup, semoga masih banyak lagi jendela-jendela lainnya yang akan terbuka.

Seperti diingatkan kembali oleh Mas Joko Suprayoga, kita dapat saja terus menulis dengan media blog, seperti telah saya berusaha kampanyekan selama ini.

Jadi kalau Mas Triyas, seperti dikutip di Solopos Minggu (5/12/2010) telah bilang bahwa media blog adalah media alternatif, maka kini tiba saatnya mendaulat blog itu sebagai episenter aktivitas menulis kita sebagai warga e-pistoholik.

Huruf “e” sengaja saya pisah, sebagai penekanan betapa kepanjangannya, yaitu “electronic,” akan mengantar (Anda semua tahu) buah-buah pemikiran kita yang kita tulis di media digital itu mampu,secara teoritis, merangkul audien dunia.

Harapan saya : kalau Anda selama ini mampu menulis surat-surat pembaca atau artikel di media-media berbasis atom (baca =kertas) dengan cinta, dengan bersemangat, maka hal serupa juga dibutuhkan ketika Anda menulis untuk media-media berbasis bits, sinyal-sinyal elektronik, yaitu blog-blog Anda.

Karena tanpa cinta, tanpa semangat, tanpa passion, tanpa adanya panggilan hati, gagasan-gagasan itu tidak akan mampu terbang jauh untuk menyelinap ke sanubari pembaca-pembaca Anda.

D. H. Lawrence (1885–1930), novelis dan penyair Inggris, telah bilang : “Duduk-duduk manis sajalah bila kau tidak memiliki sesuatu untuk dikatakan, tetapi bila panggilan hati menggerakkanmu, katakanlah yang harus kau katakan, dan katakan semuanya dengan sepenuh gelora.”

Bermediakan blog, dimana Anda adalah penulis, editor, penerbit, sekaligus sebagai pemilik media, ujaran D.H. Lawrence itu dapat Anda lakukan secara paripurna. Sekarang juga !

Salam episto ergo sum !


Bambang Haryanto

PS : Apakah saya sebagai warga EI sebaiknya tinggal di kota besar ? Saya baru saja dapat SMS dari “Putri” mahasiswa Ilmu Komunikasi Unpad Bandung. Ia mendapat tugas kuliah, menulis features, dan ia memilih topik kiprah kaum epistoholik. Dalam SMS ia bertanya : “kapan saya bisa mewawancarai Bapak ?”

SMSnya belum saya balas.

Apakah ia kira-kira tahu kalau domisili saya di Wonogiri ? Kalau jadi, ia adalah mahasiswa Unpad yang kedua yang mau jauh-jauh dari Bandung untuk mencari info langsung tentang EI. Kalau boleh memilih, dia kan bisa wawancara via email saja ?

Saturday, December 11, 2010

Menulis Itu Magic,Menulis Itu Senjata Dahsyat!


Dikirimkan ke Milis Epistoholik Indonesia, Minggu, 12 Desember 2010


Oleh : Bambang Haryanto
Email : epistopress (at) gmail.com


Dear sobat warga Epistoholik Indonesia,
Salam episto ergo sum !
Semoga sehat-sehat.

Apa “sarapan” pagi Anda di hari Minggu, 12/12/2010 ini ?

Saya tadi pagi jalan kaki ke kawasan Waduk Gajah Mungkur(GM), Wonogiri. Berangkat jam 04.45, sampai rumah kembali jam 07.30.

Sempat memotret posisi kamera/webcam dari situs Solo City View, yang dipasang untuk memantau pintu air (spill way) bendungan waduk Gajah Mungkur melalui Internet. Saya juga memotret papan pengumuman “Dilarang Membuang Sampah Ke Sungai” yang juga mencantumkan nama diler sepeda motor sebagai sponsor. Terpasang di bibir sungai.

Tentu saja, sampah yang dibuang ke sungai sudah tidak lagi berbekas di tempat itu. Tetapi larangan tersebut membawa dampak lain : tumpukan sampah justru bertimbun di sekitar papan pengumuman itu terpasang. Jadi pesan pengumuman itu benar-benar tepat sasaran !

Aktivitas lain, sekitar setengah jam saya membaca-baca bukunya Andrias Harefa. Happy Writing (2010). Di bibir waduk, dengan di depan saya adalah hamparan air, dan sinar matahari membias keemasan di permukaan. Juga satu perahu. Mirip lukisan Cina yang hening itu.

Buku itu berisi 50 tips agar aktivitas menulis bisa “ngasyik.” Buku ini hadiah dari Stube-HEMAT, saat saya menjadi narasumber pelatihan menjadi komunikator yang positif bagi mahasiswa di Yogya, 4-5/12/2010. Terima kasih, Widiaji (“nama dia 2-3 kali disebut di buku itu” – kali ini sebagai figuran :-), moga lain kali jadi pemain utama). Terima kasih untuk mBak Ariani yang sudi menuliskan pesan kenangan di buku itu pula.

Sampai di rumah, sesudah mandi, antena wi-fi sudah hidup. Langsung fasilitas hotspot di rumah ini menjadi tiga titik ketika saya menghidupkan komputer. Sempat membaca berita penguburan Elizabeth Edwards (61), mantan istri calon wakil presiden dari Partai Demokrat dalam Pilpres AS 2004, John Edwards.

Liz Edwards itu punya ketegaran dalam mengarungi kehidupan. Ketika anak lelakinya meninggal dalam kecelakaan mobil di usia 16, dirinya mengidap kanker payudara, lalu suaminya selingkuh dan memiliki anak dari pacarnya. [Saya memiliki folder untuk Elizabeth Edwards, yang penulis dua buku laris itu].

Saya juga menerima empat email, satu email sampah, pagi itu. Satu dari Mas Darminto M Sudarmo (Semarang), mantan redaktur majalah HumOr. Ia menulis catatan di akun FB-nya, menanggapi ide saya kemarin agar 30 Desember (2010) didaulat sebagai Hari Humor Nasional.

Sekaligus untuk memperingati hari wafat dan mutiara warisan humor Gus Dur (2009) dan meninggalnya Dono Warkop (2001). Di blog saya sebut kata-kata mutiara tentang makna penting humor, antara lain : “Humor lenyap, kebudayaan lenyap.” Kalau Anda ada waktu, silakan klik : disini.

Email lain dari Widiaji (Yogya). Ia saya minta untuk mem-FWD email saya ke temannya, Rudhita, berisi jawaban saya tentang bukunya Howard Gardner, The Unschooled Mind: How Children Think and How Schools Should Teach (1991).

Dengan gegabah bisa saya katakan, kalau guru atau pendidik yang tidak pernah membaca atau menerapkan isi buku ini, resikonya adalah : Anda hanya akan membuat “otak muridnya tak pernah bersekolah.” Saya pernah menuliskannya, di surat pembaca harian Kompas Jawa Tengah, Selasa, 29 November 2005

Email berikutnya dari rekan kuliah saya, Bakhuri Jamaluddin (Tangerang). Ia yang pernah mengirimi saya buku karyanya, kini menagih imbalan : minta dikirimi buku
Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Etera Imania, 2010). Tunggu, Bakh. Mas Joko Suprayoga (Kendal) yang mengatakan penasaran dengan buku ini, moga-moga sudah memperoleh jawaban. Semoga toko-toko buku utama di Semarang sudah memajangnya !

Email keempat, kabar bagus dan menarik, dari Nurfita Kusuma Dewi. Entah, kirim emailnya dari Yogya atau dari Semarang, yang pasti ia mengabarkan bahwa artikelnya hari ini telah dimuat di harian Solopos, di kolom Jeda. Judulnya : Eksistensi Wayang Di Pengungsian Merapi. Silakan klik : disini.

Walah, di tengah hujan abu dan banjir lahar dingin, si mBak yang bekerja di Departemen Keuangan ini (“walau cita-cita terdalamnya adalah menjadi guru”), banyak bercerita tentang pelbagai pentas wayang di daerah Magelang-Yogya seusai Merapi mengamuk. Juga bercerita cukup menukik tentang lima peran wayang. Sebagai sarana komunikasi sosial, pentas drama, suara kebudayaan, hiburan dan industri.

Bagi saya, yang lumayan nyenggol diri saya sebagai kaum epistoholik, adalah ketika Nurfita cerita tentang kaitan wayang dengan industri. Saya pernah menulis surat pembaca menyikut hal itu sebagai berikut ini :

Wayang, Membunuh Demokrasi ?
Dimuat : Kompas Jawa Tengah, Kamis, 27 Maret 2008 : D


Dalang sebagai seniman, bila menurut Rendra, seharusnya berumah di angin. Ia seorang resi yang tidak lagi berorientasi ke hal-hal duniawi, senantiasa menyuarakan kebenaran dan hati nurani rakyat. Wahana untuk itu terbuka ketika berlangsungnya adegan goro-goro yang menampilkan para punakawan, Semar dan anak-anaknya. Semar yang konon setengah manusia dan setengah dewa itu merupakan personifikasi “suara rakyat adalah suara Tuhan” pula.

Tetapi di jaman industri dewasa ini banyak resi alias dalang wayang yang juga ingin kaya raya. Maka pesan-pesan dalam pertunjukan wayangnya pun tidak luput dari filosofi “maju tak gentar, membela yang bayar.”

Saya pernah mendengarkan adegan Limbukan yang seluruh isi adegannya memuji-muji kebijakan pimpinan perusahaan besar yang menyewa dalang bersangkutan. Padahal perusahaan itu memproduksi barang-barang yang bila dikonsumsi berpotensi mengancam kesehatan.

Kini pun marak fenomena aneh lainnya, ketika resi di depan kelir atau layar itu ternyata pejabat pemerintahan. Atau tokoh politik. Jadi mudah dibayangkan, wayang terkooptasi menjadi abdi atau pelayan agenda para pejabat bersangkutan. Barangkali bisa disebut sebagai wayang top-down. Wayang yang dibajak pengusaha dan pejabat.

Merujuk fakta itu kita mudah ingat analisis klasik ahli politik George McTurnan Kahin yang berujar bahwa salah satu penghalang demokrasi di Indonesia adalah kultur politik masyarakat yang senantiasa menyandarkan segala sesuatu kepada arahan dari atas.

Jadi pertunjukan wayang yang diperkirakan semakin marak menjelang dan selama kampanye Pilgub Jawa Tengah 2008 nanti, ujung-ujungnya justru menyerimpung dan bahkan membunuh kehidupan demokrasi di Indonesia ?

Bambang Haryanto
Warga Epistoholik Indonesia
Wonogiri 57612

Bagian lain dari isi email Nurfita yang menggelitik adalah saat ia merujuk isi Solopos (Minggu, 5 Desember 2010) yang memprofilkan komunitas Epistoholik Indonesia kita. Tulisan itu, menurutnya, mengesankan bahwa kiprah menulis surat pembaca adalah ranah dominannya kaum-kaum kasepuhan.

Tetapi yang lebih menarik, ia bersemangat ingin melakukan upaya regenerasi, agar menulis surat-surat pembaca itu kini juga menjadi aksi gaul para kaum muda.

Terima kasih, Nurfita. Terima kasih juga saya ucapkan kepada Widiaji/Stube-HEMAT yang tergerak mengajak dan membimbing mahasiswa untuk bergairah dalam aktivitas penulisan surat-surat pembaca. Kalau regenerasi di EI dinilai tidak berjalan secara baik, saya kira benar adanya. Kita memang belum pernah membuat semacam gerakan secara bersama untuk itu. Mungkin karena dengan menulis di koran atau blog sudah kita anggap sebagai contoh dan perbuatan nyata. Beberapa kali liputan media tehadap keberadaan EI, juga di radio, merupakan contoh promosi yang lain. Memang belum ideal.

Apalagi, menulis itu tak bisa diajarkan, tetapi bisa dipelajari. Artinya, yang dituntut untuk aktif adalah sang pelaku itu sendiri. Tetapi saya yakin, masing individu warga EI, dengan karya dan karisma :-) masing-masing sudah memiliki fans setia dan di antara mereka akan hadir penulis-penulis surat pembaca yang baru. Memang tidak pakai gembar-gembor, saya sendiri tak jarang mengirimi SMS untuk para penulis surat pembaca (diluar EI) yang karyanya pantas memperoleh apresiasi.

Kebetulan, wacana terkait hebatnya aktivitas menulis surat, kemarin saya menonton film The Hurricane (1999) yang mengharukan. Surat seorang pelajar SMA kepada petinju kulit hitam yang dijebloskan ke penjara melalui peradilan yang bias, curang dan membunuh keadilan, membuat semangatnya yang luruh untuk bangkit dan berjuang. “Menulis itu magic, keajaiban. Menulis adalah senjata yang dahsyat,” begitu antara lain dialog yang bernas dan menggugah dalam film itu.

Mari kita bercermin. Banyak di antara kita sebagai warga EI, mungkin banyak yang tidak menyadari kekuatan dahsyat yang kita miliki dengan kemampuan menulis itu. Kita tak acuh, menelantarkan, meneledorkan senjata itu, tidak mengasahnya, mungkin karena keangkuhan, menunggu pujian, menuntut imbalan uang, dibelenggu rasa iri, dengki, mindset scarcity mentality, dan kemalasan. Pilihan itu diam-diam akan menjerembabkan kita bahwa ketidakmampuan menulis yang menginspirasi (baik surat, surat pembaca, blog, buku, dll) sebagai hal yang kita anggap biasa-biasa saja.

Bila itu yang terjadi,walau dari luar nampak segar-bugar dan hidup, yakinlah ada lampu yang telah padam di dalam diri kita.

Janganlah tragedi itu terjadi.
Salam episto ergo sum !


Bambang Haryanto
Bukunya Komedikus Erektus : Dagelan Republik Kacau Balau (Etera Imania, 2010) telah beredar awal Desember 2010 ini. Jangan sampai kehabisan !

Monday, October 04, 2010

Sindrom Ogilvy, Upaya Mengenang Guru dan Dosen Kita

Dikirimkan ke Milis Epistoholik Indonesia, Senin, 4 Oktober 2010


Oleh : Bambang Haryanto
Email : epistopress (at) gmail.com



Mabuk masa lalu. Salam episto ergo sum ! Anda mengenal nama David Ogilvy ? Dia bukan penulis surat pembaca top. Tetapi sosok yang dikenal sebagai "nabi" periklanan.

Dalam buku yang disebut sebagai kitab suci insan perklanan sampai kini, Confessions of an Advertising Man (1963), Ogilvy menjawab pertanyaan tentang apa saja kelemahan dirinya yang paling parah. Dalam salah satu jawabannya, nomor 3, ia bilang : "Like everyone my age I talk too much about the past. " Seperti halnya orang-orang seusia saya, saya terlalu banyak membicarakan masa lampau.

Ogilvy berkata demikian saat berumur 75.
Saat ini saya berumur 57 tahun. Tetapi rupanya saya sudah sangat sering dan parah terkena "Sindrom Ogilvy" tersebut. Karena di milis ini saya akan cerita tentang masa lalu pula.

Pemicunya, di akun Facebook saya, seorang teman kuliah (kini Dekan di UIN Jakarta), menuliskan kabar bahwa dosen saya di Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI (kini FIB), Ibu Rusina Syahrial-Pamoentjak, (foto di bawah) meninggal dunia, di usia 85 tahun. Wafat tanggal 28 September 2010 yang lalu.


Sumber besar kepala. Tanggal 3-4 Februari 1982, Jurusan Ilmu Perpustakaan FSUI menyelenggarakan Loka Karya Pemanfaatan Media Teknologi Untuk Promosi Perpustakaan Perguruan Tinggi.

Moderator untuk salah satu presentasi makalah saat itu antara lain adalah Ibu Rusina, dan saya yang masih berstatus mahasiswa saat itu menjadi nara sumbernya.

Sebagian teman konon kemudian berkasak-kusuk bahwa "sejak presentasi itu Bambang punya tingkah laku, gaya berjalan dan memiliki ukuran kepala yang berbeda. Bahkan gaya merokoknya pun berbeda, karena kini ujung yang dihisap adalah ujung rokok yang menyala :-(

Saya segera membongkar-bongkar gudang buku saya, alias kamar saya juga, untuk menemukan buku harian saya tahun 1980. Masa lalu, 30 tahun yang lewat itu, momen-momennya segera berparade di depan mata. Ada nama Nurul Oetomo. Upik Syahrir. Widhiana Laneza. Juga Hotel Blambangan di Semarang. Lagunya duo America, "A horse with no name" dan duo Simon & Garfunkel, "The only living boy in New York."

Barangkali, itulah untungnya bila Anda memiliki buku harian. Anda bisa merasa "muda" lagi, setiap kali. Minimal memudakan, membugarkan otak Anda karena lebih mampu me-recall atau me-rewind secara rinci apa yang Anda alami dalam hidup Anda di masa lalu itu. Filmnya Julia Roberts dan Kevin Sutherland, Flatliners, juga kurang lebih bercerita seputar topik itu pula.

Tetapi kabar duka semacam itu kadang terus meninggalkan buntut. Masih merujit-rujit sisi terdalam hati saya. Juga saat menulis catatan ini. Kenapa aku baru menulis kenangan untuknya, ketika beliau sudah kembali keharibaan Allah ? Kenapa kita tidak menulisnya ketika beliau-beliau, para dosen kita itu, saat masih bisa bertegur sapa dengan kita, walau pun hanya lewat dunia maya ?

Setahun lalu, Rabu, 2 September 2009, saya pernah memposting tulisan bermisi serupa di milis kita ini. Sebelumnya juga saya kirimkan ke Kompas Jawa Tengah, tetapi tidak dimuat. Saya refresh lagi, moga berguna.

Reuni dan Jasa Guru Kita

Hari Raya Idul Fitri sering identik momen kegiatan reuni. Baik sesama mantan pelajar sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Dalam ajang silaturahmi itu sering juga diundang para mantan guru-guru mereka. Sungguh, kegiatan yang mulia dan membekaskan kenangan.

Sayang, reuni itu lebih banyak porsi pesta nostalgianya. Alangkah baiknya bila diberi sentuhan edukatif, misalnya dengan menghimpun kenangan para mantan siswa terhadap teman dan juga guru-guru mereka dalam bentuk buku atau blog. Teknologi kini memungkinkan kita menerbitkan buku secara print on demand atau blog di Internet yang relatif murah dan mudah.


Sekadar ilustrasi, dalam beberapa posting dalam blog, saya telah menulis tentang Pak Mufid Martohadmojo (foto), mantan guru bahasa Inggris saya di SMP Negeri 1 Wonogiri tahun 1969.

Setelah berpisah puluhan tahun, suatu momen yang berkesan saat kami bisa bertemu di Perpustakaan Daerah Wonogiri. Walau sudah lama pensiun, beliau tidak berhenti untuk terus belajar.

Dalam reuni unik itu saya bisa gantian menjadi "guru" beliau. Dengan memanfaatkan akses Internet perpustakaan, saya dapat menunjukkan apa saja yang telah saya tulis tentang beliau. Termasuk mencatat jasa beliau dalam menanamkan kecintaan terhadap bahasa Inggris sebagai sarana untuk mereguki luasnya khasanah ilmu pengetahuan dunia, yang lalu bisa disumbangkan kepada kemaslahatan bersama.

Selamat bereuni. Jangan lupa, dokumentasikan juga kenangan terhadap para guru-guru kita. Suatu umpan balik yang nilainya tidak seberapa bila dibandingkan dengan dedikasi guru-guru kita dalam mendidik kita di masa lalu.

Itulah posting/surat pembaca saya tentang usulan upaya mengenang jasa guru/dosen-dosen kita di masa lalu. Foto kami berdua, saya dan Pak Mufid di atas, dijepret tanggal 27 November 2008, dengan latar belakang rak-rak buku di perpustakaan

Kalau Anda ada waktu, tulisan kenangan tentang dosen saya itu dapat Anda klik di artikel EE 105/Oktober 2010 : JIP 1980 dan Ibu Rusina Dalam Kenangan Saya.

Kabar lain lagi : Epistoholik Indonesia kini memiliki logo baru. Apa bentuknya, akan saya ceritakan di masa mendatang.

Selamat terus menulis.
Juga (mulai) menulis buku harian Anda !


Bambang Haryanto

[Diketik pagi hari diiringi lagu "Kashmir"-nya Led Zeppelin, "Rain" dari The Beatles, "Everybody Hurts"-nya The Corrs dan "Claire de lune"-nya Claude Debussy].


Wonogiri, 4-5 Oktober 2010

Wednesday, April 21, 2010

Wawancara Annida Online Dengan Epistoholik Indonesia





Catatan : Sebuah portal berita Annida Online telah melakukan wawancara melalui email kepada Bambang Haryanto sebagai pendiri komunitas penulis surat pembaca, Epistoholik Indonesia.

Hasil wawancara itu yang rencananya akan dipajang dalam rubrik "Aksara" telah dilangsungkan tanggal 5 April 2010 yang lalu. Tanya-jawab secara lengkap disajikan di bawah ini.

Semoga bermanfaat.


Tanya : Apa yang menjadi latar belakang pendirian Epistoholik Indonesia (EI)?

Jawab : Epistoholik Indonesia (EI) digagas sebagai komunitas dan wahana jaringan antarpenulis surat-surat pembaca se-Indonesia.

Istilah epistoholik saya peroleh dari majalah TIME (6 April1992) yang menjuluki Anthony Parakal (72 tahun), warga Evershine Nagar, Mumbay, India, karena prestasi hebatnya dengan menulis surat pembaca di pelbagai surat kabar India sebanyak 5.000 surat berbahasa Inggris.

Parakal telah menulis surat-surat pembaca sejak tahun 1955. Istilah itu merupakan paduan dari kata “epistle”, yang berarti surat dan imbuhan “oholic” yang berarti kecanduan.

Melalui wahana Epistoholik Indonesia ini antarpenulis surat pembaca dapat saling mengenal, kemudian dalam semangat asah-asih-asuh saling menyemangati sesamanya untuk menghasilkan karya surat-surat pembaca yang kritis dan bermanfaat bagi masyarakat.

Epistoholik Indonesia merupakan jaringan orang-orang bebas untuk bebas berpikir dan bebas bersuara melalui tulisan. Istilah sok keren-nya, sebagai kumpulan intelektual jalanan (street smart intellectuals). Kami bersepakat untuk saling bersaing dalam “mengompori” guna menghasilkan karya-karya surat pembaca yang bermanfaat bagi masyarakat.

Kami selalu mendorong siapa saja, baik sesama warga Epistoholik Indonesia (kami menyebutnya bukan anggota, karena tak ada kartu anggota) atau pun bukan, untuk berani mengutarakan gagasan melalui kolom terhormat ini.

Antara lain berkat terbantu kehadiran media berbasis Internet, yaitu blog, selain untuk mendokumentasikan karya surat-surat pembaca warga Epistoholik Indonesia, juga diharapkan dapat menjadi sumber ilham atau rujukan bagi para penulis surat pembaca generasi berikutnya.

Secara tidak langsung pula, warga Epistoholik Indonesia ikut bersama mendorong dan mempromosikan menulis, aktivitas melahirkan gagasan dalam bentuk tertulis, sebagai salah satu media pembelajaran seumur hidup bagi setiap insan.

Secara spesifik, mengingat kebanyakan para penulis surat pembaca adalah warga senior (pensiunan), maka dengan sarana Internet seperti ini berpeluang dibukakan interaksi lintas generasi. Sehingga perbendaharaan dan pengalaman hidup yang kaya dari para generasi senior itu terbuka untuk didialogkan dengan generasi yang lebih muda, juga dalam suasana dan semangat asah-asih-asuh.

Epistoholik Indonesia terbuka untuk siapa saja yang berkehendak secara tulus memberikan sumbangsih guna semakin memperkaya wawasan, pengetahuan dan keterampilan semua warga Epistoholik Indonesia.

Persoalan-persoalan masyarakat yang berkaitan dengan institusi (pelayanan publik oleh birokrasi dan swasta, konsumen, dll) bagaimana yang bisa dijadikan surat pembaca?

J : Semua masalah, baik terkait dengan layanan publik atau swasta, dapat menjadi subjek penulisan surat pembaca. Utamanya bila terjadi kesenjangan antara janji dengan realitas yang dampaknya merugikan individu dan atau kelompok masyarakat tertentu dalam beragam transaksi yang terjadi.

Apakah surat pembaca itu langkah pertama setelah mendapat keluhan atau ada langkah lain sebelum melayangkan surat pembaca tersebut? Kalau ada, langkah apa yang sebaiknya dilakukan sebelum itu ?

J : Surat pembaca biasanya ditulis sebagai sarana/media/wahana individu dan atau kelompok masyarakat untuk menyampaikan keluhan. Mengenai apa hal itu sebagai langkah pertama atau bukan, tidak menjadi masalah. Bahkan biasanya penulisan surat pembaca dinilai sebagai langkah solusi yang terakhir, ketika keluhan atau negosiasi yang terjadi melalui jalan dialog menemui jalan buntu.

Pengirim surat pembaca sering pada akhirnya mendapat masalah. Dari sisi perlindungan hukum di Indonesia, bagaimana negara menempatkan surat pembaca saat ini?

J : Kasus mengenai penulisan surat pembaca yang kemudian berkembang menjadi masalah hukum, mencuat dengan kasus Khoe Seng Seng akhir-akhir ini. Secara teori, negara wajib melindungi warganya dalam menyatakan pendapat. Tetapi dalam prakteknya hal ideal itu bisa jadi tidak terjadi.

Kami, warga Epistoholik Indonesia (EI), khususnya saya sendiri yang setiap saat menjalin kontak dengan Khoe Seng Seng saat itu, bisa bersyukur. Karena berkat Internet terjadilah mobilisasi pendapat masyarakat yang ikut membela posisi Khoe Seng Seng, termasuk ketika ia memperoleh Anugerah Tasrif Award dari Asosiasi Jurnalis Independen (AJI).

Bagaimana media massa sebagai mediator antara dua pihak yang berkepentingan memberikan perlindungan bagi pengirim surat pembacanya?

J : Salah satu bentuk perlindungan dari fihak media adalah dengan tidak mencantumkan nama dan alamat pengirim surat pembaca untuk kasus-kasus tertentu. Tetapi, hemat saya, hal semacam itu kini jarang terjadi. Sementara itu oleh media untuk fihak yang dikeluhkan, telah disediakan hak jawab berupa kesempatan memberikan tanggapan untuk dimuat pada kolom yang sama.

Apa kekuatan dari seseorang yang menuliskan gagasannya di surat pembaca?

J : Kebenaran. Surat pembaca harus ditulis berdasarkan fakta, dan bukan berupa fitnah atau pemutarbalikan fakta. Selebihnya, surat pembaca harus ditulis dengan mematuhi norma sopan-santun dan etika, mampu menguraikan masalah secara jernih, tanpa dibumbui dengan vonis atau hujatan yang tidak konstruktif guna memperoleh pemecahan masalah secara adil.

Beberapa kasus (misal si Aseng) yang menuliskan masalah yang dihadapinya melalui surat pembaca di sebuah harian, ditanggapi negatif oleh pihak2 tertentu? Mengapa ini bisa terjadi?

J : Khoe Seng Seng ketika mengurai kasus yang membelitnya, ia secara ksatria telah memberikan tips bagi para penulis surat pembaca agar tidak terbelit kasus seperti dirinya. Antara lain, ketika menulis surat pembaca berupa keluhan atas produk/layanan jasa dari pelaku usaha, gunakan kata-kata yang tidak berkonotasi negatif, dan hindari rangkaian kalimat yang berarti menuduh pelaku usaha berbuat sesuatu.

Hindari penggunaan kata "ditipu", "tertipu", "menipu", "bohong", "berbohong", "dibohongi", "mencuri", "dicuri", dan sebagainya, karena kata-kata ini bisa membawa akibat penulis dipidanakan dan digugat.

Pelaku usaha yang memang berniat berbuat curang akan menyatakan belum ada putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap yang menyatakan pelaku usaha ini menipu, berbohong, ataupun mencuri. Jadi tidak bolehlah penulis menghujat dengan menuduh bahwa pelaku usaha ini menipu, berbohong, ataupun mencuri. Jika penulis tetap ingin menggunakan kata-kata ini, tambahkanlah kata "diduga" di depan kata-kata di atas. Jadi susunan katanya menjadi "diduga menipu", "diduga berbohong", ataupun "diduga mencuri".

Apakah surat pembaca berikut komunitasnya seperti EI telah dianggap sebuah kekuatan yang menentukan kebijakan/kepentingan publik dalam hal-hal tertentu?

J : Saya kira, kurang-lebihnya, memang demikian. Emanuel Rosen dalam The Anatomy of Buzz : How To Create Word-of-Mouth Marketing (2000) menyebutkan bahwa di Amerika Serikat para penulis surat pembaca termasuk golongan orang Amerika yang berpengaruh.

Mereka merupakan warga negara pilihan karena keterlibatannya dalam kegiatan publik, politik atau pun sosial. Jadi senyatanya suatu kehormatan dan kebanggaan sebagai seorang epistoholik di negara yang memerlukan warganya harus terus cerewet untuk mengontrol tegaknya demokrasi dan jalannya roda pemerintahan.

Apakah ada kaitan kritisme seseorang yang disampaikan ke publik lewat media massa ( surat pembaca) dengan perkembangan kesadaran literasi yang harus dimiliki masyarakat?

J : Kaitannya erat sekali. Masyarakat yang semakin kuat bangunan budaya literasinya, atau budaya baca-tulisnya, akan memandang isi surat-surat pembaca tersebut sebagai bagian dari eksistensi mereka sebagai warga sebuah masyarakat yang demokratis. Bahkan, sesuai tesis dari Rebecca McKinnon, surat pembaca dapat dijadikan sebagai media pembelajaran masyarakat terhadap beragam isu yang terjadi.

Rebbeca MacKinnon, seorang blogger dan peneliti di Universitas Harvard yang mantan wartawan CNN di Beijing dan Tokyo itu pernah berujar bahwa seseorang lebih mampu menyerap dan mengelaborasi kembali informasi secara lebih mendalam bila yang bersangkutan dilibatkan dalam diskusi mengenai materi tersebut. Bahkan mereka memiliki pemahaman lebih mendalam lagi bila dirinya mampu menuliskan opini tentang hal bersangkutan di ruangan publik.

Misalnya untuk mensosialisasikan pemilu dan individu caleg bersangkutan, sebaiknya para birokrat partai dan para caleg itu mengajari rakyat untuk menulis di beragam media. Baik artikel atau surat-surat pembaca di media massa, atau pun di blog-blog di Internet. Termasuk membebaskan mereka untuk menuliskan kritik untuk para caleg bersangkutan.

Dengan demikian maka papan peraga kampanye para caleg di jalanan itu bukan sebagai media indoktrinasi, yang searah, yang membodohi rakyat. Melainkan lebih merupakan undangan awal bahwa caleg bersangkutan bersedia membuka telinga untuk mendengar aspirasi rakyat atau konstituen mereka.

Bagaimana perkembangan surat pembaca saat ini di media massa, terutama dikaitkan dengan perkembangan media komunikasi dan informasi lewat internet yang sangat pesat?

J : Ketika media cetak mengalami benturan dan goncangan akibat kehadiran Internet, tentu saja berpengaruh terhadap kolom surat pembaca dan para penulis surat pembaca. Saya sendiri, sekarang lebih banyak menyalurkan opini dan atau ekspresi melalui media blog di Internet dibanding menulis surat-surat pembaca di media cetak. Karena lebih cepat, lebih bebas dari kontrol redaksi media cetak, dan relatif lebih mudah untuk memperoleh tanggapan.

Hemat saya, kebanyakan media massa cetak itu terlalu konservatif dan terlalu defensif, sehingga pelbagai kelebihan Internet itu tidak mampu mereka kelola secara cerdas untuk menjadikan kolom-kolom surat pembaca itu sebagai media percakapan yang hidup antara media, pembaca dan fihak yang menjadi sasaran dalam isi surat-surat pembaca tersebut.

Sekadar dugaan, karena kebanyakan pengelola kolom surat-surat pembaca adalah para wartawan yang mendekati pensiun, dan kadang-kadang gaptek pula, sehingga mereka tidak tersentuh oleh realitas kemajuan jaman yang serba cepat dewasa ini.


Boleh ditambahkan hal-hal yang ingin ditambahkan.

mandom resolution award 2004,bambang haryanto,sarlito wirawan sarwono

J : Sejak tahun 2004, saya telah mengajak warga Epistoholik Indonesia untuk mengelola blog masing-masing di Internet. Obsesi saya ini kemudian saya ikutkan dalam lomba Mandom Resolution Award 2004 di Jakarta, dan menang. Dalam foto saya berdiri nomor empat dari kanan. Paling kanan adalah Prof. Dr. Sarlito Wirawan Sarwono, ketua juri.

Tetapi tidak mudah mengenalkan media baru ini kepada teman-teman EI saya tersebut. Padahal saya punya cita-cita bahwa menulis surat pembaca di media massa cetak itu merupakan appetizer, umpan tekak, bagi pembaca. Sedang main course, hidangan utamanya, adalah di blog-blog tersebut.

Di blog kita bisa menulis lebih leluasa, dan juga dapat dilangsungkan diskusi/percakapan dengan para pembaca. Cita-cita ini tidak mudah terlaksana, karena sebagian besar media cetak akan menghilangkan data alamat situs (url) blog yang tertera menyertai surat-surat pembaca kita.


Profil Bambang Haryanto terkait dengan komunitas Epistoholik Indonesia telah dimuat di Majalah Intisari (“Masuk Buku Rekor Karena Surat Pembaca,” Juli 2004), Harian Solopos (“Mengenal Komunitas Penulis Surat Pembaca,” 10/11/2004) dan tayangan Bussseeet ! di TV7 (20/3/2005 dan 18/5/2005).

Majalah MataBaca (“Episto Ergo Sum : Saya Menulis Surat Pembaca Karena Saya Ada !,” Oktober 2005), Mingguan Seputar Semarang (“Epistoholik Indonesia, Komunitas Penulis Surat Pembaca : Obat Ampuh Menghilangkan Stres,” 27 Juni 2006), Harian Media Indonesia (“Manusia, Radio, Dan Satu Gelombang,” 10 September 2006), Harian Republika (“Saya Ada Karena Surat Pembaca,” 21 April 2007), Harian Kontan (“Jurnalisme Warga Epistoholik,” 29 Mei 2007) dan Koran Tempo edisi Jateng/DIY (“Candu Itu Surat Pembaca,” 29 januari 2010).

Juga menjadi isi mata acara Saga yang disiarkan secara nasional oleh Jaringan Kantor Berita Radio 68H Jakarta (6/11/2006) dan Saga Interaktif di Radio Utan Kayu, Jakarta (11/12/2006).

Blog Epistoholik Indonesia di : http://episto.blogspot.com. Sementara blog yang memajang tulisan Bambang Haryanto sebagai pencetus EI adalah Esai Epistoholica, di : http://esaiei.blogspot.com. Pada tanggal 27 Januari 2005, bertepatan dengan pengesahan Rekor MURI kepada saya sebagai pendiri komunitas EI, pada hari itu pula dicanangkan sebagai Hari Epistoholik Nasional.



Wonogiri, 5 April 2010

Friday, April 09, 2010

Indonesia, Homo Homini Lupus, Perjuangan Kita


Pesan melalui Facebook kepada Jerry Gogapasha, ventrilokuis Surabaya, 9/4/2010


Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Thanks, Jerry untuk obrolannya tadi sore. Memang benar, untuk sukses itu kita tak bisa sendirian. Kita harus lebih dulu mendidik orang lain, agar mereka juga pandai, dan baru sesudah itu kita bisa ramai-ramai mampu meraih sukses secara bersama.

Sayangnya, televisi di Indonesia belum ada greget untuk melatih para penulis komedi. Aku baru bisa melakukan apa yang bisa aku lakukan.

Mungkin karena hal itu membuat ajaran luhur Stephen R. Covey, bahwa dunia ini melimpah ruah dengan berkah, belum mengakar dalam dunia komedi kita. Dunia komedi kita berprinsip sebaliknya, dunia ini serba langka, maka prinsip yang subur adalah kita harus saling membandingkan dan saling memperebutkan. Sukses bagi si A, merupakan neraka bagi saya.

Akibatnya, di dunia komedi kita itu kadang masih kuat sikap mental homo homini lupus. Untuk survive kita harus saling mencakar. Saling “membunuh.”

Mengapa ?

Karena teknik mengkreasi lawakan belum dikuasai triknya, sehingga membuat materi lawakan menjadi langka. Akibatnya, mereka lalu cenderung hanya bisa saling mengintip kreasi lawakan satu sama lainnya untuk ditiru, atau dimodifikasi.

Perjuangan kita masih panjang.
Sukses selalu untuk Jerry.


Bambang Haryanto


Wonogiri, 9/4/2010

Tuesday, December 29, 2009

Mengapa Waktu Cepat Berlalu


Diposting di My Note Facebook, Rabu, 30 Desember 2009


Oleh : Bambang Haryanto
Email : humorliner (at) yahoo.com


Tiba-tiba kita sudah diujung tahun 2009.

Penyair Inggris, Ralph Hodgson (1871–1962) menyebut waktu sebagai old gipsy man, jipsi tua yang mengembara, dan tidak mau berhenti barang sehari pun. Waktu kita untuk tahun 2009 menjelang habis, dan ia tak akan kembali.

Setiap menjelang pergantian tahun, saya mudah ingat artikel yang saya temukan di Perpustakaan LIA Jakarta, 14 Mei 1992.

Judulnya, “Why time flies and how to slow down”, ditulis Bruce Schechter, penulis sains bergelar Ph.D Fisika yang tinggal di New York. Dimuat di majalah McCall’s (10/1991).

Bruce Schechter menulis, “waktu [psikologis itu] dapat melesat terbang atau merangkak lamban, tergantung bagaimana kita mengisinya. Semenit menunggu lift terasa lebih lama dari sepuluh menit saat coffee break. Tetapi kalangan psikolog mencacat bahwa satuan waktu yang lebih besar, bulan atau tahun, terasa melesat lebih cepat ketika umur seseorang bertambah.”

Ilmuwan menyebut hal terakhir ini sebagai fenomena “akselerasi waktu subyektif yang terkait dengan penuaan.” Salah satu teori pendukungnya berupa matematika sederhana. Satu tahun bagi anak berumur 5 tahun adalah 20 persen dari hidupnya, dan bagi mereka berussia 50 tahun hanya 2 persen saja. Jadi, setahun itu lebih lama bagi anak-anak dibanding bagi orang dewasa.

Lalu ada faktor lain yang merubah persepsi kita tentang waktu. Charles E. Joubert, psikolog Universitas North Alabama, yang juga mengkaji akselerasi waktu mencatat bahwa semakin waktu itu terstruktur, berisi skedul dan janji, semakin cepat pula waktu itu melintas.

Sebagai contoh : seharian di kantor itu tak ada apa-apanya dibanding seharian bersantai di pantai wisata. Oleh karena sebagian besar kita lebih sedikit menghabiskan waktu di pantai, tetapi lebih banyak di kantor seiring meningkatnya umur, maka peningkatan waktu yang terstruktur itu pantas dituding sebagai biang kerok mengapa waktu terasa semakin cepat terbang seiring bertambahnya umur kita.

Akselerasi atau bergegasnya waktu, mungkin juga diakibatkan oleh fenomena fisiologis. Di tahun 1932, istri Hudson Hoagland, seorang ahli ilmu faal, terserang flu. Ketika suhu tubuhnya mencapai 104 derajat Fahrenheit, Hoagland segera bergegas menuju apotik untuk membeli obat.

Perjalanannya hanya selama 20 menit, tetapi istrinya justru marah-marah, mengatakan lebih lama. Kalau suami lain pasti masalah ini mampu memicu saling tarik urat, Hoagland justru menaruh perhatian secara serius terhadap keluhan istrinya.

Hoagland pernah membaca bukunya psikolog Perancis, Henri Pieron, bahwa kecepatan proses psikologis seseorang itu dipengaruhi oleh suhu, demikian pula persepsinya tentang waktu. Karena semakin meningginya suhu akan pula meningkatkan reaksi kimia lebih cepat, hingga Pieron menyimpulkan bahwa waktu pun akan terasa lewat lebih cepat dibanding yang senyatanya.

Hoagland lalu melakukan tes untuk teori di atas, dengan meminta istrinya menghitung angka sampai 60 dengan keras-keras. Ia memperkirakan satu hitungan memakan waktu satu detik. Ia mengukurnya dengan stopwatch. Yang terjadi, istrinya menghitung paling cepat ketika demamnya meninggi, yang menjelaskan mengapa istrinya tersebut merasakan waktu senyatanya berjalan begitu lamban.

Kita sebagai babi hutan. Ekspektasi dan keakraban juga membuat waktu terasa lebih cepat melesat. Hampir semua orang merasakan pengalaman ketika berkendara menuju tempat yang terasa asing. Dikepung pemandangan yang belum dikenal, dengan tanpa bayangan kapan akan sampai di tujuan, perjalanan terasa begitu lama.

Tetapi ketika kembali, walau jarak kilometernya tetaplah sama, nampak waktu tempuh terasa lebih pendek rasanya. Hal-hal baru dalam perjalanan kemudian seakan-akan menjadi rutin.

Apalagi kemudian rata-rata orang cenderung menjadi nyaman dengan rutinitas, ibarat bertabiat model babi hutan atau celeng. Binatang ini konon ketika pergi atau pulang selalu melewati rute yang sama, bertahun-tahun, waktu pun akhirnya terasa seperti cepat berlalu. Sehingga apabila kita setiap kali berinisiatif mengambil rute perjalanan yang berbeda, hal tersebut membuat kita seperti mampu memperlambat waktu.

Tatkala hari-hari yang kita lalui saling identik satu sama lain, ibarat bulir-bulir tasbih yang bergerombol dalam satu rangkaian, berkelompok bersama, maka waktu sebulan pun hanya nampak seperti satu hari belaka. Tidak aneh bila waktu kemudian nampak seperti cepat sekali melejit pergi.

Untuk menangkis penggerombolan hari, maka buatlah setiap hari hidup kita seunik sidik jari. Sebagaimana dikatakan oleh Joubert bahwa struktur cenderung membuat waktu cepat berlalu. Oleh karena itu, carilah cara cerdik untuk menginterupsi struktur hari-hari Anda, untuk menghentikan laju terbangnya, ibarat kita melakukan rehat kopi di tengah jam-jam kerja kita.

Bruce Schechter memberi contoh seseorang wanita yang punya pekerjaan sibuk, tetapi saat makan siang ia memutuskan untuk menjelajah kota tempat ia berkarier itu.

Ia mengunjungi kebun binatang, yang merupakan kunjungannya yang pertama. Piknik kecil-kecilan tersebut, sekadar lepas dari tuntutan kerja kantornya, telah memberikan waktu rehat yang pantas untuk dikenang, yang bila tidak maka hari-hari-hari kerjanya hanya merupakan segumpal blok yang identik satu sama lainnya.


Jangan Takut Jadi Pemula. Mempelajari sesuatu hal yang baru merupakan cara ampuh lain untuk memperlambat gerak terbangnya waktu. Salah satu alasan mengapa hari-hari ketika kita masih muda terasa penuh dan panjang, karena hari-hari tersebut dipenuhi dengan masa kegairahan untuk belajar dan menemukan.

Learning and discovery.

Bagi kebanyakan kita, masa-masa belajar itu memang terkadang selesai begitu kita meninggalkan bangku sekolah atau kuliah. Tetapi bagi seorang Ronald Graham, matematikawan terkenal dari AT&T Bell Laboratories, punya kiat jitu untuk mengerem waktu : “Jangan takut menjadi pemula”.

Graham pun selalu gigih berburu keterampilan baru untuk ia kuasai. Dalam masa waktu 40 tahun terakhir Ronald Graham mampu menguasai bahasa Cina, main piano, juggling, akrobat, menulis lusinan makalah ilmiah, dan berwisata sampai ke pojok-pojok dunia.


Mengurai masa lalu. Bruce Schechter memperluas cakarawala kita ketika ia mengatakan bahwa mengerem laju jarum jam tidak hanya berlaku untuk masa kini, tetapi juga ketika meninjau masa lalu.

Menulis buku harian (saya lakukan setiap hari), menulis otobiografi dan menulis blog, merupakan cara bagus untuk menyortir kekaburan masa-masa lalu. Sehingga masa lalu tidak lagi hanya berupa satu gumpal campur aduk segala hal tanpa makna.

Masa-masa lalu tersebut dapat diurai untuk membentuk pola tertentu yang membahagiakan, membanggakan, baik susunan yang terdiri dari kejadian atau pun prestasi-prestasi tertentu.

“Mendekati usia 65 tahun”, begitu tutur Bruce Schechter, “ayah saya memulai menulis kenangan hidupnya”. Ia semula beranggapan tulisan itu hanya pendek saja, tetapi ternyata tiap kenangan itu beranak pinak dengan kenangan lainnya. Karya tulisnya kemudian membengkak memenuhi sebuah buku.

Anak-anaknya kemudian membelikannya sebuah komputer, kini tulisan kenangan tersebut mencapai 400 halaman yang menghadirkan pola kehidupan yang telah ia lalui, betapa indah dan ajaib kehidupan yang telah ia jalani.”

Candu dan boros waktu? Kehidupan yang indah dan ajaib itu, saya tidak tahu apakah dapat saya (kita) bekukan dan abadikan dalam tulisan-tulisan status dan komentar-komentar yang saya tulis di Facebook ini.

Saya juga tidak tahu, apakah tulisan semacam di Facebook tersebut akan bermanfaat di masa depan. Penulis Julie Weishaar menyebut Facebook sebagai ” too easy to become addicted and wastes time”. Memicu kita untuk mudah kecanduan dan buang-buang waktu.

Tulisan-tulisan di Facebook yang sepertinya sering ditulis tanpa pikir panjang, tanpa renungan, semudah meludah itu, bila kelak saya himpun dan suatu saat dibaca-baca kembali, mampukah mengurai jumble, gumpal-gumpal campur aduk waktu, yang telah saya lewati ? Saya tidak tahu.


Selamat Tahun Baru 2010.
Semoga sukses dan sejahtera senantiasa memayungi Anda semua.

Wonogiri, 30 Desember 2009

PS : Versi lebih panjang dari tulisan ini dapat Anda klik di : http://esaiei.blogspot.com/2006/01/mengapa-waktu-cepat-sekali-berlalu.html

Friday, December 11, 2009

Batik, The Google Economy dan Inovasi


Posting untuk My Note di Facebook, Sabtu, 12 Desember 2009


“Jangan menjadi pionir yang miskin.”

Itulah tutur teman FB saya asal Inggris yang pakar ekonomi kreatif kelas dunia, David Parrish. Untuk melindungi karya-karya kepioniran Anda dari incaran para predator, maka daftarkanlah karya inovasi Anda itu. Baik sebagai paten, hak cipta atau pun pendaftaran merek.

Ujaran David Parrish itu berkelebat di kepala ketika menjadi saksi saat lima pengusaha batik UMKM Yogyakarta mendaftarkan merek mereka yang difasilitasi Deperindagkoptan Kota Yogyakarta dan Klinik HKI DIY Yogyakarta. Lokasi di Gedung UMKM, Jl. Taman Siswa, di tengah berlangsungnya gelar karya batik “Batik Jogja Untuk Indonesia,” 4-6 Desember 2009 yang lalu.

Saya bisa hadir antara lain karena berjabatan sebagai speech writer pocokan berkat orderan Persada Promosindo, penyelenggara acara itu. Wah, rada lucu juga, teks berisi visi saya seputar dunia batik Indonesia masa kini yang saya ketik di Wonogiri, bisa dipidatokan dan sekaligus menjadi materi buku pengantar acara itu.

“Dunia kini kan dunia datar,” kata kolumnis Thomas Friedman. Akibatnya, berkat Internet inovasi kini bisa muncul di mana saja. Gerakan perlawanan Cicak vs Buaya di Facebook yang sukses merekrut pendukung melewati angka sejuta itu toh tidak muncul di Jakarta. Bukan pula tercetus dari insan kampus-kampus universitas mapan.

Salah seorang blogger favorit saya, Jeff Jarvis, pengarang buku What Would Google Do?, menyebutkan bahwa di era web 2.0. ini Anda dan kita semua berpeluang mampu membangun aplikasi, produk atau pun perusahaan seperti Google, Amazon, eBay atau Etsy atau piranti open source sebagai platform tanpa butuh uang, tak perlu kredit, juga tak butuh kontrol terhadapnya.

Tegasnya : “Apa yang Anda butuhkan adalah apa yang lajim Anda butuhkan untuk meraih sukses di dunia rasional yang kita kenal : kecerdasan, wawasan, inovasi dan keberanian. Semua formula itu tidaklah berubah.”

Terima kasih, Pak Jarvis.

Apakah inovasi di dunia batik pun kini juga akan mengalami fenomena yang sama ? Yang saya tahu, batik kini juga dapat dibuat di mana saja. Itulah pula yang membuat saya kejeblos di tengah acara itu. Sikap sok tahu yang membawa bencana.

Saat saya mencoba membatik kain sebesar sapu tangan warna biru (foto di atas), dengan tulisan “ Trah Martowirono,” hadir seorang bule perempuan. Lalu saya ajak dia untuk mencoba menjajal canting dan membatik. Oh, ternyata ia seorang pakar batik.

brigitte willach

Pembatik dari Jerman. “Saya sudah membatik sejak 40 tahun yang lalu,” kata si bule yang bernama Brigitte Willach itu. Pada kartu namanya terdapat label : Batik-Atelier. Nampak dalam foto ia didampingi Shinta Pertiwi, ST (kiri) dan Antik Anggreni dari stan Gama Blue Indigo ND.

Kota asalnya adalah Hannover, Jerman. “Duh, ini kota asal Robert Enke, kiper timnas Jerman yang kronis dirundung depresi dan bunuh diri menabrakan diri ke kereta api, 10 November yang lalu”.

Lalu kami bisa mengobrol. Tentang batik. Bukan tentang Robert Enke yang tanggal lahirnya sama dengan tanggal lahir saya. Bila ada waktu ceritanya dapat Anda klik di sini.

Pulang dari Yogya saya dihantui niat : apa godaan berat ingin membuat blog (lagi) seputar ekonomi kreatif yang terkait dengan hak cipta, apa bisa saya bendung gelegaknya di hari-hari mendatang ini ?


Wonogiri, 12/12/2009

Friday, October 23, 2009

Placeblogger,Blogger Bekasi dan Demokratisasi


Dorongan untuk peresmian Komunitas Blogger Bekasi,17 Oktober 2009


Oleh : Bambang Haryanto
Komunitas BloWn/Blogger Wonogiri


Suara blogger terdengar. Tirai kain yang menutup kedai-kedai makanan itu sungguh mengusik saya. Kedai-kedai itu berada persis di depan gedung SMP Negeri 1 Wonogiri. Ini sekolah alma mater saya. Saya mencatat lima dari tujuh kedai makanan tempat pelajar jajan saat rehat itu berupa kain-kain besar yang mempromosikan rokok.

Pemandangan itu saya potret, juga saya tulis uneg-uneg saya tentang hal ganjil itu di blog The Morning Walker, blog yang mengupas tentang kota Wonogiri, kota tempat saya tinggal. Misi keci saya itu rupanya berhasil. Kedai-kedai makanan yang semula berada di luar komplek sekolah, ditarik masuk. Tirai-tirai kain yang memromosikan rokok juga ikut lenyap dari pemandangan. Saya sebagai seorang placeblogger merasa memiliki arti dengan keberhasilan kecil semacam ini.

Ada tahu makna dari istilah placeblogger tersebut ?

Istilah ini pertama kali saya temui ketika majalah TIME edisi 25 Desember 2006 telah mendaulat pembacanya, “You,” Anda, sebagai tokoh pilihan mereka tahun itu. Walau selama ini, utamanya ketika berkuliah dan tinggal di Jakarta, saya hanya mampu membeli majalah itu dari penjual majalah bekas.

Sejak tahun 90-an, utamanya kalau main ke depan Gedung PMI di Jalan Kramat Raya, Jakarta (“moga Pak Yono asal Sragen masih sehat-sehat dan masih jualan majalah bekas di sana”), saya ikut bersorak dalam hati atas pemilihan majalah TIME itu. Kiranya ngeblog saya sejak tahun 2003, rasanya seperti ikut pula kecipratan apresiasi dari majalah terkenal tersebut.

Placeblogger adalah blogger yang tulisannya mengupas topik daerah tempat sang blogger itu tinggal. Posisi kedepannya, menurut saya cukup penting. Anda mungkin mengamati, bahwa interaksi antar warga di daerah Anda itu selama ini kiranya lebih banyak mengandalkan pada media-media arus utama. Utamanya surat kabar. Itu pun seringkali surat kabar terbitan propinsi atau bahkan nasional.

Akibatnya, porsi pemberitaan terkait daerah bersangkutan teramat kecil. Terlebih lagi, karena kaidah nama membuat berita, maka yang sering muncul adalah kutipan-kutipan pernyataan para pejabat semata. Komunikasi model atas bawah.

Belum lagi bila wartawan di daerah itu sangat jarang mengalami rotasi. Mereka yang statis mangkal di daerah yang sama selama belasan atau puluhan tahun itu dapat diduga terancam mengalami “keausan” perspektif dalam melihat persoalan lokal.

Bahkan tidak mungkin, mereka justru menjadi bagian dari masalah karena setengah berkolusi, sehingga nasibnya terjerembab semata hanya menjadi pejabat kehumasan tak resmi dari para elit di daerah.

Membuka perspektif lain. Placeblogger adalah antidot untuk mengimbangi pola komunikasi atas-bawah yang menjadi “nyawa” utama media-media arus utama selama ini. Blog-blog yang ditulis oleh aktivis atau blogger daerah, setidaknya diharapkan mampu memunculkan perspektif lain, dari kacamata arus bawah, dalam memandang persoalan lokal yang sama.

Oleh karena itu keberadaan placeblogger, dan bahkan komunitas yang menghimpun serta memberi wadah bagi mereka untuk saling berinteraksi, seperti Komunitas Blogger Bekasi ini, merupakan langkah maju yang pantas memperoleh apresiasi.

Apalagi tren positif yang sama nampak semakin marak. Bagi saya, sungguh menggembirakan melihat betapa makin riuhnya kecenderungan para rekan-rekan blogger untuk mendirikan komunitas blogger dengan ikatan kedaerahan. Ijinkanlah, saya dari Wonogiri ini, ingin ikut serta mengompori keberadaan komunitas yang sama, di mana pun Anda berada.

Ayo para placeblogger, kini saatnya Anda semakin nyaring bersuara. Untuk ikut serta dalam membangun daerah Anda. Suara-suara kritis Anda, blog-blog Anda, sungguh merupakan pilar demi tegaknya kehidupan yang demokratis. Bukankah kita menyetujui makna ungkapan dari James Buchanan (1791-1868), presiden AS ke-15, yang menyatakan : “Saya suka gaduhnya demokrasi ?”

Blog adalah media sosial yang egaliter, dimana semua orang mampu menjadi produsen informasi. Rebbeca MacKinnon, seorang blogger dan peneliti di Universitas Harvard yang mantan wartawan CNN di Beijing dan Tokyo, memiliki pendapat menarik tentang dampak positif fenomena ini.

Menurutnya, “seseorang lebih mampu menyerap dan mengelaborasi kembali informasi secara lebih mendalam bila yang bersangkutan dilibatkan dalam diskusi mengenai materi tersebut. Bahkan mereka memiliki pemahaman lebih mendalam lagi bila dirinya mampu menuliskan opininya tentang hal bersangkutan di ruangan publik.”

Dengan demikian, semakin banyak blogger akan semakin banyak pula warga yang mampu memahami secara cerdas terkait wacana yang sedang terjadi. Hemat saya, untuk hal mulia itu maka Komunitas Blogger Bekasi harus pula memiliki agenda untuk memacu pengembangbiakan blogger-blogger baru di Bekasi.

Akhirnya, saya berbangga bisa berkenalan dan serasa mampu bahu-membahu dengan sejawat dari Komunitas Blogger Bekasi ini. Untuk berinteraksi dengan semangat saling asah-asih dan asuh guna memberi warna dan kebisingan bagi kehidupan berdemokrasi di negeri tercinta kita ini.


Bambang Haryanto
Blog Esai Epistoholica (http://esaiei.blogspot.com)

Saturday, September 26, 2009

Bila Penulis Surat Pembaca Dikejar Macan !


Surat pembaca dikirimkan ke Harian Suara Merdeka, 27 September 2009


Meminta penghargaan. Isu mengenai “tuntutan” adanya penghargaan bagi penulis surat pembaca, muncul lagi. Terakhir hal itu diungkap oleh Muh. Mahfudin asal Kebumen di kolom “Surat Pembaca” harian Suara Merdeka, 25/9/2009 yang lalu.

Ia mengaku sebagai seorang penulis surat pembaca pemula, yang juga berkata bahwa tanggapan pembaca melalui email untuknya ikut pula mendorong motivasi dirinya untuk terus menulis.

Isu di atas mengingatkan saya akan ujaran Putu Wijaya, sastrawan terkemuka Indonesia. Ketika di tahun 80-an, saat saya masih belajar di Universitas Indonesia di Rawamangun, saya mengikuti ceramah sastra di arena pekan buku Indonesia di Balai Sidang Jakarta. Sastrawan dan dramawan asal Tabanan Bali itu berkata bahwa ada dua jenis penulis di dunia ini.

Pertama, mereka yang dikejar macan dari dalam, dan yang kedua, penulis yang diuber macan dari luar. Macan dari dalam adalah keinginan utama untuk berekspresi, menyuarakan hati nurani, memperkaya khasanah ilmu pengetahuan kepada dunia. Sementara macan dari luar adalah tuntutan untuk memperoleh imbalan, berupa materi. Kedua jenis penulis itu juga termasuk penulis surat pembaca.

Sebagai penulis surat pembaca sejak 1973, saya berusaha menapaki jejak sebagai penulis jenis yang pertama. Karena saya berkeyakinan, menulis itu pahala terbesarnya tercurah pada diri saya ketika saya sedang menulis itu pula. Reward is in the doing.

Ada pengembaraan yang mengasyikan ketika mampu meloncat dari ide satu ke ide lain, menabrakkannya, atau mensintesakannya, sehingga menjadi sebuah tulisan. Ada ekstasi, rasa mabuk yang nikmat seperti memperoleh anugerah dari Sang Maha Kuasa ketika tulisan itu selesai.

Sedang bila kelak dapat dimuat, itu hanya bonus. Bila tak dimuat di koran, kini saya dapat memajangnya di blog. Bila tulisan itu dibaca atau ditanggapi oleh orang lain, itu juga hanya bonus semata.

Alat pemerasan. Kalau saya menulis surat pembaca dengan tujuan untuk memperoleh penghargaan, baik itu materi, uang sampai tanggapan, pastilah saya sudah berhenti menulis sejak puluhan tahun yang lalu. Walau akhir-akhir ini saya menengarai adanya surat-surat pembaca yang patut diduga sebagai alat untuk melakukan pemerasan terhadap sesuatu perusahaan yang kiprah bisnisnya di daerah abu-abu.

Terakhir, ketika menjadi finalis Lomba Karya Tulis Teknologi dan Telekomunikasi Indonesia(LKT3I) III/1999 di Jakarta yang diselenggarakan oleh PT Indosat, saya memperoleh asupan hikmah dari mantan Hakim Agung, Bismar Siregar.

Beliau bilang, bahwa “setetes tinta dari seorang penulis itu lebih mulia dibanding darah yang tertumpah dari seorang syuhada." Ucapan itu berasal dari seorang ulama klasik, Ibnul Qayim Aljauziyah.

Hemat saya, moga-moga ucapan ini dapat didengar para pengikut Noordin M Top yang berjihad dengan bom dan aksi kekerasan, juga oleh rekan-rekan penulis surat pembaca yang menulis dengan motivasi ingin memperoleh penghargaan.


Bambang Haryanto
Pendiri Komunitas Epistoholik Indonesia
Wonogiri 57612


beha

Wednesday, September 16, 2009

Surat Pembaca, Buku dan Kiprah Intelektual Warga Epistoholik Indonesia


Diposting untuk milis Epistoholik Indonesia, 16 September 2009


Lebaran kunang-kunang. Semoga Anda sehat-sehat adanya. Bagaimana suasana kota Anda, mendekati hari Lebaran ? Di jalanan kota saya, Wonogiri, rasanya semakin sesak oleh orang. Pasar penuh orang. Antrean ATM penuh orang. Toko penuh orang.

Sementara Perpustakaan Wonogiri, yang mudah ditemui, tetap saja wajah-wajah yang sama. Familiar strangers.

Wajah-wajah yang lalu lalang di luar perpustakaan, adalah wajah-wajah asing. Perfect strangers. Juga kendaraan mereka yang bernomor bukan aseli Wonogiri. “Selamat pulang kampung sobat, saudara-saudara saya yang di hari-hari normal berkiprah, berkarya dan berkrida di luar Wonogiri.”

Adakah acara khusus bagi Anda, apabila Anda ikut merayakan Hari Kemenangan, di hari Fitri nanti ? Tahun ini saya akan merayakannya bersama kunang-kunang.

Ceritanya, ada seorang nenek yang mendongeng kepada cucu-cucunya. Tentang serpih-serpih tulang rawan hasil guntingan kuku-kuku jari dan kaki. Ia katakan, sebaiknya serpihan itu dipendam di pojok rumah. Bila malam, serpihan itu akan berubah menjadi kunang-kunang.

Cucu-cucu itu, walau takjub atas dongengan itu, tetap saja memendam rasa tidak percaya. Tetapi mereka tetap saja mengingatnya, bahkan setelah berpuluh tahun kemudian. Ada orang bilang, ucapan guru atau orang tua itu melesat dalam kecepatan cahaya untuk sampai ke telinga anak didik atau seseorang anak.

Tetapi makna dari ucapan itu sampai ke hati atau pemahaman, akan berjalan dengan kecepatan suara. Jauh lebih lambat dibanding kecepatan cahaya. Tetapi pesan itu tetap akan sampai. Entah beberapa bulan, beberapa puluh tahun kemudian, atau bahkan ketika sang anak, si penerima pesan itu, sudah berada di tepi kematian.

Dongeng tentang kunang-kunang itu, yang secara ilmu biologi atau fisika sebagai tak mungkin, mungkin dirancang sebagai sebuah metafora. Kiasan. Saya memaknainya kini, betapa bagian sekecil apa pun dari diri kita bila ditanam akan menumbuhkan cahaya, kebaikan, keindahan. Apalagi dalam kegelapan.

Kebetulan ketika saya mengetikkan kata firefly, kunang-kunang, dalam peranti lunak The Oxford Dictionary of Quotations (2002), muncul lema/entri menarik :

Kepala suku Indian Kaki Hitam, Crowfoot (c. 1830–1890), sebelum meninggal dunia pada tanggal 25 April 1890, seperti dikutip oleh John Peter Turner dalam bukunya The North-West Mounted Police: 1873–93 (1950), antara lain sempat mengatakan :

What is life? It is a flash of a firefly in the night.
Apakah hidup itu ? Ia adalah pendar nyala kunang-kunang di waktu malam.

Nenek yang mendongeng tentang kunang-kunang itu berasal dari Kedunggudel, Sukoharjo. Namanya Jiah Martowirono. Ia nenek saya dan dongeng tentang kunang-kunang itu menjadi salah satu tema Reuni Trah Martowirono XXIII/2009, yang akan dilangsungkan 23 September 2009.

Lokasi : Museum Benteng Vredeburg, Djokdjakarta. Anak cucu-cicit Trah Martowirono, dari seantero Nusantara, bersiap melakukan Serangan Oemoem guna mendoedoeki selama Enam Djam di Djokdja. Cerita terkait dapat Anda klik di : http://trah.blogspot.com.

Surat-surat pembaca yang kita tulis, saya ibaratkan juga sebagai nyala kunang-kunang. Tidak semua orang akan merasa takjub atau mampu memahami sinar yang ia pancarkan. Tetapi bagi orang tertentu, bila terjadi “klik,” surat pembaca itu dapat menjadi cahaya yang bermakna bagi banyak orang.

Apalagi bila cahaya itu memiliki voltase yang tinggi. Misalnya memiliki relevansi, nilai-nilai moral, bukan slogan, tetapi ketukan yang mampu menyapa hati. Bagi saya, agar mampu menulis surat pembaca yang bervoltase tinggi itu, seringkali, mau tak mau harus merujuk kepada sumber-sumber cahaya yang tertentu. Utamanya : buku.

Maaf, sebagai pembaca surat-surat pembaca, saya kadang merasa kurang nyaman bila memergoki surat pembaca atau artikel yang merujuk kepada sumber tertentu tetapi ditulis dengan data bibliografi yang pincang. Misalnya data judul buku rujukan tidak ditulis, nama pengarang dikaburkan, dan tahun terbit disepelekan karena tidak dicantumkan.

Maaf lagi, iritasi ringan ini memang dipicu cara berpikir model digital. Semua ilmu pengetahuan itu harus tersambung, connected, sehingga dapat dicek dan di-ricek oleh orang lain, untuk sama-sama diuji kebenaran atau validitasnya. Jalan pikiran ini pula yang mendasari raksasa internet, Google, meluncurkan proyek gigantik : berusaha mendigitalkan semua buku-buku di dunia, sehingga bisa diakses oleh sesama umat manusia.

Syukurlah, ketidaknyamanan saya tentang data bibliografi itu masih kelas ringan kok. Karena dalam surat-surat pembaca, yang sering isinya menyangkut isu-isu aktual dan kurang dituntut adanya pendalaman, sehingga tidak terlalu menuntut hadirnya parade atau obral kutipan dari buku-buku (baru ?) tertentu.

Tetapi realitas semacam ini juga bisa sebagai tabir, untuk menutupi hal yang bisa (bila mau) diperdebatkan : apakah seorang penulis surat pembaca juga seorang maniak, pembaca buku, atau justru tidak menyukai buku ? Mungkin ini penilaian subyektif : bagi saya, rasanya selama ini, tidak mudah menemukan obrolan tentang sesuatu buku dalam surat-surat pembaca.

Akibatnya, salah satu cita-cita saya sebagai pendiri komunitas EI/Epistoholik Indonesia, sepertinya masih di awan. Gerakan menjadikan surat pembaca sebagai salah satu media untuk mem-buzzing info dan isi buku-buku (baru ?), kiranya masih belum memancarkan daya tarik optimal untuk memantik minat sesama warga komunitas EI ini.

Minimal untuk semakin meminati, mencintai buku. Sehingga sumber info, asupan bagi gelegak kawah intelektual kita, bukan kliping-kliping koran semata. Anda punya pendapat ? Saya tunggu.

Untuk menggelorakan cinta buku itu, walau seorang Jeff Gomez menerbitkan buku Print Is Dead : Books in Our Digital Age (2007, http://printisdeadblog.com), saya kini mencoba menghidupkan lagi blog buku saya yang lama terbengkalai.

Sekian dulu, obrolan dari Wonogiri. Setelah hiruk-pikuk Lebaran usai, saya punya PR. Menyiapkan makalah guna merayu mahasiswa baru agar memiliki wawasan baru betapa keterampilan menulis (surat pembaca, blog, artikel, surat cinta, sd surat lamaran) adalah senjata survival mereka dalam percaturan dunia datar yang mengglobal ini.

Sekolah Tinggi Manajemen dan Ilmu Komputer Sinar Nusantara, Solo, tanggal 30 September 2009, memberi saya podium untuk berbagi wawasan dengan mereka. Terima kasih untuk Sadrah Sumariyarso dari PasarSolo yang telah memberi saya kepercayaan yang mulia ini.

Bocoran : di depan mahasiswa itu saya akan bercerita tentang kisah sukses non-linear dari pacarnya Sherina, yang menulis buku berjudul Babi Ngesot : Datang Tak Diundang, Pulang Tanpa Kutang.

Hal lain : saya memimpikan bisa membaca buku baru, terbitan Harvard (2009), karya John Mullins dan Randy Komisar, Getting The Plan B : Breaking Through to a Better Business Model.

Isinya membahas rahasia dibalik sukses iPod-nya Apple, Skype sampai Paypal. Siapa tahu, dengan ditulis akan membuat impian ini lebih mudah direalisasikan.

Terakhir : Selamat Hari Raya Idul Fitri. Mohon Maaf Lahir dan Batin. Sejahtera bagi Anda semua dan keluarga.

Wassalam,


Bambang Haryanto

Sunday, September 13, 2009

Ancaman Penulis Surat Pembaca “Bodreks,” Pembakaran Buku dan Epistoholik Indonesia


Diposting untuk milis Epistoholik Indonesia, 9 September 2009


Salam episto ergo sum,

Semoga Anda semua sehat-sehat selalu. Selamat menjalankan Ibadah Puasa yang sudah mendekati akhir 10 hari yang kedua, bagi Anda yang menunaikannya.

Anda mengenal Pak Ambijo ? Kalau Anda sering menulis surat pembaca untuk Suara Merdeka, Anda akan sering memergoki tulisan beliau yang senantiasa bertopik tentang kotanya : Kebumen. Beliau tahun 2007 sempat kirim surat kepada saya, pakai mesin tulis di mana huruf “e”-nya hilang.

Bapak Ambijo (67) yang memiliki hobi membaca, menulis dan melukis, dalam suratnya, beliau yang pensiunan Bank BNI 1946 itu mengibarkan bendera sebagai epistoholik spesialis. Karena khusus memfokuskan tulisan-tulisannya untuk membahas seluk-beluk kota beliau. Spesialisasi ini membuat saya menjuluki beliau sebagai seorang e-place-toholik.

Kalau Anda punya waktu, obrolan tentang beliau, surat, dan juga foto beliau, dapat Anda klik dari posting saya berjudul “Reinventing Indonesia, Bengawan Solo dan Ide Kaum Epistoholik Yang Tidak Mengalir Sampai Jauh” di blog Esai Epistoholica edisi No. 47/Juli 2007.

Pak Ambijo baru saja menulis surat kepada saya. Ditulis tangan. Beliau mengabarkan hal yang menarik : baru saja meluncurkan komunitas penulis surat pembaca Kebumen. Namanya Forum Penulis Surat Pembaca Suara Merdeka Kebumen. Mohon saya minta tolong via Mas Udjie Prijatno, agar bisa Anda sampaikan kepada Pak Ambijo : bahwa saya mendukung dan memberikan penghargaan atas diluncurkannya komunitas ini.

Semoga misi komunitas intelektual jalanan, street smart intellectual a la Kebumen ini sukses. Saya juga menaruh salut kepada Pak Ambijo dan kawan-kawan yang berniat menularkan virus menulis surat pembaca kepada warga Kebumen. Hallo, warga EI, kapan virus gagasan dari Pak Ambijo ini juga mampu menular ke kota Anda ?

Tanggal 14 Agustus 2009, saya mencoba menularkan virus menulis (surat pembaca) kepada anak-anak Gunung Brengos, Nawangan, Pacitan. Mereka memiliki pancatan untuk mulai yang baik, karena surat-surat mereka itu yang ditujukan kepada Ibu Negara Ani Yudhoyono, terhimpun dalam sebuah buku, yang bagi saya gagah dan mewah.

Tentu, saya tidak yakin, ajakan saya itu akan berbuah segera. Ajakan itu sebuah investasi jangka panjang. Pendek kata, benih telah ditaburkan. Kalau Anda sempat melongoki situs Indonesia Buku, liputan dolan-dolan saya ke Pacitan itu didokumentasikan (plus bonus lainnya) di situsnya mBak Diana AV Sasa dan Muhidin M Dahlan dkk itu. Termasuk foto di bawah patung Jenderal Sudirman. Saya tambah teman baru : para penulis buku yang hebat-hebat itu.

Saking eratnya, walau baru kenal, saya rela ikutan mendukung dari jauh aksi demo mBak Diana AV Sasa dkk di Surabaya, 7/9/2009, untuk mengecam aksi barbar pembakaran buku, 2 September 2009 yang lalu. Di sidebar blog buku saya, saya ikut menulis poster dukungan untuknya.

Kabar lain, pagi tadi, saya ketamuan wartawan Tempo News Room, Ahmad Rafiq. Ia mau cari info seputar Jamu Jago, yang asal-muasal berkokoknya memang dari Wonogiri. Dinasti Suprana, berasal dari Wonogiri. Mungkin karena hal itu, komunitas EI jadi “lebih mudah” untuk tercatat di Rekor MURI akibat KKN berbau kedaerahan sentris ini ?

Obrolan dengan Mas Rafiq ini, memunculkan istilah “penulis surat pembaca bodreks.” Ia yang meluncurkan istilah itu. Saya kaget juga atas penemuan istilah yang menggigit ini.

Istilah ini merujuk kepada oknum penulis surat pembaca yang memiliki motif kurang terpuji, yaitu menggunakan kolom surat pembaca untuk melakukan black mail, pemerasan. Sasarannya adalah perusahaan, utamanya perusahaan yang memiliki produk atau jasa yang berada di “kawasan abu-abu.”

Artinya, produk itu memiliki sesuatu cacat, misalnya mengklaim memiliki prestasi sesuatu tetapi bila dikaji lebih lanjut sering tidak sesuai kenyataan, atau memiliki unsur atau kandungan yang berbahaya tetapi disamarkan. Nah, penulis surat pembaca yang cerdas dan julig itu, yang sekaligus memiliki motif kurang terpuji itu, dapat “menghantam” produsen produk-produk tersebut.

Kena “hantaman” di kolom surat pembaca, mereka jadi kelimpungan. Mereka, bos perusahaan itu lalu, biasanya, memilih berusaha main aman. Mereka akan bersilaturahmi dengan sang penulis surat pembaca, sambil membawa “oleh-oleh” tertentu. Nah, saya kuatirkan, sang penulis surat pembaca itu lalu bisa “pasang harga” atau “main gertak.”

Misalnya, dengan klaim bahwa dirinya memiliki “bala tentara” para penulis surat pembaca yang dapat mereka kerahkan untuk menguliti segala cacat cela sesuatu produk dan perusahaan tertentu itu. Pemerasan atas nama para penulis surat pembaca, saya kuatirkan akan terjadi. Apakah Anda rela bila skenario yang saya ceritakan itu telah terjadi ?

Saya yakin, komunitas yang dibentuk oleh Pak Ambijo, sama sekali tidak ada niatan untuk melakukan aksi penulisan surat-surat pembaca dengan motif tercela itu.

Saya sendiri ? Silakan membaca-baca surat-surat pembaca yang saya kirim ke media massa, lalu Anda bisa menentukan apakah ada motif terselubung aksi pemerasan di sebalik surat-surat pembaca saya. Silakan pula cermat membaca isi surat-surat pembaca dari para penulis lainnya.

Di EI ada kode etik tak tertulis, agar kita berusaha saling asah-asih dan asuh kepada warga lainnya. Mari kita saling bertegur sapa, demi kebaikan bersama. Antara lain dengan ringan tangan memberi kabar bila ingin melakukan sesuatu yang menyangkut nama baik komunitas kita bersama. Syukurlah, selama ini, baik-baik saja adanya.

Sekian dulu kabar dari Wonogiri. Selamat bergiat terus, menulis surat-surat pembaca. Salam episto ergo sum !


Sobat Anda,

Bambang Haryanto

Reuni dan Jasa Guru Kita


Dikirimkan sebagai surat pembaca ke Harian Kompas Jawa Tengah, 2 September 2009


Hari Raya Idul Fitri sering identik momen kegiatan reuni. Baik sesama mantan pelajar sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Dalam ajang silaturahmi itu sering juga diundang para mantan guru-guru mereka. Sungguh, kegiatan yang mulia dan membekaskan kenangan.

Sayang, reuni itu lebih banyak porsi pesta nostalgianya. Alangkah baiknya bila diberi sentuhan edukatif, misalnya dengan menghimpun kenangan para mantan siswa terhadap teman dan juga guru-guru mereka dalam bentuk buku atau blog. Teknologi kini memungkinkan kita menerbitkan buku secara print on demand atau blog di Internet yang relatif murah dan mudah.

Sekadar ilustrasi, dalam beberapa posting dalam blog, saya telah menulis tentang Pak Mufid Martohadmojo (foto : kiri), mantan guru bahasa Inggris saya di SMP Negeri 1 Wonogiri tahun 1969. Setelah berpisah puluhan tahun, suatu momen yang berkesan saat kami bisa bertemu di Perpustakaan Daerah Wonogiri. Walau sudah lama pensiun, beliau tidak berhenti untuk terus belajar.

Dalam reuni unik itu saya bisa gantian menjadi “guru” beliau. Dengan memanfaatkan akses Internet perpustakaan saya dapat menunjukkan apa saja yang telah saya tulis tentang beliau. Termasuk mencatat jasa beliau dalam menanamkan kecintaan terhadap bahasa Inggris sebagai sarana untuk mereguki luasnya khasanah ilmu pengetahuan dunia, yang lalu bisa disumbangkan kepada kemaslahatan bersama.

Selamat bereuni. Jangan lupa, dokumentasikan juga kenangan terhadap para guru-guru kita. Suatu umpan balik yang nilainya tidak seberapa bila dibandingkan dengan dedikasi guru-guru kita dalam mendidik kita di masa lalu.


Bambang Haryanto
Pendiri Epistoholik Indonesia
Wonogiri

Mudik Lebaran dan Sedekah Buku


Dikirimkan sebagai surat pembaca ke Harian Kompas Jawa Tengah, 2 September 2009


Hari Lebaran adalah magnet yang menggerakkan jutaan manusia untuk pulang mudik, penuh warna suka dan duka. Ritus kembali ke akar itu menyehatkan nurani pelakunya yang mencoba menemukan oasis di daerah asalnya sebagai bekal mengarungi kehidupan di tahun-tahun berikutnya. Jangan lupa, mudiknya mereka juga berdampak ekonomi. Uang dari kota menjadi beredar di desa-desa.

Merujuk fenomena positif itu memantik gagasan : bagaimana kalau mudiknya jutaan kaum mboro itu dirancang mampu menggoreskan sentuhan yang berdimensi intelektual yang berguna, juga awet, bagi warga daerah asalnya ? Ringkas kata : mereka dihimbau membawa buku-buku untuk disumbangkan ke perpustakaan di daerahnya. Baik perpustakaan sekolahnya dulu, atau perpustakaan umum di kotanya.

Gerakan mudik bersedekah buku ini sebaiknya juga berusaha dikobarkan ke dada anak-anak dan cucu kaum mboro itu. Sehingga mereka diharapkan memiliki ikatan batin dengan anak-anak segenerasinya yang tinggal di desa atau kota kecil tempat ayah-ibu atau kakek-neneknya berasal, yang mungkin tidak seberuntung kehidupan yang ia jalani di kota. Sedekah unik ini tidak hanya buku, bisa saja berupa komputer atau laptop, yang terbeli secara patungan.

Untuk sesama warga Epistoholik Indonesia, di mana pun Anda berada, mohon kampanye ini digencarkan sepanjang Ramadhan ini demi makmurnya perpustakaan dan mekarnya olah intelektualitas di kota-kota Anda.


Bambang Haryanto
Pendiri Epistoholik Indonesia
Wonogiri

Bangsa Sakit Megalomania


Dikirimkan sebagai surat pembaca ke Harian Kompas Jawa Tengah, 1 September 2009


Akhir-akhir ini bangsa Indonesia tercekik budaya megalomania, kecenderungan kita untuk membesar-besarkan bahkan mengagung-agungkan sesuatu wacana dan peristiwa.

Misalnya, terkait penyanyi mBah Surip. Kita dibuat heboh seputar besarnya royalti, bahkan dalam bilangan milyaran rupiah, untuk karyanya setelah dia meninggal. Tetapi akhirnya, dalam bahasa Jawa mak plekethis, ternyata royalti itu tak sebesar dalam kehebohan semula.

Kemudian kita ingat ingar-bingar di benak kita saat menonton langsung siaran penyergapan terhadap pelaku tindak terorisme di Temanggung. Hebohnya memekakkan telinga, walau ternyata yang tewas bukan Noordin M Top. Terakhir, khayalan pun kita melambung ketika wakil Indonesia dalam kontes Miss Universe, Zizi L. Siregar, disebut-sebut sebagai favorit, tetapi akhirnya ia pun pulang dengan tanpa gelar sama sekali.

Biang kerok merebaknya budaya megalomania itu, ya siapa lagi, kalau bukan pejabat kita. Ketika kepopuleran adalah mantra ajaib untuk meraih kekuasaan, dari wakil rakyat sampai presiden, semua orang ingin menjadi selebritis. Suka ritus, karnaval dan perayaan, seperti ritus selebritis yang menu kehidupannya adalah festival kehebohan.

Tetapi buaian demi buaian dari angan-angan yang jauh panggang dari api dari kenyataan itu akan mudah memicu kita menjadi kecewa. Mereka yang kecewa, mereka yang merasa sakit itu, bila disuntik ajaran-ajaran yang bernuansa ke-Ilahian yang juga mengawan, yang mereka rasa mampu membebaskan rasa kecewanya di dunia, maka berbarislah calon-calon baru pelaku tindak terorisme yang siap menghantui kita-kita semua !


Bambang Haryanto
Pendiri Epistoholik Indonesia
Wonogiri 57612

Menulis Untuk Mencerdaskan


Dimuat di kolom Surat Pembaca
Harian Kompas Jawa Tengah,
Senin, 31 Agustus 2009 : D


Esensi pendidikan adalah mempersiapkan anak didik agar mereka terus mampu belajar, sepanjang hayat. Perkembangan iptek yang cepat membuat pengetahuan dan keterampilan tiap individu juga cepat sekali usang, walau sering tidak kita sadari.

Salah satu cara belajar yang terbaik adalah menulis, karena menulis mempersyaratkan pelakunya harus juga membaca. Pembaca tidak selalu penulis, tetapi penulis pastilah seorang pembaca.

Merujuk hal penting di atas, saya menaruh salut atas kreasi guru dan murid SD Muhammadiyah Program Khusus Kotabarat Solo. Mereka mengadakan lomba menulis surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Jumat (21/8). Ratusan surat-surat mereka itu ditempel pada spanduk putih dan surat yang terbaik akan dikirimkan kepada Presiden SBY.

Sebagai penggerak komunitas penulis surat pembaca, Epistoholik Indonesia, saya usulkan agar semua surat mereka itu didokumentasikan dalam bentuk CD atau buku dan disimpan di perpustakaan sekolah. Sehingga dokumen berharga itu tidak hanya berumur sehari.

Sekadar info, tanggal 14 Agustus 2009, saya diminta untuk memberikan motivasi kepada ratusan anak-anak pelajar, SD sd SLTA, Desa Pakisbaru, Nawangan, Pacitan. Mereka telah mendokumentasi surat-surat mereka yang ditujukan kepada Ibu Negara Ani Yudhoyono dalam bentuk buku yang menarik sebagai bacaan.

Kreasi mereka pantas ditiru dan Epistoholik Indonesia senantiasa menyebarkan virus kegemaran menulis ini, yang dimulai dari menulis surat, untuk menggembleng generasi Indonesia agar cinta kegiatan menulis dan membaca demi terus mengasah kecerdasan diri mereka. [Dalam pemuatan surat pembaca ini telah dilakukan penyuntingan].


Bambang Haryanto
Pendiri Epistoholik Indonesia
Wonogiri

Thursday, August 27, 2009

Being Digital Sampai Surat Cinta Berabjad Rusia : Wawancara


Wawancara tertulis Bambang Haryanto oleh Redaktur Indonesia Buku, Diana AV Sasa, 21 Agustus 2009


Catatan : Media digital adalah media limpah ruah. Anasirnya yang terbuat dari sinyal-sinyal elektronik, tidak terbatas keberadaan maupun stoknya untuk mampu dieksploitasi setinggi imajinasi yang dapat dijangkau oleh manusia.

Suatu karunia, saya sebagai seorang epistoholik, mendapat kehormatan untuk menjadi subjek wawancara Redaktur Indonesia Buku, Diana AV Sasa. Hasil akhirnya berupa tulisan berjudul Bambang Haryanto: Membaca dan Menulis Seperti Donor Darah. Tulisan yang komprehensif.

Sesuai dengan fitrah media digital dan berniat mengunggah limbah atau cipratan-cipratan warna yang tersisa dari tulisan di atas, dalam blog ini saya sajikan jawaban saya secara penuh dalam wawancara melalui email tersebut. Semoga bisa melengkapi lanskap yang telah ada (BH).

Informasi terkait :

  • Bambang Haryanto: Membaca dan Menulis Seperti Donor Darah
  • Inilah 5 Buku Favorit Presiden Epistoholik Indonesia
  • Kaum Epistoholik Punya 5 Blog Tongkrongan
  • Virus Obama Menyebar di Puncak Brengos
  • Surat dari Presiden Rakyat Epistoholik



  • Sejak kapan senang menulis ? Jawab : Sejak SMP, sekitar tahun 1968. Saya mengirimkan lelucon ke majalah Kartika Chandrakirana, majalahnya ibu saya (Sukarni) sebagai istri TNI-AD. Lelucon saya dimuat, mendapatkan honor. Rp. 200,00. Bonusnya : tak jarang ibu saya mengungkap kembali lelucon yang saya tulis itu dalam pertemuan keluarga. Saya malu mendengarnya, tapi ya, senang juga.

    Sebelum momen itu, menulis surat dan menulis reportase pertandingan sepakbola. Surat itu surat cinta (monyet), berbahasa Indonesia tetapi abjadnya Rusia. Kebetulan ayah saya saat itu dengar-dengar mau dikirim belajar ke Rusia, ia belajar otodidak, dan saya ikut membaca-baca buku pelajarannya.

    Sementara yang reportase, sesudah menguping radio tetangga saat siaran pertandingan sepakbola, saya tergerak untuk menuliskannya. Walau untuk dibaca-baca sendiri. Isi majalah Ibu saya itu juga memicu saya untuk menulis cerpen, kisah tentara gerilya dan kekasihnya. Tapi tak selesai. Di SMP Negeri 1 Wonogiri, ketika puisi saya dipajang oleh guru saya di papan majalah dinding, itu momen yang menggetarkan saya.

    Biasanya menulis apa ? Macam-macam, sampai saat ini. Waktu SMP dan STM Negeri 2 Yogyakarta, saya menulis lelucon untuk majalah Aktuil dan Varia Nada. Waktu kuliah di IKIP Surakarta (saat itu)/UNS Sebelas Maret, pernah menulis artikel sosial di majalahnya ITB, Scientiae. Pernah menjadi wartawan lepas, menulis tentang musik dan teater di Solo. Juga mengirim berita budaya ke Kompas sampai menulis cerpen ke Sinar Harapan dan majalah Gadis.

    Saat ini, saya pernah menulis di kolom Teroka-nya Kompas tiga kali : dua bertopik komedi dan satunya, sepakbola. Topik terakhir ini juga pernah saya tulis di Tabloid BOLA. Topik media sosial di Internet dan terorisme, baru saja muncul di harian Solopos, Solo. Dua buku kumpulan lelucon, terbit tahun 1987. Tentu saja, sejak 1973, terus saja menulis surat-surat pembaca.

    Apa fungsi/manfaat menulis buat Anda ? Dengan menulis, kita mengekpresikan gagasan dan jati diri. Episto ergo sum. Saya menulis (surat pembaca) karena saya ada. Manfaat menulis adalah membuat karunia Allah yang paling demokratis dan ada di antara kedua kuping kita itu berfungsi baik, syukur bila berfungsi sebaik-baiknya.

    Menulis juga bermanfaat bagi kesehatan. Dengan menulis, saat kita berderma pengetahuan, justru akumulasi pengetahuan yang ada pada diri kita bertambah awet dan bertambah banyak ketika kita membagikannya.

    Tahun 1999 ketika saya menjadi finalis Lomba Karya Tulis Teknologi Telekomunikasi dan Informasi (LKT3I)-nya Indosat di Jakarta, saya ingat wejangan mantan Hakim Agung Bismar Siregar. Beliau bilang, mengutip Al Quran, bahwa setetes tinta dari penulis itu lebih mulia dibanding darah yang tercurah dari para syuhada. Sayang, sampai saat ini saya belum memperoleh rujukan dari ayat mana dari Al Quran yang meneguhkan pernyataan menggetarkan dari beliau itu.

    Mengapa memilih menulis surat pembaca ? Topiknya mutakhir. Bisa segera “diledakkan” dan bahkan segera pula melihat hasil atau dampaknya. Tahun 1973, ketika melihat sederetan pohon palem muda tak terurus, kering dan merana di Alun-Alun Utara Solo. Hal itu saya tulis di Suara Merdeka. Setelah dimuat, tanaman itu nampak disirami dan terawat. Momen ini yang menuntun diri saya menjadi seorang epistoholik, pencandu penulisan surat-surat pembaca. Sampai kini.

    Seberapa sering menulis surat pembaca ? Tergantung topik dan suasana hati. Saya pernah menulis surat pembaca, sekali kirim 8 surat pembaca. Ini taktik agar ngirit, karena koran bersangkutan saat itu masih gaptek, tidak mau menerima surat pembaca via email. Untuk yang mau menerima kiriman surat pembaca via email, biasanya saya kirim 3 surat sekali kirim.

    Dikirim ke mana saja ? Ketika saya tinggal dan berkuliah di UI, Jakarta, saya kirimkan ke The Jakarta Post, Kompas, Pelita, Jayakarta, Media Indonesia, Sinar Harapan, Suara Karya, beragam tabloid dan juga beragam majalah berita plus majalah hiburan.

    Saat tinggal di Wonogiri sekarang ini, saya mengirimkannya ke Kompas Jawa Tengah. Kadang ke Kompas Jawa Timur. Ada koran di Jawa Tengah yang sepertinya memboikot surat-surat pembaca saya, jadi saya kini tak mengirimkan ke sana. Tak apa-apa. Toh saya kini mengelola beberapa blog dengan topik beragam. Jadi energi menulis surat pembaca ke koran itu, tetap tersalurkan melalui blog-blog saya.

    Dimana kepuasannya ? Seperti kata Presiden AS ke-15, James Buchanan, yang bilang “Saya suka gaduhnya demokrasi,” maka surat pembaca saya itu berusaha ikut meramaikan karnaval kegaduhan demokrasi di Indonesia kita. Dengan cara yang elegan, melalui tulisan. Adu otak, bukan adu otot.

    Menulis surat pembaca itu, bagi saya, seperti tetesan air di permukaan batu. Kalau terus saja menetes, permukaan batu itu kelak akan menjadi berlubang, tak terasa. Dalam bahasa pemasaran, menulis surat pembaca itu merupakan strategi personal branding, menancapkan merek diri kita sendiri. Dengan frekuensi pemuatan yang bisa lebih sering dibanding pemuatan opini, aksi berderma ilmu yang dilakukan dengan cinta itu akan membuahkan sesuatu umpan balik yang tak terkirakan di masa depan.

    Topik apa saja yang ditulis di surat pembaca ? Saya penulis surat pembaca kelas omnivora, pemamah segala hal. Kebetulan saya dididik di perguruan tinggi yang khusus mengkaji seluk-beluk informasi, membuat diri saya mampu sebagai a hound dog (bisa juga : hound docs) yang terlatih dalam memburu dan menemukan informasi. Dengan keterampilan ini saya menjadi terbantu untuk mampu menulis surat pembaca segala topik.

    Apa bedanya menulis di surat pembaca dan kolom opini ? Menulis surat pembaca adalah menulis ledakan. Harus pendek, menggigit dan pesannya segera sampai. Sementara menulis opini membutuhkan renungan yang lebih panjang, disiplin berpikir yang lebih ketat dan teratur. Lebih sering ditolak, kadang alasannya bikin jengkel dan menyiutkan nyali untuk menulis lagi. Keduanya pernah dan terus saya jalani sampai kini.

    Apa cita-cita tertinggi mengenai surat pembaca ? Sebagai pendiri komunitas penulis surat pembaca, Epistoholik Indonesia, saya ingin setiap orang itu menjadi penulis surat pembaca yang merangkap sebagai blogger juga. Fenomena ini ideal dan bagus bagi demokrasi.

    “Dengan mata yang cukup, kutu pun bisa ditemukan dengan mudah.” Demikian bunyi Hukum Linus, yang diambil dari nama Linus Torvald, penemu piranti lunak open source Linux yang fenomenal. Ia sengaja membuka kode peranti lunaknya itu kepada masyarakat luas sehingga dapat segera ditemukan kutu-kutunya, yaitu cacat, kekurangan, dan kemudian upaya ramai-ramai memperbaikinya.

    Bila semua warga menjadi pelaku jurnalisme warga, mekanisme check and balances dalam kehidupan bernegara, menjadi berjalan. Asal anomali parah seperti kasus yang menimpa Prita Mulyasari dan Khoe Seng Seng dkk. itu tidak terjadi lagi, di mana mereka yang menemukan “kutu-kutu” ketidakadilan dan kecurangan justru terancam ditendang masuk penjara.


    Suka baca buku ? Buku apa yang disuka ? Sebutkan judul dan penulisnya bila ingat. Ya. Saat ini saya suka buku-buku mengenai teknologi informasi (TI). Salah satu buku TI yang inspiratif adalah Being Digital (1995), karya Nicholas Negroponte. John Hagel III dan Arthur G. Armstrong, NetGain (1997), The Tipping Point (2000) karya Malcolm Gladwell, sampai Unleashing The IdeaVirus (2001) karya Seth Godin.

    Sejak kapan suka baca buku ? Saat klas 4-5 SD, tahun 1963-1964, di SD Negeri Wonogiri 3, Wonogiri.

    Buku-buku apa yang dibaca semasa dulu itu ? Komik semisal cerita Baratayudha dan Siti (Wonder Woman) Gahara. Serial Nogososro-Sabuk Inten, yang paling berkesan, karena selain cerita yang menarik, dan proses pembeliannya melibatkan hubungan unik ayah dan anak.

    Ayah saya bertugas di Yogya, setiap Sabtu pulang ke Wonogiri. Kalau ada buku yang ingin saya baca, saya tulis di carik kertas data bukunya, lalu diam-diam saya masukkan ke kantong baju beliau. Minggu depan, saya berharap memperoleh bacaan baru, ketika ayah saya pulang. Saya mengikat cinta dan hormat saya terhadap ayah saya (Kastanto Hendrowiharso) melalui buku dan buku.

    Siapa yang mengenalkan pada membaca ? Sebelum SD, di rumah nenek saya di Kedunggudel, Sukoharjo, ada Pak Lurah mengajak saya untuk melihat papan peraga yang digunakan para tuna aksara, warga buta huruf, untuk belajar membaca.

    Di rumah nenek ini ada tumpukan buku dan majalah Sosiawan (Depsos) dan Penyebar Semangat milik Pakde (Sutono) yang seorang guru. Bacaan itu yang membuat kunjungan ke rumah nenek itu sebagai kegiatan favorit. Ayah saya juga suka mendongeng, dan di rumah kebetulan ada juga koran tetapi tidak ada bacaan.

    Apa makna membaca bagi Anda ? Membuka diri untuk memperoleh virus-virus wawasan baru. Untuk terus-menerus mendidik diri sendiri. Saya ingat nasehat John Howkins dalam bukunya The Creative Economy : How People Make Money From Ideas (2001), yang bilang agar kita selalu memperbarui diri sendiri.”Leave school early, if you want, but never stop learning,” tegasnya.

    Sekarang seberapa sering membaca ? Setiap hari, walau yang saya baca itu bukan melulu buku. Informasi hasil unduhan dari Internet kini semakin mendominasi asupan informasi bagi saya.

    Apakah membaca membantu Anda dalam menulis ? Pasti. Menulis dan membaca itu, bagi saya, seperti aktivitas metabolisme dalam tubuh. Dengan menulis, saya seperti melakukan aksi donor darah. Darah saya disedot secukupnya, syukur-syukur kalau bisa secara teratur. Kemudian saat saya membaca, seolah saya memperoleh darah-darah yang baru untuk mengalir di tubuh saya.

    Lima buku favorit ? Seperti saya sebut sebelumnya, antara lain Being Digital (1995) karya Nicholas Negroponte, John Hagel III dan Arthur G. Armstrong, NetGain (1997), The Tipping Point (2000) karya Malcolm Gladwell, sampai Unleashing The IdeaVirus (2001) karya Seth Godin, sampai The Long Tail (2006)-nya Chris Anderson.

    Diantara 5 buku itu mana yang paling menjadi titik kisar dalam hidup? Ceritakan singkat. Being Digital (1995) dari Nicholas Negroponte. Bagi saya, inilah buku TI yang mampu membuat saya menitikkan air mata, sekaligus bangga untuk selalu dan berulang kali menceritakannya.

    Dalam satu artikel di majalah Forbes, Negroponte yang pelopor gerakan One Laptop For Child itu, mengatakan bahwa Internet adalah gempa bumi berkekuatan 10,5 Skala Richter yang mengguncang-guncang sendi-sendi peradaban manusia.

    Buku ini mengantar saya, selain berpikir secara analog, juga membuka cakrawala yang lebih luas dan menantang dalam mencari dan menemukan solusi segala macam masalah dengan cara-cara budaya digital. Kasus Prita itu kasus digital, tetapi solusinya secara analog oleh fihak RS Omni.

    Akibatnya, yang mungkin tidak mereka rasakan, tindakan mempidanakan Prita itu membuat citra dirinya (RS Omni itu) justru hancur lebur dalam ingatan abadi masyarakat yang terekam dalam kenangan digital kita bersama, yang tak bisa terhapuskan selamanya.

    Buku ini membuat saya menangis karena memberi ilham dari sikap optimistis Negroponte bahwa gaya hidup digital akan memberikan kesejahteraan bagi umat manusia.

    “Yang mampu memberikan kebahagiaan puncak, bukanlah karena buku saya ini menjadi best-seller di mana-mana, tetapi ribuan email yang saya terima dalam tahun-tahun terakhir ini. Para orang tua mengucapkan terima kasih kepada saya ketika menjelaskan apa yang dikerjakan oleh anak-anak mereka kini dan mungkin yang akan datang.

    Para kaum muda mengucapkan terima kasih karena tertular antusias saya. Tetapi kepuasan nyata dan ukuran keberhasilan yang paling bermakna adalah ibu saya yang berumur 79 tahun, sekarang ini mengirimi email kepada saya setiap harinya.”

    Alinea terakhir dari buku Being Digital ini yang mampu membuat saya menangis. Sekaligus bangga untuk selalu saja ingin menceritakannya.


    Wonogiri, 21/8/2009

    beha